Selasa, 3 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Investigasi Walhi Sumut, Banjir Bandang di Tapanuli Akibat Deforestasi Perusahaan Tambang

Selama ini, banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra Utara sering dinarasikan akibat hujan yang datang dari langit dan berlangsung secara terus menerus. Padahal saat banjir tiba terlihat banyak kayu terbawa air.

Jumat, 28 November 2025
A A
Tangkapan video pendek tentang banjir bandang di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Foto @masinton/instagram.

Tangkapan video pendek tentang banjir bandang di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Foto @masinton/instagram.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Mandailing Natal, dan Kota Sibolga di Sumatra Utara sejak Selasa, 25 November 2025 lalu, kerap terjadi hampir setiap tahun, khususnya saat musim hujan tiba. Berdasarkan dokumen Kajian Risiko Bencana Nasional Sumatera Utara Tahun 2022-2026, wilayah yang terkena banjir bandang dan tanah longsor tersebut masuk dalam kategori risiko tinggi untuk bencana banjir bandang dan tanah longsor.

Bahkan potensi risiko tinggi bencana hidrometeorologi itu terjadi di semua kabupaten dan kota di Sumatra Utara. Kecuali Kabupaten Samosir yang masuk dalam kategori kelas risiko rendah. Hasil kajian menunjukkan Sumatra Utara memiliki kelas bahaya tinggi dan kelas kerentanan tinggi untuk banjir bandang dan tanah longsor.

“Seharusnya jadi acuan penting bagi pembuat kebijakan di seluruh wilayah kabupaten, kota, dan Provinsi Sumatera Utara untuk menerapkan kebijakan-kebijakan yang dapat meminimalisir dampak bencana dan yang pro lingkungan,” tegas Manajer Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Sumatra Utara (Walhi Sumut), Jaka Kelana Damanik dalam rilis tertulis Walhi Sumut, Rabu, 26 November 2025.

Selama ini, banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra Utara sering dinarasikan akibat hujan yang datang dari langit dan berlangsung secara terus menerus. Seolah-olah bencana yang datang murni dari alam, tanpa campur tangan manusia.

Padahal saat banjir tiba terlihat banyak kayu terbawa air. Seperti terlihat dari tayangan sejumlah video yang diunggah di media sosial, luapan Sungai Batang Sitoru yang cokelat turut menggelontorkan batang-batang kayu bulat dari hulu ke hilir yang jumlahnya tak sedikit. Data citra satelit juga menunjukkan kondisi hutan yang gundul di sekitar lokasi bencana.

Baca juga: Bencana di Sumatra, Anggota DPR Desak Presiden Tetapkan Status Bencana Nasional

“Itu menunjukan adanya aktivitas penebangan hutan di wilayah sekitar bencana yang juga merupakan bagian dari ekosistem Batang Toru,” jelas Jaka.

Walhi Sumut berpendapat bencana yang terjadi saat ini merupakan bencana ekologis. Sebab ada kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah terhadap perusahaan-perusahaan di ekosistem Batang Toru yang dinilai memperparah rusaknya hutan di wilayah tersebut.

“Jadi kondisi ini menunjukan campur tangan manusia turut menyumbang terjadinya bencana,” kata dia.

Campur tangan tersebut dapat terjadi karena adanya keputusan politik maupun kebijakan yang dikeluarkan atas nama pembangunan dan ekonomi. Denga demikian, bencana tidak hanya dikaitkan dengan keadaan alam secara murni, tetapi menjelma menjadi bencana ekologis.

“Kegagalan negara mengurus lingkungan menyebabkan krisis ekologis yang berujung pada bencana ekologis. Artinya, negara atau pengambil kebijakan berperan besar atas bencana ekologis yang terjadi saat ini,” tegas dia.

Walhi Sumut selama ini terus menyuarakan agar pemerintah memberi perhatian penuh atas kondisi ekosistem Batang Toru (harangan Tapanuli) sebagai hutan tropis terakhir yang dimiliki Sumatra Utara yang wilayahnya meliputi Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Kabupaten Tapanuli Utara.

