Kamis, 27 Agustus 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kesadaran Masyarakat atas Heatstroke dan Heat Stress Rendah, Ini Alasannya

Indonesia perlu segera memiliki sistem peringatan dini dan pedoman nasional mengenai panas ekstrem.

Jumat, 10 Juli 2026
A A
Ilustrasi bocah minum air karena kepanasan. Foto Pezibear/Pixabay.com.

Ilustrasi bocah minum air karena kepanasan. Foto Pezibear/Pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Berbagai penelitian mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM menunjukkan dampak panas merupakan hasil interaksi antara tingkat paparan, kerentanan individu, dan kapasitas adaptasi.

Salah satunya penelitian Annisa Kharismaningtyas yang menemukan hubungan antara suhu maksimum dengan peningkatan kunjungan pasien hipertensi di fasilitas kesehatan, dengan pola efek tertunda yang berbeda-beda. Temuan ini menunjukkan perlindungan terhadap masyarakat tidak cukup dilakukan melalui edukasi individu, tetapi juga memerlukan penyesuaian sistem pelayanan kesehatan, pengaturan jam kerja, hingga tata kelola kegiatan masyarakat.

Berbagai bukti tersebut menunjukkan Indonesia perlu segera memiliki sistem peringatan dini dan pedoman nasional mengenai panas ekstrem. Peningkatan suhu akibat perubahan iklim telah meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan yang sebenarnya dapat diprediksi dan dicegah melalui kebijakan multisektor.

Bukti ilmiah dari berbagai daerah di Indonesia pun semakin memperlihatkan hubungan antara kenaikan suhu dengan peningkatan kunjungan layanan kesehatan, mulai dari layanan ibu dan anak, hipertensi, diabetes mellitus tipe 2, hingga gangguan kecemasan.

Meski demikian, sistem peringatan dini tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap daerah.

“Ambang panas di Jakarta, Yogyakarta, Makassar, Kupang, Medan, atau wilayah dataran tinggi tentu berbeda. Karena itu, sistem peringatan dini sebaiknya tidak hanya menggunakan suhu absolut, tetapi juga mempertimbangkan kelembapan, suhu malam, efek urban heat island, kerentanan penduduk, dan kapasitas layanan kesehatan,” terang dia.

Sistem peringatan dini juga harus diikuti langkah respons yang jelas. Informasi mengenai cuaca panas saja tidak cukup, tetapi harus disertai tingkat risiko beserta tindakan yang perlu dilakukan, seperti edukasi kepada masyarakat, penyesuaian jam sekolah dan jam kerja, kesiapan puskesmas maupun rumah sakit, perlindungan bagi pekerja luar ruangan, hingga pembatasan aktivitas luar ruang pada jam-jam tertentu.

Terkait perlindungan pekerja luar ruangan, pendekatan yang diperlukan bukan melarang masyarakat bekerja. Melainkan menciptakan kondisi kerja yang tetap aman tanpa mengorbankan mata pencaharian.

Upaya yang dapat dilakukan antara lain menyesuaikan jam kerja agar aktivitas berat dilakukan pada pagi atau sore hari, menyediakan waktu istirahat terjadwal di tempat teduh. Juga memastikan ketersediaan air minum dan elektrolit, serta menerapkan sistem saling mengawasi antarrekan kerja untuk mengenali gejala heat stroke sedini mungkin.

Sementara kelompok rentan, seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, serta penyandang penyakit kronis memerlukan pendekatan yang lebih proaktif melalui edukasi, pemantauan kondisi kesehatan, peningkatan ventilasi rumah, hingga penyediaan ruang teduh di tingkat komunitas. Ramadona kembali mengingatkan lansia justru banyak terpapar panas di dalam rumah sehingga intervensi tidak boleh hanya difokuskan pada aktivitas luar ruangan

Ia juga menilai penyesuaian pola aktivitas masyarakat menjadi salah satu bentuk adaptasi yang realistis terhadap meningkatnya kejadian panas ekstrem. Aktivitas fisik berat, olahraga, maupun kegiatan luar ruang sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari ketika suhu dan kelembapan tidak terlalu tinggi.

Perubahan tersebut perlu didukung regulasi yang tidak merugikan pekerja maupun masyarakat. Kesimpulannya, masyarakat Indonesia memang perlu menyesuaikan kebiasaan terhadap panas ekstrem, tetapi perubahan itu hanya akan berhasil jika didukung oleh sistem, mulai dari aturan kerja, desain kota, rumah yang lebih adaptif terhadap iklim, layanan kesehatan yang siap, hingga komunikasi risiko yang jelas.

“Panas ekstrem bukan lagi sekadar cuaca yang tidak nyaman, melainkan sudah menjadi isu kesehatan masyarakat dan ketahanan sosial,” tegas dia. [WLC02]

Sumber; UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: FKKMK UGMHeat StressHeatstrokePanas EkstremSistem Peringatan Dini Cuaca

Editor

Next Post
Tanah longsor di Desa Petir, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Mei 2026. Foto BPBDKabupaten Bogor.

Pulau Jawa Hadapi Tekanan Ekologis, Negara Harus Hentikan Perampasan Ruang Hidup

Discussion about this post

TERKINI

  • Upaya pemadaman karhutla di Kalimantan, 23 agustus 2026. Foto Dok. BNPB.Karhutla Kalimantan, Legislator: Warga Lokal Tak Bisa Terus Disalahkan, Cabut Izin Korporasi yang Terlibat
    In News
    Senin, 24 Agustus 2026
  • Penanganan karhutla di Lampung Timur, 21 Agustus 2026. Foto Dok. BNPB.Karhutla Berulang Bukan Fenomena Iklim, Walhi: Akibat Negara Salah Urus Tak Sampai Akar Masalah
    In Lingkungan
    Senin, 24 Agustus 2026
  • Titik-titik api karhutla di Pulau Kalimantan. Foto Istimewa.Hukuman Korporasi Pembakar Hutan Kalimantan: Cabut Izin dan Pulihkan Lingkungan!
    In News
    Minggu, 23 Agustus 2026
  • Pembangunan On The Rock di kawasan Pantai Watubolong di KBAK Gunungsewu di Kabupaten Gunungkidul, 8 Agustus 2026. (Foto Instimewa)Akses Dibatasi, Negara Harus Investigasi Perizinan Ekspansi Industri Wisata di Pantai Watubolong
    In News
    Minggu, 23 Agustus 2026
  • Visual pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, 20 Agustus 2026. (BNPB)Karhutla Ancaman Serius: Utamakan Penjagaan Sebelum Api Datang, Bukan Pencegahan
    In Bencana
    Sabtu, 22 Agustus 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media