Minggu, 28 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Hefni Effendi: Jasa Ekosistem untuk Menilai IKLH Harus Dirumuskan Dulu

Jasa ekosistem diperlukan untuk menilai kualitas lingkungan. Perlu kajian literatur yang intensif, brainstorming para pakar, serta benchmarking ke negara-negara yang punya konsep penilaian jasa ekosistem.

Kamis, 21 September 2023
A A
Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) FPIK IPB University, Prof Hefni Effendi. Foto pplh.ipb.ac.id.

Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) FPIK IPB University, Prof Hefni Effendi. Foto pplh.ipb.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi, Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) tengah merancang upaya penilaian jasa lingkungan sebagaimana penilaian kinerja kualitas lingkungan. Penilaian tersebut seperti diungkapkan melalui IKLH (Indeks Kualitas Lingkungan Hidup) yang sudah terlebih dahulu diformulasikan Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK.

“Adanya data IKLH dapat dilihat kecenderungan kualitas lingkungan secara temporal (dari waktu ke waktu) dan spasial (pada berbagai tempat). IKLH juga dapat menggambarkan sejauh mana upaya yang dilakukan dalam menjaga kualitas air sungai, danau, dan lain sebagainya,” kata Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) FPIK IPB University, Prof Hefni Effendi.

Hefni menerangkan, penilaian serupa diharapkan dapat dilakukan terhadap jasa lingkungan atau jasa ekosistem. Jasa ekosistem dimaknai sebagai manfaat (tangible dan intangible) yang diberikan kepada manusia melalui transformasi sumberdaya atau aset lingkungan hidup, termasuk tanah, air, tumbuhan dan atmosfer, menjadi arus barang dan jasa, seperti udara bersih, air, dan pangan.

Baca Juga: Dari Mentawir Menghijaukan Ibu Kota Nusantara dan Kalimantan

Adapun jasa ekosistem (ecosystem services) mencakup jasa penyediaan (provisioning) yakni, sejumlah jasa yang dapat dipanen atau dimanfaatkan secara langsung. Jasa maupun produk yang dapat dipanen seperti kayu, air bersih, dan hasil hutan. Jasa pengaturan (regulating) mencakup jasa yang disediakan oleh ekosistem dalam mengatur penyediaan air bersih, penyerbukan tanaman, pengaturan iklim, penyimpan karbon (carbon storage). Jasa kultur (cultural) berupa jasa keindahan (estetika), kenyamanan, religious. Jasa penyokong (supporting), berupa jasa yang memungkinkan berjalannya ekosistem tersebut yang mencakup jasa siklus nutrien, penyediaan tanah yang subur.

Jasa penyimpan karbon (carbon storage) di kawasan hutan terrestrial sudah cukup banyak diteliti dan sudah terdapat mekanisme perdagangan karbon (carbon trading). Salah satu concern-nya adalah kemampuan hutan alam di kawasan konservasi dalam menyerap emisi karbon yang dilepaskan aktivitas antropogenik dan menyimpannya sebagai cadangan carbon (carbon storage).

Belakangan ini mulai berkembang konsep blue carbon, berupa karbon yang diserap dan disimpan oleh tumbuhan yang berkaitan dengan laut. Beberapa ekosistem yang dapat menyimpan karbon seperti ekosistem hutan mangrove, ekosistem rawa asin pesisir (salt marshes) dan ekosistem padang lamun (sea grass).

Baca Juga: Konferensi Rektor ASEAN Bahas Solusi Penerapan Ekonomi Biru

“Keilmuan tentang blue carbon inilah yang tengah intensif dikembangkan Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) FPIK IPB University. Sekaligus sebagai salah satu kompetensi yang harus dikuasai para mahasiswa MSP,” kata Hefni Effendi.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Indeks Kualitas Lingkungan HidupIPB Universitypenilaian jasa lingkunganProf. Hefni Effendi

Editor

Next Post
Episenter gempa 6,6 magnitudo Laut Banda, Maluku, pada Jumat, 22 September 2023, pukul 21.59 WIB. Foto Google Earth berdasarkan koordinat pusat gempa BMKG.

Gempa 6,6 Magnitudo Laut Banda Maluku, Ini Analisis BMKG

Discussion about this post

TERKINI

  • Penggusuran PT BSMJ di wilayah adat Muara Tae, Kabupaten Kutai Barat untuk sawit. Foto Dok. Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Ekspansi Sawit di Wilayah Adat Muara Tae Dihentikan
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
  • Bentang alam Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Komunitas ini mempertahankan sistem zonasi tradisional sebagai dasar pengelolaan wilayah adat yang diwariskan. Foto Dok. WGII.Paradoks Penetapan Taman Nasional, Pengetahuan Hidup Masyarakat Adat Terancam Punah
    In Lingkungan
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media