Minggu, 17 Mei 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Fasilitas Pengelolaan PCBs Non Thermal Pertama, Ini Bahayanya Terkontaminasi Senyawa PCBs

Peristiwa Kanemi Yusho di Jepang pada 1968 menjadi pembelajaran penting menjaga lingkungan dan mata rantai makanan manusia dari terkontaminasi senyawa PCBs yang terdapat pada trafo dan kapasitor listrik.

Jumat, 19 Mei 2023
A A
Bahaya senyawa PCBs salah satunya pigmentasi pada manusia hingga kematian. Foto ilustrasi victoria_regen/pixabay.com.

Bahaya senyawa PCBs salah satunya pigmentasi pada manusia hingga kematian. Foto ilustrasi victoria_regen/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Indonesia kini memiliki fasilitas pengelolaan senyawa Polychlorinated Biphenyls atau Bifenil Poliklorinasi (PCBs) non thermal. Ini merupakan fasilitas pertama dan satu-satunya di Tanah Air dalam pengelolaan limbah tercemar senyawa PCBs dengan metode tanpa pembakaran.

PCBs adalah senyawa yang sangat berbahaya dan beracun yang saat ini masih terdapat pada trafo dan kapasitor listrik, terutama pada minyak dielektrik (oli) yang terkandung di dalam kedua peralatan tersebut. PCBs telah terbukti menyebabkan berbagai jenis kanker [karsinogenik], kerusakan syaraf, gangguan sistem pencernaan, memicu kemandulan dan ketidakseimbangan hormon.

Dalam dosis yang tinggi, PCBs dapat menyebakan kematian dan keracunan massal seperti terjadi di Jepang pada tahun 1968 yang dikenal dengan peristiwa Kanemi Yusho, minyak beras yang diketahui terkontaminasi senyawa PCBs.

Baca Juga: Kasus Pencemaran Lingkungan, GM dan Direktur PT SIPP Terancam 10 Tahun Bui

Tercatat 15.000 penduduk di wilayah utara Kyushu Jepang, menderita pigmentasi pada kulit, peningkatan angka kematian janin, serta tercatat sebanyak 400.000 kasus kematian ternak unggas.

Sebelas tahun kemudian peristiwa terkontaminasi senyawa PCBs melanda Taiwan tengah pada 1979 dan 1980. Dilaporkan sebanyak 1.843 kasus dengan gejala penyakit yang sama dengan peristiwa Kanemi Yusho.

Kasus terkontaminasi senyawa PCBs di Taiwan ini menyerang pada kelompok usia 11 hingga 20 tahun, serta bayi yang baru dilahirkan dengan gejala hiperpigmentasi dari ibu yang terkontaminasi PCBs.

Baca Juga: Walhi: Make Mercury History Hanya Jadi Jargon Apabila Tak Sentuh Akar Masalah

Selain membahayakan bagi manusia, lingkungan yang tercemar PCBs sulit dihancurkan secara alami. Hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kementerian LHK) mengungkap, adanya pencemaran PCBs di Sungai Citarum, Ciliwung dan Cisadane, yang berdampak pada puluhan jenis ikan konsumsi di sungai dan pesisir laut Indonesia, bahkan telah terdeteksi pada air susu ibu di beberapa kota di Jawa dan Sumatera.

Saat ini diperkirakan 10 persen dari minimal 1,2 juta unit trafo aktif yang dimiliki oleh industri di Tanah Air, terutama dari sektor yang membutuhkan dan mengelola energi listrik besar seperti industri pembangkitan, minyak dan gas, kimia, pulp dan kertas, besi baja, pertambangan serta manufaktur, diduga terkontaminasi PCBs dengan total potensi limbah sebesar lebih dari 800.000 ton yang sebagian besar bersumber dari kontaminasi silang PCBs, yaitu ketika trafo bersih terjangkit PCBs dari trafo lain yang terkontaminasi.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3) Rosa Vivien Ratnawati mengemukakan, Indonesia kini memiliki fasilitas pengelolaan PCBs non thermal pertama.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Kanemi Yushokapasitor listrikKementerian LHKlimbah B3Pencemaran lingkungansenyawa PCBsterkontaminasi PCBstrafoUNIDO

Editor

Next Post
Harimau sumatera yang jadi korban jerat. Foto ppid.menlhk.go.id.

Ini Bahaya Jerat Babi di Pasaman

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi kualitas udara di kota besar yang memburuk. Foto Yamu_Jay/Pixabay.com.Walhi: Pantauan Kualitas Udara Lima Kota Besar Indonesia Memburuk
    In News
    Rabu, 13 Mei 2026
  • Ilustrasi tikus pembawa virus. Foto Bergadder/Pixabay.com.Mengenal Hantavirus, Penyakit Zoonosis dengan Rantai Penularan Utama dari Tikus
    In Rehat
    Rabu, 13 Mei 2026
  • Mengapati dan mendokumentasikan letusan Gunung Sakurajima di Jepang pada 2013 dari jauh. Foto Dok. Mirzam Abdurrachman.Erupsi Dukono, Pentingnya Pemahaman Risiko dan Peringatan Dini yang Mudah Dipahami
    In Rehat
    Selasa, 12 Mei 2026
  • Salah satu jenis anggrek Merapi. Foto Dok. TNG Merapi.Anggrek Merapi, Beraroma Wangi dan Mampu Bertahan Saat Erupsi
    In Rehat
    Selasa, 12 Mei 2026
  • Ilustrasi ,krisis air bersih. Foto Andres_maura_ph/Pixabay.com.Pemerintah Harus Antisipasi Krisis Sampah dan Air Bersih Dampak Godzilla El Niño 2026
    In Lingkungan
    Senin, 11 Mei 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media