Penelitian mengenai virus Hanta di Indonesia telah dilakukan sejak 1991 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Kementerian Kesehatan, khususnya di wilayah Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. Penelitian tersebut menjadi bagian dari upaya pemantauan penyakit zoonosis dan identifikasi rodensia yang berpotensi menjadi reservoir virus di Indonesia.
Gejala awal infeksi virus Hanta sering menyerupai influenza, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, lemas, hingga gangguan pencernaan. Karena gejalanya tidak spesifik, diagnosis dini kerap terlambat dilakukan. Pada kondisi berat, infeksi dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan serius yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.
Ristiyanto menyebutkan tingkat kematian akibat HPS tergolong tinggi, yakni berkisar 20–35 persen. Kewaspadaan terhadap paparan rodensia dan deteksi dini menjadi faktor penting dalam pencegahan penyakit ini.
Hingga saat ini, Indonesia belum pernah melaporkan kasus virus Andes. Selain itu, berdasarkan hasil riset vektor dan reservoir penyakit di Indonesia pada periode 2015–2018, virus Andes juga tidak ditemukan pada kelompok tikus domestik, peridomestik, maupun silvatik yang diteliti.
Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat Indonesia memiliki keanekaragaman rodensia yang tinggi, kepadatan penduduk besar, serta kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan populasi tikus.
Sementara Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Arief Mulyono meminta masyarakat perlu memahami informasi mengenai virus Andes secara proporsional. Meski terdapat laporan ilmiah mengenai kemungkinan penularan antarmanusia, karakteristik penyebarannya sangat berbeda dengan penyakit yang mudah menular seperti influenza, campak, maupun Covid-19.
“Penularan antarmanusia pada virus Andes sangat jarang terjadi. Umumnya hanya berlangsung melalui kontak erat dan intensif dalam waktu lama. Penyakit ini tidak menyebar cepat melalui udara di lingkungan masyarakat,” ujar Arief.
Ia juga meluruskan anggapan, bahwa temuan kasus pada pasangan intim tidak otomatis menjadikan virus Andes sebagai penyakit menular seksual. Penularan lebih mungkin terjadi akibat kedekatan fisik yang sangat intens, termasuk paparan air liur atau sekret pernapasan pada fase akut penyakit.
Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar virus Hanta antara lain pekerja pertanian, petugas kebersihan, pekerja kehutanan, penghuni wilayah pedesaan, serta masyarakat yang membersihkan gudang atau bangunan tertutup yang lama tidak digunakan. Risiko penularan meningkat pada ruangan dengan ventilasi buruk yang terkontaminasi kotoran tikus.
Untuk mencegah infeksi virus Hanta, masyarakat disarankan menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi. Area tersebut sebaiknya disemprot disinfektan terlebih dahulu dan tidak langsung disapu agar partikel debu tidak beterbangan di udara.
Penguatan surveilans, pengendalian tikus, edukasi masyarakat, serta pendekatan One Health menjadi langkah penting dalam mencegah munculnya penyakit zoonosis seperti virus Hanta. Yang terpenting, masyarakat tetap tenang, waspada, dan memahami langkah pencegahan yang benar.
Kemenkes mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan tikus dan kotorannya, menyimpan makanan di tempat tertutup, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam, nyeri badan, batuk, atau sesak napas.
Masyarakat diharapkan tetap tenang dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan pakai sabun, sebagai langkah utama pencegahan penyakit virus Hanta. [WLC02]
Sumber: Kementerian Kesehatan, BRIN






Discussion about this post