Senin, 14 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Mengapa Karhutla di Lahan Gambut Sulit Padam?

PP 71 Tahun 2014 telah mengatur batas tinggi muka air gambut 40 cm agar kondisi permukaan tetap lembap.

Rabu, 26 Agustus 2026
A A
Pemadaman api di lahan gambut di Kalimantan. Foto Dok. Kemenhut.

Pemadaman api di lahan gambut di Kalimantan. Foto Dok. Kemenhut.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut Kalimantan bukan sekadar soal menghentikan kobaran api. Meskipun di permukaan api terlihat padam, bara dapat bertahan dan terus menjalar. Membuat api sulit benar-benar ditaklukkan.

“Sulitnya pemadaman karhutla di Kalimantan berkaitan erat dengan karakteristik lahan gambut yang mudah mengering dan menyimpan bara di bawah permukaan,” ujar Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan sekaligus Kepala Pusat Studi Bencana IPB University, Prof. Bambang Hero Saharjo.

Api di lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan ketika telah masuk ke lapisan gambut dan masih menyisakan material yang belum terbakar. Bara tersebut berpotensi kembali memicu kebakaran, terutama ketika hujan belum turun dan kondisi gambut tetap kering.

“Kondisi gambut yang mengering akan menjadi bahan bakar yang sangat efektif untuk terjadinya kebakaran yang berkesinambungan,” kata dia.

Bambang juga menyebut tantangan utamanya tidak hanya berasal dari api, tetapi juga keterbatasan sumber daya pendukung. Ketersediaan air yang minim menjadi salah satu kendala karena muka air telah turun hingga kedalaman tertentu sehingga sulit dimanfaatkan untuk proses pemadaman.

Penurunan muka air tersebut membuat gambut semakin kering dan sensitif terhadap kebakaran. Fenomena El Nino dan kekeringan juga dapat mempercepat proses pengeringan.

“Sumber air lain seperti sumur bor menjadi tidak berfungsi, begitu juga kanal-kanal yang sudah dibangun, tetapi air yang tersedia sangat terbatas,” ujar Bambang.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB UniversityKarhutla Kalimantanlahan gambutPP 71 Tahun 2014Profesor Bambang Hero SaharjoPusat Studi Bencana IPB University

Editor

Next Post
Ilustrasi sinar matahari memerah di tengah karhutla. Foto Istimewa.

Mengapa Matahari Memerah di Tengah Karhutla?

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media