Walhi Sumut mendesak negara, dalam hal ini pemerintah harus bertindak nyata untuk mencegah perusahaan-perusahaan seperti PT AR melakukan perluasan wilayah eksploitasi dengan mengorbankan hutan di ekosistem Batang Toru (harangan tapanuli).
Baca juga: Aceh Dikepung Banjir, Simeulue Diguncang Gempa 6,5 M
“Bencana akan sulit dihindari apabila para pelaku perusakan hutan masih tetap melakukan aktivitasnya dengan berlindung di balik izin yang diterbitkan oleh pemerintah,” tegas dia.
PT AR dan Bupati Tapteng salahkan cuaca
Sementara pihak PT AR membantah perusahaan tambang emas itu menjadi penyebab banjir bandang lewat aktivitas pertambangan yang dilakukan di hulu. Melainkan akibat cuaca ekstrem.
Senior Manager Communications PT AR, Katarina Siburian Hardono mengaku telah membaca siaran pers Walhi Sumut.
“Saya sudah baca, nanti saya bikin keterangan tertulis,” jawab Katarina saat dikonfirmasi Wanaloka.com.
“Seiring beredarnya informasi mengenai penyebab bencana, kami perlu meluruskan informasi bahwa lokasi banjir bandang di Desa Garoga berada pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga/Aek Ngadol, berbeda dan tidak terhubung dengan DAS Aek Pahu, tempat PTAR beroperasi,” kata Katarina melalui pernyataan tertulis yang diterima Wanaloka.com, Jumat, 28 November 2025.
Berdasarkan pantauannya, pihak PT AR mengklaim tidak menemukan material kayu di DAS Aek Pahu yang dapat dikaitkan dengan temuan di wilayah banjir.
Baca juga: Siklon Tropis 95B Jadi Siklon Tropis Senyar, Siaga Cuaca Ekstrem di Aceh dan Sumatra Utara
“Kami mendukung penuh kajian komprehensif yang dilakukan pemerintah atas seluruh faktor penyebab bencana ini dan siap bekerja sama secara transparan,” ucap Katarina.
Atas bencana banjir bandang dan longsor di Tapanuli Tengah, Sibolga, Tapanuli Selatan, dan Padangsidimpuan, pihaknya menyatakan turut berbelasungkawa kepada keluarga korban, masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan, cedera, dan warga yang terpaksa mengungsi akibat bencana ini.
“Kami berharap situasi segera terkendali dan proses pemulihan berlangsung cepat dan aman,” imbuh dia yang juga telah menyalurkan berbagai bentuk bantuan darurat kepada warga terdampak.
Sementara Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Parasibu mengunggah video pendek yang menggambarkan air bah cokelat yang menggelontorkan kayu-kayu gelondongan yang menerjang apa saja di depannya. Namun komentarnya menyebut, bahwa banjir bandang dan tanah longsor yang melanda di berbagai lokasi di Tapanuli Tengah akibat cuaca ekstrem di Kawasan Pantai barat Sumatra Utara.
“Terutama di wilayah Tapanuli Tengah yang menghadap ke Samudera Indonesia,” kata Masinton lewat akun Instagram @masinton.
Baca juga: Banjir Bandang dan Longsor Sumatra Utara, Akses ke Tapanuli Tengah dan Sibolga Terisolisir
Sejumlah netijen mengomentari unggahannya yang seolah menyalahkan cuaca, bukan praktik deforestasi yang berlangsung di hulu. Seperti dari akun @tajukberitamedan: Ditambah pak captionnya…jangan krna hujan ajaa.. tp karna hutan ditebangi.
Kemudian tanggapan akun lain @xxxindxxx: setuju, ternyata bapak yang terhormat belum menggunakan akal dan hatinya, masih menyalahkan curah hujan, ini curah keserakahan manusia, tepatnya mereka yang memberi izin but tambang yg menggunduli hutan.
Hingga saat ini, akses menuju Tapanuli Tengah masih tertimbun longsor. Meliputi akses jalan raya dari Tapanuli Tengah, yakni Jalan Tarutung-Sibolga, akses Humbang Hasundutan, yakni Jalan Pakkat-Barus, serta akses Tapanuli Selatan, yakni Jalan Batangtoru-Pandan. Sementara, akses menuju Tapanuli Tengah dan Sibloga hanya bisa melalui Bandara Pinagsori di Tapanuli Tengah dan Pelabuhan Laut Sibolga.
“Bagi masyarakat yang ingin mengirim bantuan melalui jalan darat, kami imbau bersabar. Dua tiga hari lagi kemungkinan akses darat bisa dilalui kendaraan,” tulis Masinton dalam akunnya, Kamis, 27 November 2025.
ia juga menyebut data sementara korban tewas ada 21 orang yang tertimbun longsor di Desa Sibalanga, Adiankoting, Tapanuli Utara yang berbatasan dengan Tapanuli Tengah. [Soetana Monang Hasibuan]







Discussion about this post