Rabu, 11 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Iradiasi Pangan Telah Diterapkan Pada Cabai, Telur dan Bawang Merah

Iradiasi pangan merupakan teknologi yang sudah proven, proses yang aman dan terkendali. Juga sudah diakui oleh organisasi internasional seperti Food and Agriculture Organization (FAO), World Health Organization (WHO), dan International Atomic Energy Agency (IAEA).

Jumat, 5 September 2025
A A
Ilustrasi telur mentah. Foto Couleur/pixabay.com.

Ilustrasi telur mentah. Foto Couleur/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Pada 2023, Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah bersurat dan bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait aplikasi teknologi iradiasi untuk memperpanjang masa simpan pangan. Ada tiga komoditas yang diiradiasi, yakni cabai, telur, dan bawang merah.

Hasil penelitian menunjukkan iradiasi telur pada dosis 1-4 KGy tidak mengubah kuning telur, tetapi bisa mengubah viskositas dan sifat fungsional. Iradiasi bawang merah pada dosis yang sangat rendah 60-150 Gy bisa digunakan untuk mencegah pertunasan.

Sedangkan iradiasi cabai dosis rendah sampai 1 Gy dapat diaplikasikan pada produk hortikultura, secara umum untuk tujuan memperpanjang umur simpan produk segar

Baca juga: Cacing Tanah Si Kaya Protein yang Punya Nilai Ekonomi Tinggi

“Ini terkait tugas dan fungsi Bapanas, yaitu pengelolaan cadangan pangan, panganekaragaman konsumsi, pengawasan keamanan dan menu pangan,” kata Direktur Perumusan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bapanas, Yusra Egayanti mengungkapkan, saat berdiskusi secara daring dengan Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi (PRTPR) BRIN, Senin, 1 September 2025.

Mengingat masa penyimpanan yang pendek menjadi salah satu faktor penyebab food loss. Factor penyebab lainnya adalah terkait hama.

“Beberapa alternatif telah dilakukan untuk memperpanjang umur simpan. Tetapi, dengan teknologi iradiasi ini berpotensi memiliki umur simpan yang lebih lama,” kata dia.

Baca juga: Iradiasi Pangan untuk Kurangi Food Loss, Lebih Awet, dan Menekan Risiko Kontaminasi

Dia menerangkan fasilitas iradiasi sudah banyak di belahan dunia. Selain regulasi di Indonesia, standar pangan internasional seperti Codex Alimentarius juga mengatur dan membenarkan pemanfaatan iradiasi.

“Terdapat Codex standar untuk irradiated food dan juga terdapat beberapa komoditas yang terkait dengan komoditas cadangan pemerintah,” jelas dia.

Ia berharap Bapanas dan BRIN dapat menindaklanjuti uji trial untuk komoditas cabai dan bawang. Bapanas menyiapkan panduan penanganan pra-iradiasi, pascairadiasi, dan untuk BUMN pangan, sekiranya nanti dilakukan iradiasi untuk memperpanjang umur simpan pangan.

Baca juga: Biogas dari Kombinasi Kotoran Sapi dengan Ampas Kopi

Bisa dukung MBG

Peneliti Ahli Muda PRTPR BRIN, Ashri Mukti Benita memaparkan pemanfaatan iradiasi untuk pangan dapat digunakan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Aplikasi teknologi iradiasi bermanfaat untuk memastikan makanan tetap aman dan bergizi.

“Tantangan MBG adalah memastikan makanan tetap aman, segar, dan berkualitas dari pusat distribusi hingga siap konsumsi. Termasuk meminimalkan kebusukan dan mencegah penyakit bawaan makanan,” kata Ashri.

Prosesnya menggunakan sinar gamma, sinar X, dan berkas elektron sebagai teknologi yang dapat menekan pertumbuhan mikroorganisme dan serangga, meningkatkan keamanan pangan, dan memperpanjang umur simpan.

Baca juga: Kegempaan Meningkat, Tingkat Aktivitas Gunung Lokon Naik ke Level Siaga

Ashri menegaskan iradiasi pangan merupakan teknologi yang sudah proven, proses yang aman dan terkendali. Juga sudah diakui oleh organisasi internasional seperti Food and Agriculture Organization (FAO), World Health Organization (WHO), dan International Atomic Energy Agency (IAEA).

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Bapanasiradiasi panganprogram MBGPRTPR BRINsinar gamma

Editor

Next Post
Abalon. Foto Dok. BRIN.

Tantangan Budidaya Abalon di Tengah Ombak Pantai Selatan yang Tinggi

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi rumah adat Sumatra Barat. Foto IndrabinYusuf/pixabay.com.Program Gentengisasi, Pakar Ingatkan Rumah Tradisional di Indonesia Tak Seragam 
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi makanan daging. Foto johnstocker/freepik.com.Diet Karnivora Tidak Aman, Ini Risikonya
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi kelelawar di pepohonan. Foto ignartonosbg/pixabay.com.Pakar Ingatkan, Virus Nipah Berpotensi Menular Antarmanusia
    In Rehat
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, 6 Februari 2026. Foto BPBD Tegal.Bencana Tanah Bergerak di Tegal, Dua Ribu Lebih Warga Mengungsi
    In Bencana
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Ilustrasi manusia terdampak cuaca panas ekstrem. Foto Franz26/pixabay.com.Dampak Cuaca Ekstrem, Suhu, Banjir dan Longsor Meningkat 16 Tahun Terakhir
    In News
    Jumat, 6 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media