Selasa, 18 Agustus 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Ikan Dewa Mati Massal di Kuningan, Apa Penyebabnya?

Kamis, 12 Februari 2026
A A
Ilustrasi ikan mati massal. Foto akbarnemati/pixabay.com.

Ilustrasi ikan mati massal. Foto akbarnemati/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Ikan-ikan dewa (Tor soro) yang mati mendadak di Kuningan, Jawa Barat sehingga hanya menyisakan sekitar 200 ekor menyita perhatian serius Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof. Sri Nuryati. Perlu ada penanganan yang harus diawali dengan pemeriksaan penyebab pasti, disertai perbaikan kualitas air dan peningkatan daya tahan tubuh ikan.

“Ikan merupakan organisme akuatik yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan perairan. Apapun yang terjadi di air, itu akan sangat berpengaruh pada kondisi fisiologis ikan,” ujar Sri.

Insang sebagai organ yang langsung berinteraksi dengan air, menjadi bagian paling rentan terdampak perubahan kualitas lingkungan. Tingginya bahan organik, turunnya oksigen, serta perubahan suhu dapat memicu gangguan pada insang.

Kondisi ini membuka peluang bagi mikroorganisme akuatik seperti bakteri, jamur, protozoa, maupun parasit multiseluler untuk menempel dan menginfeksi. Biasanya bakteri menjadi penginfeksi sekunder, sementara penginfeksi primer kadang berasal dari parasit, misalnya Lernaea sp.

Baca juga: KPA Kritik Peran Bank Tanah, Menghidupkan Lagi Kepemilikan Tanah Negara Masa Kolonial

Pemeriksaan laboratorium

Laporan awal di Kuningan (berdasarkan info di berita online) mengindikasikan ada parasit cacing jangkar (Lernaea sp). Menurut Sri, penyebab pastinya harus melalui pemeriksaan laboratorium. Selain itu, pemberian garam atau obat tanpa mengetahui penyebab utama sering kali tidak efektif.

Kolam yang tidak dikuras dalam waktu lama berpotensi menurunkan kualitas air. Sisa pakan yang tidak termakan akan terurai menjadi amonia yang bersifat toksik.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Cacing JangkarFPIK IPB UniversityIkan DewaIkan Mati Massal

Editor

Next Post
Jambore Pekerja Perikanan 2026. Foto Walhi.

Migrasi Paksa dan Ketidakadilan di Sektor Perikanan Akibat Krisis Iklim

Discussion about this post

TERKINI

  • Diskusi dan pemutaran film Film dokumenter “Jejak Kolonial di Hutan Jawaˮ dalam Festival Udin 2026, 15 Agustus 2026. (Dok. Festival Udin 2026)Co-firing Biomassa dari Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Korbankan Ekosistem Hutan dan Masyarakat
    In Lingkungan
    Selasa, 18 Agustus 2026
  • Upacara rakyat di Kendeng, Kabupaten Pati, 17 Agustus 2026. (Foto Istimewa)Upacara Rakyat di Kendeng Dihadiri Warga dan Petani yang Melawan Penambangan Karst
    In News
    Senin, 17 Agustus 2026
  • Upacara peringatan kemerdekaan RI oleh warga Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri di lahan pertaniannya, 17 Agustus 2026. (Foto Istimewa)Warga Pracimantoro: Kami Bukan Melawan Pembangunan, Kami Menjaga Kehidupan
    In News
    Senin, 17 Agustus 2026
  • Ilustrasi gerhana matahari total. Foto Dok. BMKG.Masyarakat Indonesia Bisa Saksikan Fase Gerhana Matahari Total 12 Agustus di Kanal NASA
    In News
    Minggu, 9 Agustus 2026
  • Bencana ekologis di Sumatra. Foto Walhi.Deklarasi Desk Disaster Walhi: Hentikan Narasi “Bencana Alam” untuk Menghapus Tanggung Jawab
    In Lingkungan
    Rabu, 5 Agustus 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media