Baca juga: Update Banjir Bandang dan Longsor di Sumatra Utara, Korban Tewas Capai Puluhan Orang

Ekosistem di sana harus dijaga, karena selain kaya flora dan fauna khususnya orangutan Tapanuli yang paling langka di dunia, kerusakan ekosistem ini akan berdampak pada daerah sekitarnya, termasuk bencana banjir bandang dan tanah longsor.

Ia mengakui, laju deforestasi di wilayah ini sulit dibendung karena perusahaan-perusahaan yang beraktivitas di ekosistem Batang Toru melakukan penebangan pohon dengan berlindung di balik izin yang dikeluarkan pemerintah.

Walhi Sumut menyebut salah satu perusahaan yang selama ini dinilai menjadi penyumbang terbesar kerusakan hutan di ekosistem Batang Toru adalah perusahaan tambang emas martabe, PT Agincourt Resources (PT AR). Tambang emas ini melakukan kegiatan operasional berdasarkan Kontrak Karya (KK) selama 30 tahun dengan Pemerintah Indonesia. Awalnya pada tahun 1997, wilayah pertambangan mencakup 6.560 km². Kemudian area konsesi mengalami perkembangan menjadi 130.252 hektar (1.303 km²), meliputi Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Mandailing Natal.

Berdasarkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), perusahaan ini menghasilkan 6 juta ton emas per tahun. PT AR berencana meningkatkan jumlah produksi emas menjadi 7 juta ton/tahun dengan dalih perlu membuat fasilitas tailing, utilitas pendukung, dan beberapa perubahan kegiatan operasional.

Baca juga: Darurat Cuaca Ekstrem di Sumatra Barat, 13 Wilayah Terdampak dan 12 Warga Tewas

Rencana itu tercantum dalam dokumen addendum AMDAL PT AR tahun 2020. Bahwa perusahaan membutuhkan pembukaan lahan seluas 583 ha untuk tailing management facilities (TMF). Untuk membuka lahan akan dilakukan penebangan sebanyak 185.884 pohon.

Dokumen AMDAL itu juga menerangkan dampak hipotetik terpilih atas rencana perluasan lahan tersebut Adalah perubahan pola aliran sungai, peningkatan limpasan air permukaan (run off), penurunan kualitas air permukaan, penurunan kualitas air tanah, hilangnya tutupan vegetasi dan perubahan struktur komposisi spesies flora terrestrial, hilangnya habitat dan perubahan habitat fauna.

“Hasil investigasi terbaru kami, PT AR sedang melakukan proyek tersebut dan telah melakukan pembukaan lahan sekitar 120 hektare,” ungkap Jaka.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Banjir BandangBanjir dan LongsorBencana SumatraCuaca EkstremEkosistem Batang ToruKabupaten Tapanuli TengahTambang EmasWalhi Sumatra Utara

Editor

Next Post
Gajah Sumatera di lokasi konservasi di Tangkahan, Sumatra Utara. Foto Soetana Monang Hasibuan/Wanaloka.com.

Mimpi Kawasan Konservasi Jadi Rumah Aman Bagi Gajah Sumatra 

Discussion about this post

TERKINI

  • Dissinformasi InaEEWS di akun Telegram. Foto Dok. BMKGBMKG Tegaskan Akun Telegram InaEEWS yang Beredar Palsu dan Ilegal
    In News
    Jumat, 27 Februari 2026
  • Desakan penghentian izin lingkungan PT DPM. Foto Jatam.Putusan PTUN Batalkan Izin Lingkungan, PT DPM Ngotot Urus Izin Baru
    In Lingkungan
    Kamis, 26 Februari 2026
  • Guru Besar Teknik Kimia, Prof. Wiratni. Foto UGM.Yogyakarta/instagram.Wiratni, Pilihan Teknologi Pengolahan Sampah di Setiap Wilayah Tak Bisa Diseragamkan
    In Sosok
    Kamis, 26 Februari 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Walhi: Konsep Hak Pengelolaan dan Bank Tanah Merampas Hak Rakyat atas Tanah
    In News
    Rabu, 25 Februari 2026
  • Ilustrasi pengguna earphone bluetooth. Foto freepik.com.Klaim Earphone Bluetooth Berbahaya Bagi Otak Belum Ada Bukti Ilmiah
    In IPTEK
    Rabu, 25 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media