Senin, 6 April 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Mengenal Persoalan Energi dari Hulu ke Hilir Bersama Walhi Yogyakarta

Kebutuhan energi di Indonesia masih bergantung pada listrik. Listrik dipasok dari batu bara. Pengadaan batu bara menyisakan kerusakan lingkungan dan aneka persoalan. Dan kebutuhan energi masyarakat dikalahkan kepentingan pasar.

Senin, 10 Januari 2022
A A
Suasana sejuk di hilir Kali Kuning di Sleman. Foto wanaloka.com.

Suasana sejuk di hilir Kali Kuning di Sleman. Foto wanaloka.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Baru-baru ini, pemerintah cukup gencar menggaungkan kampanye energi baru terbarukan (EBT) yang menjadi upaya untuk keluar dari ketergantungan terhadap energi fosil. Sementara apabila pola produksi dan distribusi energi yang dianggap terbarukan itu masih didasarkan untuk pemenuhan kepentingan bisnis, hal tersebut bukan solusi. Melainkan akan memicu persoalan baru. Abimanyu mencontohkan, panel surya. Sementara bahan dasar pembuatan panel juga dari tambang.

“Apabila satu kota pakai panel semua, bayangkan berapa bukit yang hilang gara-gara menyediakan panel itu? Itu tidak bisa dipisahkan ketika kita ngomongin energi dari hulu ke hilir,” tutur Abimanyu.

Baca Juga: Banjir di Jember, Satu Orang Meninggal dan Satu Orang Dilaporkan Hilang 

Semestinya, Abimanyu menjelaskan, konsep keadilan energi dalam tema yang diusung itu setidaknya dapat dirumuskan dalam tiga indikator. Pertama, pasokan energi harus melihat kebutuhan sebenarnya dari masyarakat. Kedua, kebijakan yang diambil perlu melibatkan masyarakat secara luas, baik dalam penentuan jenis energi, penggunaan energi, dampak yang akan dihasilkan, serta cara mereka mengatasi dampak negatifnya. Ketiga, meminimalisir dampak-dampak lingkungan yang akan hadir.

“Yang lebih mengetahui rantai produksi di tiap daerah sebenarnya masyarakat itu sendiri. Misalnya, kebutuhan energinya berapa, apa yang masyarakat punya untuk dipenuhi kebutuhan energinya. Juga kemungkinan dampaknya. Mereka bisa menilai itu,” tutur Abimanyu.

Semua bisa bangun gagasan soal lingkungan

Basic Environmental Training (BET) yang digelar Walhi Yogyakarta pada 3-6 Januari 2022. Foto walhi-jogja.or.id.
Basic Environmental Training (BET) yang digelar Walhi Yogyakarta pada 3-6 Januari 2022. Foto walhi-jogja.or.id.

BET adalah bagian dari proses perekrutan tiap tahun yang dimulai sejak 2012. Peserta pada 2022 sebanyak 23 orang yang sebagian besar adalah mahasiswa tingkat sarjana dari sejumlah perguruan tinggi di Yogyakarta dan Wonosobo, Jawa Tengah.

Materi yang disampaikan meliputi Pengantar ke-Walhi-an dan Advokasi Lingkungan Hidup, Kapitalisasi Sumber Daya Energi, Politik Energi dan Sumber Daya Alam, Advokasi Kebijakan, Dampak Eksploitasi Energi, Cerita dari Warga Area PLTU, Ekofeminisme dan Politik Ruang, dan Keadilan Energi.

Usai pelatihan, peserta bergabung menjadi bagian dari Sahabat Lingkungan (Shalink). Shalink merupakan organisasi pendukung kerja-kerja advokasi lingkungan hidup Walhi Yogyakarta.

“Kalau dulu, yang selalu menyuarakan adalah organisasi yang fokus di lingkungan. Sekarang, semua bisa mendiskusikan atau membangun gagasan tentang persoalan lingkungan,” tutur Direktur Walhi Yogyakarta Halik Sandera.

Baca Juga: Ada Elang Caraka dan SPORC untuk Amankan Hutan, Begini Cara Kerjanya

Salah satu perserta, Hazima menyerukan, bahwa mewujudkan keadilan energi dapat menjadi upaya untuk keluar dari silang persoalan energi di Indonesia saat ini.

“Wujudkan keadilan energi untuk kehidupan yang lebih baik,” tutur dia. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: AbimanyuEBTEnergiHalik Sanderakeadilan energikerusakan lingkunganKonservasi lingkunganlistrikpanel suryaSahabat LingkunganViky ArthiandoWalhi Yogyakarta

Editor

Next Post
Kondisi gapura miring dampak banjir di Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang terjadi pada Minggu, 9 Januari 2022. Foto Dok BNPB.

Korban Meninggal Dunia Dampak Banjir di Jember Bertambah

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media