Sabtu, 26 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Hefni Effendi: Jasa Ekosistem untuk Menilai IKLH Harus Dirumuskan Dulu

Jasa ekosistem diperlukan untuk menilai kualitas lingkungan. Perlu kajian literatur yang intensif, brainstorming para pakar, serta benchmarking ke negara-negara yang punya konsep penilaian jasa ekosistem.

Kamis, 21 September 2023
A A
Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) FPIK IPB University, Prof Hefni Effendi. Foto pplh.ipb.ac.id.

Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) FPIK IPB University, Prof Hefni Effendi. Foto pplh.ipb.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Berbagai macam jasa ekosistem tersebut hendak dikuantifikasi dan dinilai kecenderungannya secara temporal dan spasial. Mengingat luasnya spektrum jasa ekosistem, konsep dasar penilaian jasa ekosistem perlu dirumuskan terlebih dahulu. Sebab jasa ekosistem ada yang bersifat tangible (berwujud dan dapat dimanfaatkan secara langsung) serta intangible yang tak dapat dimanfaatkan secara langsung dan butuh effort tambahan untuk mengkuantifikasi.

Jasa intangible tidak berwujud, tetapi dapat dirasakan kebermanfaatannya secara nyata. Jasa ekosistem yang secara jelas berwujud adalah jasa penyediaan (provisioning) karena dapat dipanen secara langsung.

Baca Juga: Budi Setiadi: Teknologi AI Berperan Mengelola dan Melestarikan Sumber Hayati

Sementara jasa pengaturan (regulating), kultur (cultural), dan penyokong (supporting) adalah bentuk jasa ekosistem yang manfaatnya tidak dapat dipanen secara langsung. Namun dirasakan faedahnya secara signifikan.

“Jadi dalam konsep penilaian jasa ekosistem, apakah keempat jasa ekosistem tersebut yang hendak dinilai? Atau hanya jasa tangible saja yang akan dikuantifikasi? Ini yang perlu dirumuskan dahulu,” tambah Hefni.

Selain itu, perlu kajian literatur yang intensif, brainstorming para pakar, serta benchmarking ke negara-negara yang punya konsep penilaian jasa ekosistem.

“Ketika negara kita memiliki mekanisme penilaian jasa ekosistem (lingkungan), hasilnya bisa diperbandingkan dengan negara lain, karena telah menggunakan platform atau basis variabel penilaian yang serupa,” jelas Hefni. [WLC02]

Sumber: IPB University

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Indeks Kualitas Lingkungan HidupIPB Universitypenilaian jasa lingkunganProf. Hefni Effendi

Editor

Next Post
Episenter gempa 6,6 magnitudo Laut Banda, Maluku, pada Jumat, 22 September 2023, pukul 21.59 WIB. Foto Google Earth berdasarkan koordinat pusat gempa BMKG.

Gempa 6,6 Magnitudo Laut Banda Maluku, Ini Analisis BMKG

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media