Sabtu, 30 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Masyarakat Sipil Dorong OJK Serius Implementasikan Taksonomi Hijau Demi Energi Terbarukan

Jika sebelumnya banyak perbankan turut membiayai proyek-proyek batu bara, kini OJK meluncurkan Taksonomi Hijau 1.0 yang diharapkan untuk pembiayaan transisi energi menuju energi terbarukan.

Minggu, 18 September 2022
A A
Ilustrasi bumi. Foto geralt/pixabay.com.

Ilustrasi bumi. Foto geralt/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Awal 2022, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan program Taksonomi Hijau versi 1.0. Program ini jadi panduan bersama untuk mengetahui kegiatan ekonomi mana saja yang berbahaya dan tidak berbahaya bagi lingkungan. Kehadiran Taksonomi Hijau diharapkan mampu mendorong akselerasi pembiayaan transisi energi yang mendukung upaya perlindungan lingkungan hidup dan mitigasi, serta adaptasi perubahan iklim yang sejalan dengan komitmen Indonesia menuju net zero emission.

Masyarakat sipil mendorong OJK menerapkan Taksonomi Hijau sejalan dengan prinsip transisi berkeadilan (just transition). Harapannya, keberlanjutan lingkungan serta prinsip sosial dan HAM dalam proses transisi energi menuju energi bersih terbarukan dapat terlaksana dengan baik.

Melalui siaran pers yang diterima Wanaloka.com, 15 September 2022, Program Manager dari Perkumpulan Prakarsa, Herni Ramdlaningrum menilai Taksonomi Hijau 1.0 muncul dari peningkatan kesadaran global terkait pentingnya aspek keberlanjutan. Mengingat Industri keuangan merupakan aktor penting mencapai agenda perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Baca Juga: Studi Oxford, Transisi Cepat ke Energi Terbarukan Lebih Mahal adalah Salah

Meski demikian, ada beberapa catatan penting yang perlu digarisbawahi terkait Taksonomi Hijau di Indonesia. Salah satunya soal penggunaan labelisasi “lampu merah”, yakni merah, kuning, hijau.

“Sub-sektor kuning dinilai merupakan sebuah kompromi dan berpotensi menyesatkan,” jelas Herni yang mencontohkan perusahaan yang mendapat label kuning antara lain industri batu bara.

Taksonomi Hijau 1.0 juga masih memiliki kelemahan apabila dilihat dari sisi dimensi inklusivitas, kesetaraan gender, dan penegakan HAM.

“OJK harus mengambil posisi tegas terkait beberapa sektor yang masih dilabeli kuning karena akan kontra produktif dengan agenda transisi energinya,” imbuh Herni.

Herni berharap OJK memiliki timeframe yang jelas untuk memutuskan secara serius dengan mempertimbangkan dimensi sosial.

“Semoga yang dikategorikan kuning (seperti batu bara) dapat berubah menjadi merah,” kata Herni.

Baca Juga: Jepang Hentikan Pinjaman Proyek PLTU Indramayu, Walhi: Perbankan Juga Harus Hentikan Pendanaan

Analis Senior Climate Policy Initiative, Luthfyana Larasati menambahkan terjadi tren peningkatan partisipasi sektor swasta di sektor investasi hijau sejak ditetapkannya Peraturan OJK Nomor 51 Tahun 2017 tentang Keuangan Berkelanjutan hingga adanya Taksonomi Hijau 1.0.

“Taksonomi Hijau seharusnya berpeluang memperlebar cakupan pelaporan kegiatan berkelanjutan POJK 51, karena telah mencakup 919 sub sektor yang sesuai dengan Standar Klasifikasi Industri Indonesia (KBLI),” papar Luthfyana.

Sejauh ini baru terdapat 15 sub-sektor atau kegiatan usaha yang berkategori hijau. Kemudian 422 sub-sektor berlabel kuning yang artinya perlu pemenuhan prasyarat untuk mendapatkan pembiayaan. Serta 482 berlabel merah, yaitu kegiatan yang merusak lingkungan, artinya lebih dari 50 persen sub-sektor dinilai tidak selaras dengan tujuan iklim dan transisi energi Indonesia menuju net-zero.

Baca Juga: IPCC: Krisis Iklim Memakan Korban Jiwa, Perbankan Harus Hentikan Pendanaan Batu Bara

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: energi terbarukanmasyarakat sipilOJKTaksonomi HijauTaksonomi Hijau 1.0transisi energi

Editor

Next Post
Ilustrasi ternak sapi. Foto Wanaloka.com

Wabah PMK, Ini Aturan Baru Lalu Lintas Hewan Rentan PMK

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media