Wanaloka.com – Usai menggarap film dokumenter bekerja sama dengan PT Harita yang berjudul “Ngomi O Obi” yang mengulas ‘praktik baik’ pertambangan nikel di Maluku Utara, TEMPO TV kembali membuat film dokumenter tentang nikel. Berkerja sama dengan Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER) meluncurkan film dokumenter tentang bahaya limbah nikel berjudul “Limbah Nikel dan Mimpi Energi Bersih”.
Film yang tayang di kanal YouTube Tempo TV pada 15 Agustus 2025 ini menampilkan bukti visual dari masyarakat terdampak, serikat pekerja, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil. Rekaman mencakup air yang terkontaminasi logam berat, tumpukan tailing di darat yang rawan longsor, kasus kecelakaan kerja fatal, hingga analisis ahli terkait risiko bocornya limbah nikel ke ekosistem laut dan pesisir.
“Kami melakukan peliputan selama sepekan di Morowali dan memverifikasi kedekatan narasumber dengan proyek tambang serta besarnya dampak yang mereka rasakan,” kata George William Piri dari Tempo TV dalam jumpa pers daring, Rabu, 13 Agustus 2025.
Baca juga: Spirit Api dalam Sistem Perladangan Berputar Bergeser Jadi Cara Mudah Membuka Lahan
Menurut dia, masyarakat setempat dipaksa hidup berdampingan dengan nikel, bahkan ada yang tanahnya kini terkurung bangunan kawasan IMIP hanya dengan pembatas seng.
“Ini ironi keamanan dan keselamatan di pusat pengolahan nikel terbesar di Asia,” kata George.
Peluncuran film ini berdekatan dengan Annual Indonesia Green Industry Summit (AIGIS) 2025 yang berlangsung 20–22 Agustus di JICC Jakarta, bertema “Mendorong Dekarbonisasi Industri melalui Ekosistem Industri Hijau.” Di tengah diskusi strategi dekarbonisasi, film ini menjadi peringatan bahwa transisi energi hijau tak boleh mengorbankan kelompok rentan dan kelestarian ekosistem.
Baca juga: Cegah Diabetes dan Obesitas, Konsumsi 2-3 Sendok Teh Gula Pasir dan Perbanyak Buah
FIlm dokumenter ini mengajak publik, pembuat kebijakan, dan pelaku industri untuk melihat lebih dalam dan memastikan transisi energi Indonesia dibangun di atas prinsip keadilan ekologis dan sosial, bukan semata mengejar target ekonomi.
Masifnya limbah nikel
Indonesia adalah produsen nikel terbesar dunia dengan kontribusi 54–61 persen pasokan global yang diproyeksikan meningkat hingga 74 persen pada 2028. Pemerintah Indonesia sering mengklaim nikel sebagai kunci transisi energi global.
Namun, di balik narasi optimisme hilirisasi tambang, mengintai ancaman yang jarang disorot, yakni limbah beracun industri nikel yang mengancam lingkungan dan kesehatan manusia.
Baca juga: Koalisi Tolak Penambangan Gamping di Kawasan Karst Sagea di Halmahera Utara
Di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah, risiko kerusakan lingkungan dan keselamatan kerja akibat penambangan nikel terus meningkat. Mulai dari pencemaran air dan udara, deforestasi dan kerusakan habitat pesisir, konflik agraria, hingga kecelakaan kerja dalam pengelolaan tailing atau limbah sisa pemrosesan bijih nikel.
Sepanjang Maret 2025, terjadi dua insiden besar mengancam kawasan IMIP. Pada 16 Maret, fasilitas milik PT Huayue Nickel Cobalt jebol dan mencemari Sungai Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah. Enam hari kemudian, longsor di fasilitas PT QMB New Energy Material menewaskan tiga pekerja.
“Kasus seperti ini menunjukkan lemahnya tata kelola dan pengawasan,” ujar Peneliti AEER, Anto Sangaji.
Discussion about this post