Jumat, 26 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Suwardi, Jika Gurun Pasir Bisa Dihijaukan, Lahan Marginal Indonesia pun Bisa Dipulihkan

Kuncinya adalah memadukan inovasi teknologi tanah, kemauan politik, dukungan industri, dan partisipasi aktif petani.

Sabtu, 16 Agustus 2025
A A
Guru Besar Pertanian IPB University. Foto @suwardi_soil/instagram.

Guru Besar Pertanian IPB University. Foto @suwardi_soil/instagram.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Setiap tahun, sekitar 140 ribu hektare lahan pertanian produktif hilang akibat alih fungsi menjadi kawasan industri, perumahan, dan infrastruktur, mengancam ketahanan pangan nasional.

Saat ini, hampir 82 persen daratan Indonesia atau sekitar 157 juta hektare tergolong lahan marginal dengan produktivitas rendah akibat kendala fisik, kimia, dan biologi tanah.

“Inovasi teknologi tanah dinilai menjadi kunci untuk mengubah jutaan hektare lahan marginal di Indonesia menjadi sumber pangan produktif dan berkelanjutan,” ungkap Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof, Suwardi dalam acara Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Kamis, 14 Agustus 2025.

Baca juga: Film Dokumenter tentang Bahaya Limbah Tailing Nikel di Morowali Diluncurkan

Teknologi tanah memegang peran sentral dalam pertanian regeneratif. Sistem ini dapat memulihkan kesehatan tanah, meningkatkan keanekaragaman hayati, menjaga kestabilan iklim, dan memproduksi pangan secara berkelanjutan.

“Jika gurun di belahan dunia lain dapat dihijaukan, lahan marginal Indonesia pun bisa dipulihkan,” kata dia optimistis.

Kuncinya adalah memadukan inovasi teknologi tanah, kemauan politik, dukungan industri, dan partisipasi aktif petani.

Baca juga: Spirit Api dalam Sistem Perladangan Berputar Bergeser Jadi Cara Mudah Membuka Lahan

Lebih dari dua dekade ia melakukan penelitian soal itu. Hasilnya berupa inovasi pemulihan tanah, seperti penggunaan kompos, kapur, biochar, bahan humat, dan zeolit. Kombinasi teknologi ini membuah hasil positif.

Teknologi ini terbukti meningkatkan hasil padi di tanah sulfat masam di Jambi dari 1–2 ton/ha menjadi 5–6 ton/ha. Bahkan mengoptimalkan lahan gambut dan bekas tambang untuk kelapa, kelapa sawit, dan hutan tanaman industri.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: inovasi teknologilahan marginalProf. Suwardi

Editor

Next Post
Warga Bobo di Kabupaten Halmahera Selatan menolak ekspansi penambangan nikel ke desanya, 14 Agustus 2025. Foto Gerakan Save Bobo.

Warga Bobo di Halmahera Selatan Menolak Ekspansi Penambangan Nikel

Discussion about this post

TERKINI

  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Para pejabat menunjukkan peta calon lokasi bandar antariksa di Distrik Biak Utara yang mengancam wilayah adat Warbon. Foto Istimewa.LBH Papua Nilai Rencana Pembangunan Bandar Antariksa di Wilayah Adat Warbon Cacat Hukum
    In Lingkungan
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Ilustrasi tawon yang berkoloni. Foto jcbeni.Pixabay.com.Tawon yang Berkoloni Mengenali Wajah Manusia yang Mengganggunya
    In IPTEK
    Jumat, 19 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media