Jumat, 29 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kementerian ATR/BPN Temukan 263 SHGB dan 20 SHM di Kawasan Pagar Laut Tangerang

Walhi menegaskan, penerbitan Sertipikat Hak Atas Tanah (HAT) dalam bentuk SHGB dan SHM pada korporasi maupun perorangan di wilayah laut merupakan pelanggaran hukum.

Senin, 20 Januari 2025
A A
Menteri ATR/BPN Nusron Wahid menggelar konferensi pers soal sertipikasi kawasan pagar laut Tangerang, 20 Januari 2025. Foto Kementerian ATR/BPN.

Menteri ATR/BPN Nusron Wahid menggelar konferensi pers soal sertipikasi kawasan pagar laut Tangerang, 20 Januari 2025. Foto Kementerian ATR/BPN.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Terkait dugaan adanya sertipikat kawasan pagar laut Tangerang, Banten, Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) melakukan investigasi. Menteri ATR/BPN Nusron Wahidmengutus Dirjen Survei dan Pemetaan Pertanahan dan Ruang (SPPR) untuk berkoordinasi dengan Badan Informasi Geospasial (BIG) terkait garis pantai kawasan Desa Kohod.

“Ini untuk memastikan apakah bidang-bidang tanah tersebut berada di dalam atau di luar garis pantai. Data dokumen pengajuan sertipikat yang diterbitkan sejak tahun 1982 akan dibandingkan dengan data garis pantai terbaru hingga tahun 2024,” kata Nusron dalam konferensi pers di Aula PTSL, Jakarta, Senin, 20 Januari 2025.

Hasil temuan awal, Nusron membeberkan, bahwa memang benar terdapat Sertipikat Hak Guna Bangunan (SHGB) dan Sertipikat Hak Milik (SHM) yang terbit di kawasan pagar laut Tangerang, Banten.

Baca juga: Mengenal Virus HMPV, Mengapa Pencegahan Lewat Gaya Hidup Ala Pandemi Covid-19?

Bahwa ada 263 bidang tanah dalam bentuk SHGB dengan kepemilikan sebanyak 234 bidang tanah atas nama PT Intan Agung Makmur dan sebanyak 20 bidang tanah atas nama PT Cahaya Inti Sentosa serta 9 bidang tanah atas nama perorangan. Selain itu terdapat SHM sebanyak 17 bidang.

Nusron menyampaikan, hasil koordinasi pengecekan tersebut menunjukkan, sertipikat yang telah terbit terbukti berada di luar garis pantai, sehingga akan dilakukan evaluasi dan peninjauan ulang.

“Jika ditemukan cacat material, cacat prosedural, atau cacat hukum, sesuai dengan PP (Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2021), maka sertipikat tersebut dapat dibatalkan tanpa harus melalui proses pengadilan, selama usianya belum mencapai lima tahun,” tegas Nusron.

Baca juga: Kasus PMK Ternak di Indonesia Butuh Penanganan Segera dan Serius

Ia juga menyampaikan apresiasinya kepada masyarakat yang telah memanfaatkan aplikasi BHUMI ATR/BPN untuk melakukan pengecekan terkait hal ini. Menurut dia, aplikasi tersebut telah berhasil menjadi sarana transparansi terhadap kinerja jajaran Kementerian ATR/BPN.

Berafiliasi dengan PT Agung Sedayu Group

Sementara berdasarkan penelusuran Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dalam data Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) per 20 Januari 2025 pukul 13.00 WIB, dua perusahaan yang total mendapatkan SHGB sebanyak 254 bidang tanah itu terindikasi berafiliasi dengan PT Agung Sedayu Group, sebuah korporasi pengembang properti raksasa. Afiliasi itu terlihat dari kepemilikan saham PT Agung Sedayu dan PT Pantai Indah Kapuk (PIK) Dua.

Selain itu, afiliasi Agung Sedayu Group terlihat dari bercokolnya nama Belly Djaliel dan Freddy Numberi (Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan 2004-2009) sebagai Direktur dan Komisaris pada dua perusahaan tersebut. Dua nama perorangan tersebut merupakan pengurus pada beberapa entitas usaha Agung Sedayu Group. Nama-nama itu muncul dalam Data AHU Perusahaan yang diakses per 20 Januari 2025 pukul 13.00 WIB.

Baca juga: Pakar UGM Desak Proyek Lahan 20 Juta Ha Ditinjau Ulang, Manfaatkan Lahan Tak Produktif

Kepemilikan saham Agung Sedayu Group melalui entitas usaha dan orang-orang afiliasinya pada dua perusahaan pemegang SHGB di wilayah laut yang dipagari sepanjang 30 kilometer itu semakin menguatkan dugaan banyak pihak, bahwa korporasi pengembang properti raksasa tersebut terlibat dalam kasus pemagaran laut.

Walhi menegaskan, penerbitan Sertipikat Hak Atas Tanah (HAT) dalam bentuk SHGB dan SHM pada korporasi maupun perorangan di wilayah laut merupakan pelanggaran hukum. Pelanggaran atau malpraktik dalam proses penerbitan sertipikat tersebut harus diusut tuntas.

Perampasan ruang laut

Di sisi lain, pemagaran laut ini juga merupakan bentuk dari perampasan ruang laut (ocean grabbing) sebagaimana telah diserukan Walhi terhadap proyek reklamasi di 28 provinsi, termasuk proyek pertambangan pasir laut. Ocean grabbing mengacu pada perampasan penggunaan, kontrol atau akses terhadap ruang laut atau sumber daya dari pengguna sumber daya sebelumnya, pemegang hak atau penduduk.

Baca juga: Gunung Ibu 17 Kali Erupsi, Tim Gabungan Percepat Evakuasi Warga Lima Desa

Perampasan laut terjadi melalui proses tata kelola yang tidak tepat dengan menggunakan tindakan yang merusak mata pencaharian masyarakat atau menghasilkan dampak yang merusak kesejahteraan sosial-ekologis. Perampasan laut dapat dilakukan lembaga publik, kepentingan pribadi atau kepentingan sekelompok orang.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Kementerian ATR/BPNpagar laut TangerangSertipikat Hak Guna BangunanSertipikat Hak MilikWalhi

Editor

Next Post
Diskusi publik di Kota Padang bertajuk "Menanti Pencabutan Izin PLTU Omblin" pada Minggu, 19 Januari 2025 malam. Foto Istimewa.

LBH Padang dan Trend Asia Berharap Hakim Cabut Izin PLTU Ombilin

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media