Sabtu, 3 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Ikan Dewa Mati Massal di Kuningan, Apa Penyebabnya?

Kamis, 12 Februari 2026
A A
Ilustrasi ikan mati massal. Foto akbarnemati/pixabay.com.

Ilustrasi ikan mati massal. Foto akbarnemati/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

“Amonia itu tidak baik, ikan tidak bisa menoleransi ammonia pada konsentrasi tertentu. Itu bisa mengganggu dan akhirnya mati,” ungkap dia.

Kepadatan ikan yang melebihi standar juga memperbesar risiko stres dan penyakit. Dalam kondisi wabah, ia menyarankan pemisahan ikan yang masih hidup ke perairan dengan kualitas memenuhi baku mutu budi daya, disertai aerasi untuk mencukupi kebutuhan oksigen.

Baca juga: Kuatkan Kembali Panglima Uteun untuk Jaga Kelestarian Hutan Aceh

Tak hanya itu, perubahan suhu akibat hujan dapat menurunkan imunitas ikan. Ikan bersifat poikiloterm, sehingga suhu tubuhnya bergantung pada lingkungan.

Terkait peluang pemulihan populasi ikan dewa, menurut Sri, hal tersebut sangat ditentukan pada langkah penanganan. Ia merekomendasikan perbaikan manajemen kualitas air serta peningkatan imunitas melalui pakan yang mengandung  imunostimulan dari bahan alami yang berkhasiat untuk imunostimulasi dan fitoterapi.

“Harus ada manajemen kesehatan ikan. Airnya dikelola dengan baik dan imunitasnya ditingkatkan,” tegas dia. [WLC02]

Sumber: IPB University

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Cacing JangkarFPIK IPB UniversityIkan DewaIkan Mati Massal

Editor

Next Post
Jambore Pekerja Perikanan 2026. Foto Walhi.

Migrasi Paksa dan Ketidakadilan di Sektor Perikanan Akibat Krisis Iklim

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media