“Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, puncak kasus terjadi pada Agustus 2025 dengan subklade K sebagai yang dominan,” jelas dia.
Berdasarkan data sekuens genetik, subklade K mengalami genetic drift, yakni perubahan genetik yang dapat memengaruhi karakteristik virus. Namun jumlah kasus flu telah mencapai titik datar dan menurun stabil sejak pertengahan Desember 2025.
“Tingkat positivitas tes flu mingguan juga turun menjadi sekitar 4 persen, meski musim flu tahun ini tercatat datang satu bulan lebih awal dengan jumlah kasus tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun 2024,” papar dia.
Baca juga: Gempa Bumi Magnitudo 7,1 Guncang Kepulauan Talaud
Untuk pencegahan, ia menekankan pentingnya vaksinasi influenza. Vaksin flu terbukti menurunkan risiko kunjungan ke fasilitas kesehatan atau rawat inap akibat flu hingga 70–75 persen pada anak dan sekitar 30–40 persen pada orang dewasa.
Masyarakat juga diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker saat sakit, beristirahat di rumah, serta menjaga etika batuk dan kebersihan tangan.
“Sebagian besar kasus flu memang sembuh sendiri, tetapi komplikasi serius dapat terjadi, terutama pada anak kecil, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, dan tenaga kesehatan,” terang dia.
Kasus flu lebih banyak ditemukan pada kelompok anak, remaja, dan lansia. Anak dan remaja rentan karena tingginya kontak di lingkungan sekolah, sementara lansia berisiko mengalami sakit berat akibat penyakit penyerta dan penurunan fungsi kekebalan tubuh. Kewaspadaan dan upaya pencegahan tetap perlu ditingkatkan meskipun superflu bukan merupakan penyakit baru. [WLC02]
Sumber: IPB University







Discussion about this post