Anggota tim peneliti Puspar UGM, Kurnia Fahmy Ilmawan menjelaskan kekayaan warisan geologi di Sikka tersebar mulai dari bawah laut hingga di puncak gunung di delapan kecamatan. Meliputi Kecamatan Paga, Mego, Magepanda, Palue, Bola, Doreng, Waigete, dan Alok Timur.
Baca Juga: Populasi Perkotaan Capai 5 Miliar Tahun 2030, Perlu Penataan Ruang Pesisir
Kondisi ini memperlihatkan kekayaan warisan geologi perlu dikelola secara bijak untuk kepentingan konservasi, edukasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sebab kekayaan warisan geologi telah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi budaya dan kehidupan masyarakat di Sikka.
Kemudian salah satu lokasi geosite dalam geoheritage Sikka adalah Pantai Ogor Paret, Desa Woloterang, Kecamatan Doreng. Pantai Ogor Paret. Di sana merupakan spot rocky beach yang tersusun aliran lava andesitik yang mengalami pembekuan cepat karena faktor sentuhan air laut saat pembekuannya dan terpapar patahan kompresif yang massif.
Keunikan budaya
Pemahaman atas keindahan alam dan keunikan geologi vulkanik di pantai ini membuat Kelompok Sadar Wisata mulai mengembangkan Ogor Paret menjadi sebuah atraksi wisata. Penyusunan masterplan ini diharapkan berdampak positif bagi masyarakat dan daerah sekitar area geoheritage Pantai Ogor Paret.
Baca Juga: Ikhtiar Warga Balirejo Menjaga Kelestarian Kali Gajahwong
Untuk aspek keragaman budaya (cultural diversity), asisten peneliti, Arkan Syafera menemukan kekayaan budaya Sikka merupakan hasil dari aktivitas beberapa suku di Maumere, yakni suku Sikka-Krowe, Lio, Bajo, Palue, Tana-ai, dan Muhang. Keenamnya terbagi kembali ke dalam sub-etnis. Tiap-tiap suku memiliki kekhasan tersendiri, baik dalam hal bahasa atau logat bicara, motif tenun, tarian, ritual/upacara adat, cerita rakyat dan sebagainya.
Beberapa di antaranya sudah ditampilkan dengan latar belakang geo-site, misalnya syair yang berkembang di sekitar geo-site Tebing Kubah Lava Hokor yang berbunyi “Hokor Watu Apar, guman gogo leron tolor, tubu nane rebu, kota nane korak, ponun puan helang ilin, ga ata maten gateng ata moret (Hokor kampung berbatu, malam runtuh – siang terguling, berpagar besi, bertatakan tempurung, asal mula jin dari gunung, melahap yang mati, menantang yang hidup)”.
Syair ini menceritakan orang-orang Hokor berkampung batu dan selalu menang dalam perang. Juga mewujud menjadi tarian bernama Tari Bebing sebagai simbol heroisme tentang perjuangan para leluhur yang telah memperjuangkan dan mempertahankan wilayah kekuasannya di wilayah Hokor.
Baca Juga: Bumi Rusak, Dampak Manusia Abaikan Ibadah dengan Urusan Lingkungan
Dalam pandangan Arkan, budaya tersebut membuat geosite lebih menarik untuk dikunjungi, dinikmati, dan dipelajari. Tidak hanya itu, ada produk kreatif warga sekitar seperti tenun ikat, olahan kakao, kopi, dan lainnya mampu dikembangkan sebagai geoproduk yang melengkapi geotrail yang kelak akan dirumuskan. Pemkab Sikka pun sudah menetapkan produk tenun ikatnya sebagai Indikasi Geografis.
“Saya kira penting pula dilengkapi informasi aspek geobiodiversity yang menyajikan keragaman jenis flora-fauna endemik sebagai pelengkap dari taman bumi yang ajukan pemkab Sikka ke pemerintah pusat,” papar Arkan. [WLC02]
Sumber: UGM
Discussion about this post