Kamis, 19 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Jejak Hutan Purba di Cagar Alam Ceding

Jika Ceding hilang, maka bukan hanya pohon-pohon dan satwa yang lenyap, tetapi juga termasuk bagian sejarah Bumi yang tak akan pernah bisa digantikan.

Rabu, 2 April 2025
A A
Cagar alam Ceding di Bondowoso, Jawa Timur. Foto Dok. BBKSDA Jatim.

Cagar alam Ceding di Bondowoso, Jawa Timur. Foto Dok. BBKSDA Jatim.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Di sudut timur Pulau Jawa, tersembunyi sebuah lanskap yang seolah luput dari pandangan dunia. Cagar Alam Ceding, yang telah berdiri sejak era Hindia Belanda pada 9 Oktober 1920. Melalui Surat Keputusan Gubernur Nomor GB 45 Stbld 726, cagar ala mini adalah sisa terakhir dari sebuah ekosistem yang telah menyaksikan pergulatan waktu.

Berlokasi di Dusun Belawan, Desa Kalianyar, Kecamatan Sempol, Kabupaten Bondowoso, dengan luas 4,549 hektare yang tak seberapa dibanding bentang hutan lain di Nusantara. Namun, di dalamnya masih dipenuhi pepohonan purba, jurang yang menganga, dan tanah vulkanis yang membentuk dasarnya.

Di sinilah alam berbicara dalam bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang cukup sabar untuk mengamati. Desiran angin di pucuk Gintungan (Biscovia javanica), Gondang (Ficus variegatta), dan Suren (Toona sureni) membentuk kanopi yang menaungi semak belukar di bawahnya.

Di antara celah-celah batang pohon, beberapa jenis anggrek berbagi ruang dalam sebuah simbiosis dengan pepohonan tua yang telah berdiri kokoh selama puluhan hingga ratusan tahun. Pakis-pakisan dan ilalang menutupi lantai hutan, menghadirkan lanskap hijau yang menjadi rumah bagi berbagai hidupan liar.

Namun, di balik keheningan ini, ada satu kenyataan tak terbantahkan. Bahwa Ceding adalah bentang alam yang rapuh. Ibaratnya, satu goresan saja dapat menggoyahkan keseimbangannya yang telah terjaga selama berabad-abad.

Bentang alam liar

Dari kejauhan, Ceding mungkin tampak seperti sekadar gugusan hijau yang membaur dengan lanskap Bondowoso. Tetapi begitu seseorang menapaki tanahnya, lanskap ini menunjukkan sisi liarnya. Topografi ekstrem menjadi ciri khasnya. Di sisi selatan, tanahnya masih relatif datar, tetapi semakin ke utara, berubah menjadi gugusan perbukitan yang menjulang dengan kelerengan lebih dari 45 derajat.

Di bagian utara, jurang setinggi 40 meter menjadi batas alam yang tak tertembus. Tebing-tebing curam ini seperti benteng alami yang melindungi rahasia di dalamnya. Di beberapa titik, tanah terbuka menampakkan jejak letusan gunung purba tanah andosol, regosol, dan aluvial, semua terbentuk dari abu dan pasir vulkanis yang telah mengendap selama ribuan tahun.

Dan di bawah tanah, kehidupan lain tengah bekerja. Sumber air panas alami yang muncul di beberapa titik menjadi tanda bahwa Ceding bukan hanya tentang daratan yang kokoh. Melainkan juga tentang arus panas yang bergerak di dalam perut bumi, memberikan nyawa bagi ekosistem di atasnya.

Jejak hutan purba yang bertahan

Di tengah perbukitan ini, berdiri pohon-pohon yang seakan menjadi saksi perputaran zaman, menancapkan akarnya dalam-dalam ke tanah yang kaya mineral. Di bawah kanopi mereka, tumbuhan bawah seperti pakis raksasa, talas liar, dan suplir menciptakan lapisan hijau yang menjaga kelembaban tanah.

Namun, kekayaan Ceding bukan hanya soal pepohonan raksasa. Dunia yang tak terlihat tersembunyi di batang-batang lapuk dan lumut-lumut yang menyelimuti bebatuan juga memainkan perannya. Liana seperti poncosudo (Jasminum multiflorum) menjalar di antara pohon-pohon tinggi, menciptakan jaring alami yang menghubungkan satu tegakan ke tegakan lain. Seakan ingin membuktikan bahwa bahkan dalam keheningan, kehidupan tetap mencari jalannya.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: bentang alamCagar Alam Cedinghutan purbaKabupaten Bondowoso

Editor

Next Post
Para rimbawan berdiri dengan latar belakang pohon Ficus raksasa di Cagar Alam Manggis Gadungan. Foto Dok. BBKSDA Jatim.

Cagar Alam Manggis Gadungan Jadi Pusat Ficus Nasional

Discussion about this post

TERKINI

  • KLH/BPLH meninjau proses pencarian korban longsoran sampah di TPA Bantar Gebang, Bekasi, 8 maret 2026. Foto KLH/BPLH.TPST Bantargebang Longsor Lagi, Alarm Keras Pengelolaan Sampah Open Dumping
    In Bencana
    Senin, 9 Maret 2026
  • Ilustrasi sakit campak. Foto Kemenkes.Vaksinasi Penting karena Campak Cepat Menular dan Ada Risiko Jangka Panjang
    In Rehat
    Senin, 9 Maret 2026
  • Titik transfer batu bara melalui ship to ship di Kalimantan Timur. Foto Walhi Kaltim.Peninjauan Kembali RTRW Kalimantan Timur Harus Berpihak pada Nelayan dan Lingkungan
    In Lingkungan
    Minggu, 8 Maret 2026
  • Ilustrasi roti berjamur. Foto jackmac34/pixabay.com.Temuan Roti MBG Berjamur, Pakar Ingatkan Sebaiknya Tak Dikonsumsi
    In Rehat
    Minggu, 8 Maret 2026
  • Presiden RI Prabwo Subianto dan Presiden AS Donald Trumph. Foto White House/Setpres.Walhi: Perjanjian Dagang Resiprokal Indonesia-AS Melanggengkan Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 7 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media