Erupsi pada Gunung Marapi ini dikenal juga dengan letusan freaktik yang kerap terjadi pada gunung berapi. Tidak semua gunung mungkin mengalami letusan freaktik. Pada erupsi freaktik, gunung memuntahkan material debu vulkanik, tetapi tak melelehkan cairan magma sehingga erupsi freaktik dapat terjadi tanpa memunculkan gejala sebelumnya.
Akibat Sesar Sumatera?
Menurut Mirzam, bencana erupsi Gunung Marapi secara tiba-tiba ini dapat dipengaruhi juga oleh faktor eksternal yang dapat berpengaruh pada stabilitas geologi di sekitarnya.
Baca Juga: Gempa Bumi Sukabumi Diduga Aktivitas Vulkanik Gunung Salak
Sebagai informasi, posisi Gunung Marapi hanya sekitar 5 kilometer dari Sesar Sumatera. Sesar atau Patahan Sumatera ini membentang sepanjang 1.900 kilometer dari Banda Aceh hingga Teluk Semangko, di Selatan Lampung.
“Kalau kita buka Google Maps, bagian barat Gunung Marapi terpotong Patahan Sumatera. Bisa enggak kemudian faktor eksternal seperti ini menjadi faktor letusan yang kejadiannya tiba-tiba seperti ini? Ini bisa saja terjadi,” ungkap Mirzam.
Selain itu, bebatuan yang berada di bawah Gunung Marapi dan sudah dalam kondisi tercacah menjadi blok-blok kecil juga dapat berpotensi membuat keadaan gunung menjadi tidak stabil.
Baca Juga: Aktivitas Kawah Bromo Meningkat, Radius Aman Lebih dari 1 Km
“Ketika blok itu sudah tercacah-cacah, sangat mudah saat kondisinya tidak stabil. Tiba-tiba masuk serta anjlok ke dalam dapur magma. Jadi adanya ketidakseimbangan itu dapat berakibat pada letusan yang sulit diprediksi ini,” ujar dia.
Di Sumatera terdapat beberapa gunung berapi yang karakternya disebut mirip dengan Gunung Marapi ini. Sebut saja Gunung Singgalang di Sumatera Barat, Gunung Dempo di Sumatera Selatan, serta Gunung Kerinci di perbatasan Jambi dengan Sumatera Barat. Gunung-gunung tersebut posisinya berdekatan dan mempunyai karakter geologi yang serupa.
Terkait erupsi Gunung Marapi yang terjadi secara tiba-tiba serta sulit diprediksi ini, penting pula untuk masyarakat mengetahui dan lebih memahami mitigasi bencananya. Mitigasi ini sebagai upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak atau risiko yang disebabkan aktivitas gunung berapi.
“Pada dasarnya setiap aktivitas gunung berapi yang ada di Indonesia sudah ada monitoring tersendiri. Namun jangan lupakan juga mengenai sejarah ledakannya, periodenya berapa tahun, bagaimana karakter dari gunung berapi tersebut. Hal-hal ini perlu diperhatikan, sehingga model mitigasinya juga dapat mempertimbangkan berbagai faktor,” kata Mirzam. [WLC02]
Sumber: ITB
Discussion about this post