Namun, urbanisasi dan meningkatnya polusi telah mengganggu keseimbangan ekosistem, termasuk keberadaan penyerbuk seperti lebah. Penting bagi lebah sebagai bioindikator untuk mengukur degradasi lingkungan, perubahan iklim, serta dampak pemanasan global.
Penelitian Duque and Steffan-Dewenter yang dipublikasi di Frontiers in Ecology and the Environmental menunjukkan bahwa polutan atmosfer, termasuk emisi kendaraan bermotor, dapat mengganggu kemampuan lebah dalam mengenali senyawa organik volatil (Volatile Organic Compound/VOC) dari bunga.
VOC merupakan komponen penting dalam interaksi ekologis antara serangga dan tanaman. Melalui uji pengondisian penciuman, lebah dilatih untuk mengenali profil VOC seperti linalool, dipentena, mirsen, dan geranium. Hasilnya, lebah membutuhkan waktu lebih lama untuk mengenali VOC yang telah tercemar emisi knalpot dan juga lebih cepat melupakannya.
Baca juga: Ancaman Krisis Air, 1 dari 4 Penduduk Dunia Sulit Mengakses Air Bersih
“Polusi udara terbukti mengubah pengenalan dan daya ingat lebah terhadap VOC bunga. Akhirnya dapat mengurangi efisiensi mereka dalam mencari nektar dan serbuk sari,” jelas dia.
Hasil penelitian ini memperkuat peran lebah madu sebagai alat monitoring alami terhadap kualitas lingkungan. Sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga kualitas udara dan habitat alami serangga penyerbuk. [WLC02]
Sumber: IPB University







Discussion about this post