Dampak perubahan iklim pada produksi tanaman, yaitu pengaruh langsung pada tanaman karena merasakan panas siang hari, sehingga menurunkan produksi dan kualitas biji. Pengaruh tidak langsung, misalnya peningkatan permukaan air laut (salin), kekeringan, banjir, ledakan populasi hama dan penyakit yang parah.
Secara umum, perubahan iklim terjadi yang dinyatakan dengan adanya dampak El Nino di Indonesia. Seperti saat El Nino pada 2002 sampai 2016 berdampak pada penurunan produksi padi. Secara nasional lahan sawah yang terkena kekeringan saat El Nino berkisar 450,000 – 800,000 Ha.
Data produksi padi Indonesia periode 1990-2017 menunjukkan penurunan saat El Nino berkisar 100 ribu ton – 1.7 juta ton, tergantung intensitas El Nino. Rata-rata 300 ribu ha sawah tergenang banjir yang berakibat pada penurunan produksi dan gagal panen.
Ia memberikan dua solusi. Pertama, adaptasi dengan meningkatkan produktivitas dan ketahanan terhadap cekaman iklim, manajemen ketersediaan air, dan stok pangan. Kedua, mitigasi melalui pengurangan emisi Karbondioksida (CO2 ), Metan (CH4 ), dan Nitrous oxide (N2O), restorasi hutan dan pembangunan infrastruktur.
Sementara peran daerah adalah melakukan diversifikasi sumber pangan dari beras sentris menuju pangan lokal yang adaptif. Sebut saja aneka serealia, antara lain jagung lokal, padi berpigmen, hanjeli, sorgum, dan milet. Aneka kacang-kacangan, misalnya tunggak, koro pedang, komak, kacang merah. Aneka umbi-umbian, yaitu singkong, talas, gembilii, ganyong, porang. Juga aneka buah, antara lain pisang dan sukun, sedangkan untuk palma adalah sagu.
“Keunggulan pangan lokal lebih beradaptasi pada kondisi spesifik iklim di Indonesia. Rendah Input sepert pupuk, air dan pestisidaI, lebih bergizi (Nutrisi Mikro, rendah GI, protein dan vitamin). Cocok dengan budaya penduduk lokal,” beber dia.
Tak sekadar melakukan diversifikasi, melainkan juga menjadikan pangan lokal sebagai muatan lokal untuk edukasi di sekolah sejak dini. Juga kesiapsiagaan krisis dengan cadangan pangan daerah yang memadai, serta kolaborasi lintas sektor.
“Karena ketahanan pangan adalah urusan bersama,” imbuh dia.
Solusi sederhana atasi hama wereng
Fenomena yang disebut “Godzilla El Niño” ini diperkirakan membawa risiko kemarau panjang yang tidak hanya menekan produksi padi. Namun juga memicu peningkatan serangan hama seperti penggerek batang padi dan wereng batang cokelat (WBC) di berbagai sentra produksi.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Hermanu Triwidodo menawarkan solusi sederhana, murah, dan dapat dilakukan secara massal oleh petani. Ia menekankan pentingnya langkah preemtif dalam mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), khususnya penggerek batang padi.
“El Nino biasanya diikuti OPT, ada kecenderungan penggerek, biasanya serangannya berat. Kalau tidak hati-hati sejak musim tanam, dampaknya bisa luas. Karena itu perlu gerakan massal,” kata diadi Science Techno Park IPB di Bogor, Kamis, 9 April 2026.
Pendekatan pengendalian hama terpadu (PHT) perlu diperkuat melalui strategi preemtif, yakni pencegahan sebelum musim tanam. Pendekatan ini dinilai jauh lebih efektif dan ekonomis dibandingkan pengendalian setelah terjadi ledakan hama.
Salah satu langkah paling efektif adalah pengumpulan kelompok telur penggerek di fase persemaian. Langkah itu penting dilakukan di awal tanam demi menekan populasi awal.
“Alatnya sederhana, bisa dari botol mineral yang dibalik. Ini langkah praktis untuk mengantisipasi ledakan penggerek sejak dini,” imbuh dia.
Secara ekonomi, langkah preemtif ini terbukti sangat efisien. Satu kelompok telur penggerek padi rata-rata berisi sekitar 50 butir yang dapat menyebabkan kerusakan hingga 300 malai padi atau setara 1,2 kg gabah kering panen (GKP).
Dengan asumsi harga Rp6.500 per kilogram, potensi kerugian mencapai Rp8.125 per kelompok telur. Artinya, tindakan kecil dengan memusnahkan satu kelompok telur saat persemaian mampu mencegah kerugian ekonomi senilai tersebut.
Hermanu juga mengingatkan ancaman terbesar justru datang dari wereng batang cokelat (WBC). Ribuan hektar sawah bisa mengalami gagal panen total dalam itungan hari. Selain kerusakan fisik tanaman, WBC juga berperan sebagai vektor virus kerdil hampa dan kerdil rumput yang membuat tanaman tidak dapat berproduksi.
Sebagai bagian dari solusi, ia mendorong pendekatan partisipatif dengan melibatkan masyarakat, termasuk pelajar. Pengumpulan kelompok telur dapat dijadikan kegiatan edukatif dengan insentif Rp500 hingga Rp2.000 per kelompok telur, bergantung tingkat kepadatan populasi hama.
“Selain membantu petani, langkah ini juga menjadi sarana menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap dunia pertanian,” imbuh dia.
“Pendekatan preemtif murah seperti ini adalah kunci. Kalau kita bisa menahan populasi dari awal, maka ekosistem sawah tetap seimbang, penggunaan insektisida bisa ditekan, dan risiko ledakan hama besar seperti WBC dapat dihindari,” papar dia. [WLC02]






Discussion about this post