Kamis, 12 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Ikan Dewa Mati Massal di Kuningan, Apa Penyebabnya?

Kamis, 12 Februari 2026
A A
Ilustrasi ikan mati massal. Foto akbarnemati/pixabay.com.

Ilustrasi ikan mati massal. Foto akbarnemati/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Ikan-ikan dewa (Tor soro) yang mati mendadak di Kuningan, Jawa Barat sehingga hanya menyisakan sekitar 200 ekor menyita perhatian serius Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof. Sri Nuryati. Perlu ada penanganan yang harus diawali dengan pemeriksaan penyebab pasti, disertai perbaikan kualitas air dan peningkatan daya tahan tubuh ikan.

“Ikan merupakan organisme akuatik yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan perairan. Apapun yang terjadi di air, itu akan sangat berpengaruh pada kondisi fisiologis ikan,” ujar Sri.

Insang sebagai organ yang langsung berinteraksi dengan air, menjadi bagian paling rentan terdampak perubahan kualitas lingkungan. Tingginya bahan organik, turunnya oksigen, serta perubahan suhu dapat memicu gangguan pada insang.

Kondisi ini membuka peluang bagi mikroorganisme akuatik seperti bakteri, jamur, protozoa, maupun parasit multiseluler untuk menempel dan menginfeksi. Biasanya bakteri menjadi penginfeksi sekunder, sementara penginfeksi primer kadang berasal dari parasit, misalnya Lernaea sp.

Baca juga: KPA Kritik Peran Bank Tanah, Menghidupkan Lagi Kepemilikan Tanah Negara Masa Kolonial

Pemeriksaan laboratorium

Laporan awal di Kuningan (berdasarkan info di berita online) mengindikasikan ada parasit cacing jangkar (Lernaea sp). Menurut Sri, penyebab pastinya harus melalui pemeriksaan laboratorium. Selain itu, pemberian garam atau obat tanpa mengetahui penyebab utama sering kali tidak efektif.

Kolam yang tidak dikuras dalam waktu lama berpotensi menurunkan kualitas air. Sisa pakan yang tidak termakan akan terurai menjadi amonia yang bersifat toksik.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Cacing JangkarFPIK IPB UniversityIkan DewaIkan Mati Massal

Editor

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi ikan mati massal. Foto akbarnemati/pixabay.com.Ikan Dewa Mati Massal di Kuningan, Apa Penyebabnya?
    In Rehat
    Kamis, 12 Februari 2026
  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 serukan pelaksanaan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.KPA Kritik Peran Bank Tanah, Menghidupkan Lagi Kepemilikan Tanah Negara Masa Kolonial
    In Lingkungan
    Rabu, 11 Februari 2026
  • MMA dan PPLH LRI sepakat menguatkan peran adat dalam mengelola hutan di Aceh. Foto Dok. IPB University.Kuatkan Kembali Panglima Uteun untuk Jaga Kelestarian Hutan Aceh
    In News
    Rabu, 11 Februari 2026
  • Lokasi pertambangan dekat dengan sebuah danau (L) dan Teluk Weda (R) di Indonesia Timur pada 2023. Foto Climate Rights International.Jatam Tegaskan, Empat Perusahaan Tambang di Maluku Utara Harus Ditindak Tegas, Tak Sekadar Denda
    In Lingkungan
    Selasa, 10 Februari 2026
  • Ilustrasi sistem saraf pusat manusia yang meliputi otak dan sumsusm tulang belakang. Foto VSRao/pixabay.com.Virus Nipah Menyerang Sistem Saraf Pusat yang Percepat Perburukan Klinis
    In Rehat
    Selasa, 10 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media