Sabtu, 26 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Menguak Asal Usul Penyu Indonesia Lewat Sidik Jari Genetik yang Berbeda

Genetika bisa menjadi jendela untuk menelusuri silsilah penyu. Dari nenek moyang mereka hingga melihat seberapa erat keterhubungan antarkelompok dari pulau ke pulau.

Sabtu, 2 Agustus 2025
A A
Ilustrasi penyu. Foto ambquinn/pixabay.com.

Ilustrasi penyu. Foto ambquinn/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Di kawasan ini, tim menemukan populasi penyu dari Kwatisore dan Pulau Yapen punya komposisi genetik yang berbeda meski secara geografis tidak terlalu berjauhan.

Apa yang menyebabkan perbedaan itu?

Ternyata jawabannya adalah arus laut. Selama musim angin barat laut, arus laut bertindak seperti pagar alami, menghalangi pertukaran genetik antarpopulasi. Akibatnya, penyu dari wilayah satu dan lainnya berkembang dengan jalur evolusi masing-masing. Mereka seperti dua saudara yang tinggal di desa berbeda dan tumbuh dengan budaya sendiri-sendiri.

Baca juga: Menjaga Mangrove Lewat Stop Buang Sampah, Terbitkan Regulasi dan Gandeng Kampus

Pemetaan ini membagi populasi penyu lekang ke dalam beberapa klad. Salah satu klad besar terdiri dari lima lokasi di Indonesia bagian barat seperti Aceh, Pariaman, Panggul, Serangan, dan Tuafanu dan punya koneksi genetik dengan populasi dari India. Sementara klad lainnya ditemukan di timur Indonesia yakni Kapoposang, Pulau Yapen, dan Teluk Cendrawasih.

Australia sendiri ternyata berbagi sebagian besar haplotipe dengan wilayah Indonesia.

“Bayangkan betapa menakjubkan seekor penyu yang bertelur di pesisir Papua ternyata punya ikatan genetik dengan sepupu jauhnya di pesisir barat India,” ungkap Begin.

Baca juga: Wilayah Tektonik Kamchatka Mirip Pantai Barat Sumatra, Pantai Selatan Jawa dan Utara Halmahera

Dasar merumuskan konservasi

Temuan-temuan ini bukan hanya jadi catatan ilmiah semata. Ia memberi pesan yang tegas, konservasi tak bisa disamaratakan. Populasi penyu dengan genetik berbeda tentu membutuhkan pendekatan yang juga berbeda. Ini seperti meracik obat yang tidak semua pasien bisa disembuhkan dengan resep yang sama.

Konservasi yang selama ini mengandalkan model umum, kini harus lebih presisi. Di daerah dengan keragaman genetik tinggi, strategi pelestarian harus fokus menjaga variasi agar tak hilang. Sebaliknya, di wilayah dengan pertukaran genetik rendah, perlu pendekatan yang bisa menjaga populasi agar tak menyusut akibat perkawinan sedarah atau jumlah individu yang terlalu sedikit.

“Fakta ini mengingatkan bahwa penyu kita tidak bisa lagi diperlakukan sebagai satu populasi tunggal. Mereka unik. Mereka punya identitas genetik masing-masing,” kata dia.

Baca juga: Muka Air Laut di Wilayah Indonesia Naik di Bawah 0,5 Meter Usai Gempa M8,7 Rusia, Berbahayakah?

Dan bila satu populasi punah, misalnya di Teluk Cendrawasih, maka haplotipe yang hanya ada di sana bisa hilang selamanya. Tidak bisa digantikan oleh populasi dari Aceh, apalagi dari Australia, inilah urgensi konservasi berbasis genetika.

Pengetahuan tentang struktur genetika ini membuka pintu untuk menyusun rencana konservasi yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan. Tak hanya menjaga lingkungan, upaya ini juga menyentuh ranah ekonomi lokal, budaya pesisir, hingga industri pariwisata yang bertumpu pada keindahan laut.

Dengan pendekatan ini, Begin menyimpulkan, konservasi tak lagi sekadar menjaga agar penyu tetap hidup. Namun memastikan mereka tetap menjadi bagian dari simfoni laut tropis yang utuh, lestari, dan diwariskan hingga generasi mendatang. [WLC02]

Sumber: IPB University

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Universitypenyusidik jari

Editor

Next Post
Masjid Al Muharram, salah satu masjid ramah lingkungan yang terletak di Bantul, DIY. Foto Gerakan Sedekah Sampah.

Masjid Ekoteologi, Tempat Ibadah Sekaligus Pelestari Lingkungan

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media