Minggu, 5 Juli 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Ancaman Krisis Air, 1 dari 4 Penduduk Dunia Sulit Mengakses Air Bersih

Bencana yang berhubungan dengan air setiap tahun menyebabkan kerugian mencapai 550 miliar dolar. Sementara 95 persen kerusakan infrastruktur di dunia disebabkan bencana terkait air.

Selasa, 19 Agustus 2025
A A
Ilustrasi krisis air. Foto balouriarajesh/pixabay.com.

Ilustrasi krisis air. Foto balouriarajesh/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Dunia menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari pertumbuhan penduduk, perubahan tata guna lahan, hingga perubahan iklim yang sangat mempengaruhi keberlanjutan sumber daya air.

“Hampir seluruh negara di dunia sedang menghadapi ancaman krisis air,“ kata Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB, Retno Lestari Priansari Marsudi dalam Focus Group Discussion (FGD) dan seminar terkait Water Security di ruang Multimedia, Gedung Pusat UGM, Jumat, 15 Agustus 2025.

Data PBB menunjukkan lebih dari 2,2 miliar orang atau sekitar 1 dari 4 penduduk dunia tidak memiliki akses ke sumber air yang aman. Sementara lebih dari 3,5 miliar orang atau sekitar 4 dari 10 penduduk dunia tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang layak.

Baca juga: Kelinci Bertelinga Panjang, Marmut Bertelinga Bulat

Menurut Retno, bencana yang berhubungan dengan air setiap tahun menyebabkan kerugian mencapai 550 miliar dolar. Sementara 95 persen kerusakan infrastruktur di dunia disebabkan bencana terkait air.

“Kami menghadapi tiga tantangan besar lain soal air, too much (banjir), too little (kekeringan), dan too polluted (pencemaran),” papar dia.

Di Indonesia, tantangan ini juga sangat nyata. Data menunjukkan bahwa kebutuhan air nasional diperkirakan akan meningkat 31 persen pada 2045.

Baca juga: Negosiasi INC 5.2 Gagal Sepakat, Indonesia Komitmen Hentikan Polusi Plastik

“Jika tidak terpenuhi, hal ini dapat menghambat cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045,” imbuh dia.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, menurut ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Pertama, melakukan inovasi dan implementasi teknologi air, mulai dari hal-hal kecil seperti efisiensi penggunaan air sehari-hari, hingga inovasi besar dalam pertanian dan industri.

Kedua, memperbanyak ahli dan SDM di sektor air, karena saat ini setengah dari tenaga ahli air dunia sudah mendekati masa pensiun, sementara kebutuhan justru meningkat.

Baca juga: Jatam Desak Presiden Membuka Daftar Pemain Besar Tambang Ilegal

“Peran universitas sangat penting untuk melahirkan inovasi dan mencetak ahli baru di bidang air. Kami harus bersiap, karena air bukan hanya isu teknis, tetapi menyangkut survival umat manusia,” terang dia.

Rektor UGM Prof. Ova Emili, menuturkan air adalah unsur dasar kehidupan. Bangsa Indonesia pun tidak lepas dari air mulai dari persoalan banjir, tanah longsor, hingga kekeringan yang berdampak pada produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat.

“Bahkan, sebagai seorang dokter, saya selalu ingat bahwa sekitar 80 persen tubuh manusia terdiri atas air. Untuk dapat bertahan hidup, air harus benar-benar diperhatikan,” kata dia.

Baca juga:Menyusuri Jejak Rafflesia di Kawasan Bandealit Jawa Timur

Melalui FGD ini, menurut dia menjadi langkah awal bagi UGM untuk memperkuat jejaring akademik dan kontribusi jangka panjang dalam isu ketahanan air di tingkat nasional maupun internasional.

Manfaatkan mata air lokal

Sementara Tim Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung (Pengmas ITB) di bawah naungan Tim Pengmas Direktorat Kemahasiswaan ITB, menyelenggarakan program pengembangan sistem pengolahan air minum di Desa Karyasari, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Program ini hadir sebagai solusi atas persoalan krisis air bersih yang telah lama dihadapi masyarakat setempat. Mengingat kondisi geografis yang menyulitkan akses terhadap air layak konsumsi.

Baca juga: Kritik Masyarakat Sipil atas Pidato Kenegaraan 2025, Pembangunan Kian Ekstraktif dan Militeristik

Program bertajuk Water Solution for Pesantren (WASTREN): Desiminasi Sistem dan Teknologi Pengolahan Air Minum untuk Kemandirian Ekonomi Pesantren ini dilaksanakan sejak Februari 2025. Kegiatan berlangsung di Pondok Pesantren Manba’ul Ulum, yang selama ini menjadi salah satu sumber air bersih utama bagi warga sekitar, terutama pada musim kemarau.

Kegiatan ini berfokus pada penerapan sains, teknologi tepat guna dan terciptanya karya seni/desain/arsitektur/ perencanaan wilayah binaan misalnya metoda, alat, desain, purwa rupa (prototipe).

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: krisis air bersihmata air lokalPBBpemanasan globalteknologi filtrasi air

Editor

Next Post
Ilustrasi tikus. Foto Alexas_Fotos/pixabay.com.

Penumpukan Sampah Menjadi Sumber Peningkatan Kasus Leptospirosis

Discussion about this post

TERKINI

  • Penggusuran PT BSMJ di wilayah adat Muara Tae, Kabupaten Kutai Barat untuk sawit. Foto Dok. Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Ekspansi Sawit di Wilayah Adat Muara Tae Dihentikan
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
  • Bentang alam Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Komunitas ini mempertahankan sistem zonasi tradisional sebagai dasar pengelolaan wilayah adat yang diwariskan. Foto Dok. WGII.Paradoks Penetapan Taman Nasional, Pengetahuan Hidup Masyarakat Adat Terancam Punah
    In Lingkungan
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Ilustrsi kunang-kunang. Foto Franciscojaviercorador/Pixabay.com.Kunang-Kunang Kian Langka, Tanda Kualitas Lingkungan Menurun
    In IPTEK
    Minggu, 21 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media