Tiga Masalah Fundamental BRIN
Saat ini ada tiga permasalahan fundamental riset dan inovasi di Indonesia, yaitu rendahnya SDM unggul, infrastruktur, dan anggaran. Persoalan SDM yang dirasa paling berat.
Baca Juga: Gempa di Kota Jayapura Masih Terjadi Pengungsi dan Kerusakan Bertambah
“Membangun SDM perlu waktu. Untuk melahirkan satu ahli nuklir yang lulus S3, kami harus menunggu mereka lulus sekolah lima tahun. Itu berat dan sulit,” ungkap Handoko.
Hampir semua bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di BRIN, menurut Handoko menemui masalah yang sama soal SDM yang rendah. Pemerintah pun membuat program manajemen talenta nasional riset dan inovasi untuk mendorong dan meningkatkan SDM unggul. Salah satunya di bidang riset dan inovasi. Program Manajeman Talenta Nasional di Deputi SDM Iptek membuka 11 ribu kuota untuk manajemen talenta riset, baik degree by research maupun postdoc tiap tahun.
Terbentuknya BRIN diharapkan tidak sekedar mengintegrasikan unit riset di kementerian dan lembaga. Namun mengkonsolidasikan seluruh sumber daya riset, yaitu SDM, infrastruktur, dan anggaran. Juga melakukan perubahan tata kelola dan pola kerja periset secara fundamental.
Baca Juga: Lubang Bekas Tambang di Kukar Makan Korban Lagi, Jatam Desak Ada Sanksi
Mendorong R&D Non Pemerintah
Selain itu, BRIN juga tengah mendorong Research and Development (R&D) non pemerintah, terutama industri, agar semakin besar. Kian besar jumlah R&D non pemerintah menjadi indikator utama kinerja BRIN ke depan.
Salah satu instrumen pendorongnya adalah BRIN telah membuka skema open platform dan kolaborasi riset dengan industri. Juga dukungan adanya regulasi dengan kebijakan super tax deduction bagi industri yang berhasil mengembangkan R&D.
“Itu sudah ada instrumennya. Tinggal kami dorong ke arah sana,” ucap Handoko.
Baca Juga: Gempa Kota Jayapura 9 Februari 2023, Empat Warga Meninggal dan Ratusan Mengungsi
Kebijakan tersebut dinilai dapat memperbaiki ekosistem riset dan inovasi di Indonesia yang selama ini dianggap Handoko tidak berkembang. Meskipun saat ini Indonesia secara ekomoni sudah bagus, tetapi belum cukup bagus bisa lepas dari jebakan income middle trap.
“Nah, pengungkit yang bisa melepas itu hanya riset dan inovasi. Supaya kita tidak sekedar menjual nikel, tapi bisa mengolahnya menjadi value lain. Ini perlu riset, perlu SDM unggul,” sebut Handoko.
Baca Juga: Potensi Perubahan Iklim, Prakirawan Pastikan Data Prakiraan Musim Akurat
BRIN juga menyokong hilirisasi hasil tambang agar bisa disupport. Tidak hanya mendatangkan teknologi dari luar.
“Kami bangun pusat riset teknologi pertambangan di Lampung. Itu fokus kami (mengolah nikel). Memang tidak bisa satu-dua tahun selesai. Ya, Insya Allah, mudah-mudahan tahun depan kami sudah bisa menunjukan perbedaan yang signifikan,” pungkas pakar fisika tersebut. [WLC02]
Sumber: BRIN







Discussion about this post