Selasa, 10 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kolang-kaling dan Konservasi Hutan Batang Toru

Pohon aren bagian konservasi alam di wilayah Sitandiang, Sipirok, dari kearifan lokal masyarakat dalam bidang lingkungan.

Selasa, 25 Maret 2025
A A
Proses pengolahan buah aren atau enau (Arenga pinnata), kolang-kaling di Dusun Sitandiang, Desa Bulumario, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Foto Khairulid.

Proses pengolahan buah aren atau enau (Arenga pinnata), kolang-kaling di Dusun Sitandiang, Desa Bulumario, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Foto Khairulid.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Saban menjelang puasa, Gusmiati Siregar (28) memiliki kesibukan rutin di pondok ladangnya di Dusun Sitandiang, Desa Bulumario, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Ini saatnya membuat kolang-kaling, panganan tradisional yang laris pada bulan puasa dan Lebaran.

Pagi menjelang siang, dia sedang merapikan janjang buah aren yang dipanen dari pohon dekat pondoknya yang berada di tepian hutan Batangtoru. Merupakan tugas kaum lelaki memanen janjang itu dari pohon, sementara kaum perempuan memasaknya.

Tahapan pertama dari olahan itu adalah merebus. Buah dimasukkan ke dalam tong rebusan. Selama dua jam, kayu-kayu kering yang diambil dari hutan sekitar, menjadi bara api yang menyala kuat. Setelah dingin, buah aren dipotong ujungnya, lalu dengan alat penekan sederhana, buah kolang-kaling yang putih seperti rambutan, dikeluarkan dari cangkangnya. Setiap buah aren biasanya berisi tiga kolang-kaling, namun kadang ada juga yang berisi empat.

Baca Juga: Perubahan Iklim Tahap Kritis, Kekeringan dan Banjir Terus Berlanjut Tiap Tahun

Kolang-kaling yang baru selesai direbus itu masih belum bisa dimakan. Masih harus diproses lagi. Dipukul-pukul hingga pipih dan kemudian direndam dengan air biasa. Setelah sepekan dalam rendaman, jadilah kolang-kaling itu bentuknya pipih seperti yang biasa ditemukan di pasar. Nantinya bisa diolah menjadi manisan, dikolak atau bahan untuk es campur.

“Kalau tidak direndam, tidak bisa dimakan. Akan gatal,” kata Gusmiati.

Bagi Gusmiati, usaha membuat kolang-kaling ini hanyalah kegiatan tahunan. Sekitar dua minggu menjelang dan saat puasa. Melalui proses yang panjang itu, dapat dihasilkan sekitar 200 kg kolang-kaling. Dijual Rp 6 ribu per kg kepada pengepul yang datang menjemput ke rumah. Lumayan sebagai tambahan biaya rumah tangga bagi warga dusun ini.

Bagian Konservasi

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: hasil hutanHutan Lindung Batang Toru Blok BaratKabupaten Tapanuli SelatanKecamatan SipirokKolang Kalingkonservasi alampohon arenSumatera Utara

Editor

Next Post
Dosen Teknologi Pertanian UGM, Bayu Dwi Apri Nugroho. Foto Dok. UGM

Bayu Dwi Apri, Kenaikan Suhu Bumi Ancaman Ketahanan Pangan Nasional

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi rumah adat Sumatra Barat. Foto IndrabinYusuf/pixabay.com.Program Gentengisasi, Pakar Ingatkan Rumah Tradisional di Indonesia Tak Seragam 
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi makanan daging. Foto johnstocker/freepik.com.Diet Karnivora Tidak Aman, Ini Risikonya
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi kelelawar di pepohonan. Foto ignartonosbg/pixabay.com.Pakar Ingatkan, Virus Nipah Berpotensi Menular Antarmanusia
    In Rehat
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, 6 Februari 2026. Foto BPBD Tegal.Bencana Tanah Bergerak di Tegal, Dua Ribu Lebih Warga Mengungsi
    In Bencana
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Ilustrasi manusia terdampak cuaca panas ekstrem. Foto Franz26/pixabay.com.Dampak Cuaca Ekstrem, Suhu, Banjir dan Longsor Meningkat 16 Tahun Terakhir
    In News
    Jumat, 6 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media