Wanaloka.com – Lebah madu memiliki potensi besar sebagai bioindikator atau “detektor” alami bagi kesehatan lingkungan.
“Lebah madu dapat mendeteksi pencemaran melalui berbagai indikator biologis,” ujar Guru Besar Departemen Biologi IPB University, Prof. Rika Raffiudin dalam wawancara terkait peran penting lebah dalam ekosistem serta respons mereka terhadap perubahan lingkungan, Senin, 11 Agustus 2025.
Ketika lingkungan tercemar, lebah madu dapat menunjukkan sejumlah perubahan yang mudah diamati. Salah satu tanda paling jelas adalah meningkatnya jumlah lebah yang mati setelah mengonsumsi molekul berbahaya dari udara atau tanaman di sekitarnya.
Baca juga: TPPAS Lulut-Nambo untuk Olah Sampah Empat Daerah Mangkrak 10 Tahun
Bioindikator lainnya adalah cairnya sebagian lilin sarang sebagai penanda peningkatan suhu berkepanjangan. Juga keberadaan pestisida dan logam berat dalam madu atau produk lebah lainnya, dan penurunan ukuran koloni lebah.
Menurut Rika, lebah madu merupakan salah satu makhluk paling menakjubkan. Mereka hidup dalam koloni yang terorganisasi dan memilki kerja sama antar individunya menjadi inspirasi bagi manusia.
Selain menghasilkan produk bernilai seperti madu, lilin, royal jelly, serbuk sari, propolis, dan venom lebah, lebah madu juga berperan sebagai penyerbuk utama yang meningkatkan produktivitas berbagai tanaman hortikultura.
Baca juga: Penumpukan Sampah Menjadi Sumber Peningkatan Kasus Leptospirosis
Discussion about this post