Baru-baru ini, pemerintah cukup gencar menggaungkan kampanye energi baru terbarukan (EBT) yang menjadi upaya untuk keluar dari ketergantungan terhadap energi fosil. Sementara apabila pola produksi dan distribusi energi yang dianggap terbarukan itu masih didasarkan untuk pemenuhan kepentingan bisnis, hal tersebut bukan solusi. Melainkan akan memicu persoalan baru. Abimanyu mencontohkan, panel surya. Sementara bahan dasar pembuatan panel juga dari tambang.
“Apabila satu kota pakai panel semua, bayangkan berapa bukit yang hilang gara-gara menyediakan panel itu? Itu tidak bisa dipisahkan ketika kita ngomongin energi dari hulu ke hilir,” tutur Abimanyu.
Baca Juga: Banjir di Jember, Satu Orang Meninggal dan Satu Orang Dilaporkan Hilang
Semestinya, Abimanyu menjelaskan, konsep keadilan energi dalam tema yang diusung itu setidaknya dapat dirumuskan dalam tiga indikator. Pertama, pasokan energi harus melihat kebutuhan sebenarnya dari masyarakat. Kedua, kebijakan yang diambil perlu melibatkan masyarakat secara luas, baik dalam penentuan jenis energi, penggunaan energi, dampak yang akan dihasilkan, serta cara mereka mengatasi dampak negatifnya. Ketiga, meminimalisir dampak-dampak lingkungan yang akan hadir.
“Yang lebih mengetahui rantai produksi di tiap daerah sebenarnya masyarakat itu sendiri. Misalnya, kebutuhan energinya berapa, apa yang masyarakat punya untuk dipenuhi kebutuhan energinya. Juga kemungkinan dampaknya. Mereka bisa menilai itu,” tutur Abimanyu.
Semua bisa bangun gagasan soal lingkungan

BET adalah bagian dari proses perekrutan tiap tahun yang dimulai sejak 2012. Peserta pada 2022 sebanyak 23 orang yang sebagian besar adalah mahasiswa tingkat sarjana dari sejumlah perguruan tinggi di Yogyakarta dan Wonosobo, Jawa Tengah.
Materi yang disampaikan meliputi Pengantar ke-Walhi-an dan Advokasi Lingkungan Hidup, Kapitalisasi Sumber Daya Energi, Politik Energi dan Sumber Daya Alam, Advokasi Kebijakan, Dampak Eksploitasi Energi, Cerita dari Warga Area PLTU, Ekofeminisme dan Politik Ruang, dan Keadilan Energi.
Usai pelatihan, peserta bergabung menjadi bagian dari Sahabat Lingkungan (Shalink). Shalink merupakan organisasi pendukung kerja-kerja advokasi lingkungan hidup Walhi Yogyakarta.
“Kalau dulu, yang selalu menyuarakan adalah organisasi yang fokus di lingkungan. Sekarang, semua bisa mendiskusikan atau membangun gagasan tentang persoalan lingkungan,” tutur Direktur Walhi Yogyakarta Halik Sandera.
Baca Juga: Ada Elang Caraka dan SPORC untuk Amankan Hutan, Begini Cara Kerjanya
Salah satu perserta, Hazima menyerukan, bahwa mewujudkan keadilan energi dapat menjadi upaya untuk keluar dari silang persoalan energi di Indonesia saat ini.
“Wujudkan keadilan energi untuk kehidupan yang lebih baik,” tutur dia. [WLC02]







Discussion about this post