Selasa, 30 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Gempa Bumi Sukabumi Diduga Aktivitas Vulkanik Gunung Salak

Kamis, 14 Desember 2023
A A
Bangunan rumah rusak akibat gempa Sukabumi pada 14 Desember 2023. Foto Dok. BNPB.

Bangunan rumah rusak akibat gempa Sukabumi pada 14 Desember 2023. Foto Dok. BNPB.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Ketua DPR Puan Maharani meminta Pemerintah siaga menyusul analisa dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menduga gempa M 4,6 di Sukabumi pada 14 Desember 2023 pukul 06.35 WIB pagi berkaitan dengan aktivitas Gunung Salak. Pusat gempa itu berada di darat 25 Km Barat Laut Kabupaten Sukabumi dengan kedalaman 5 Km. Gempa Sukabumi tersebut turut dirasakan masyarakat di Bogor dan Tangerang.

“Perlu analisa dan langkah mitigasi lanjutan atas gempa di Sukabumi untuk memastikan keselamatan masyarakat sekitar. Apalagi gempa diduga berasal dari gempa vulkanik,” kata Puan, Kamis, 14 Desember 2023.

Berdasarkan keterangan BMKG, gempa Sukabumi tersebut merupakan jenis gempa swarm yang memiliki kaitan dengan aktivitas vulkanik. Gempa tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas Gunung Salak. Puan mengingatkan agar tidak ada kekurangan dalam sistem deteksi dini kebencanaan, sehingga kejadian seperti di Gunung Marapi, Sumatera Barat (Sumbar) tak terulang kembali.

Baca Juga: Aktivitas Kawah Bromo Meningkat, Radius Aman Lebih dari 1 Km

“Belajar dari erupsi Gunung Marapi, kewaspadaan harus menjadi prioritas. Kami tidak ingin ada lagi korban akibat kurang maksimalnya sistem deteksi dini. Jangan sampai ada gangguan sistem pemantauan gunung berapi yang mengakibatkan sistem peringatan dini menjadi tidak berfungsi,” kata Puan.

Sebanyak 75 orang pendaki terjebak saat Gunung Marapi erupsi pada 3 Desember lalu. Akibatnya, 23 pendaki tewas dan belasan lainnya luka-luka. Penyebab banyak korban meninggal dunia diduga karena kurangnya sistem deteksi dan prosedur keselamatan yang diabaikan, termasuk tak ada peringatan dari pihak pengawas.

“Sistem peringatan dini tidak boleh dianggap enteng,” tegas Puan.

Baca Juga: Strategi KKP Optimalisasi Pengawasan Terintegrasi Sumber Daya Kelautan dan Perikanan 2024

Sementara Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hendra Gunawan membantah dugaan tersebut, bahwa tidak ada kaitan antara gempa Sukabumi dengan aktivitas Gunung Salak.

“Sampai saat ini, pos Gunung Salak tidak merekam gempa vulkanik,” kata Hendra dikutip dari CNN Indonesia.

Sampai saat ini, status Gunung Salak masih Normal atau level 1. Aktivitas vulkanik sempat mengalami kenaikan usai gempa M 4,0 di barat daya Bogor pada 8 Desember 2023 dini hari. Gempa tersebut mengakibatkan peningkatan lebih dari empat kali gempa per hari selama 6-8 Desember 2023.

Baca Juga: Tolak Proyek PLT Geothermal, Rakyat Padarincang: Ada Pelanggaran HAM Serius

Data PVMBG menunjukkan ada 8 gempa lokal pada 6 Desember 2023, 7 kali pada 7 Desember 2023, 7 gempa pada 8 Desember 2023. PVMBG juga melaporkan gempa tektonik jauh mendominasi Gunung Salak sebanyak 31 kali dan gempa tektonik lokal 22 kali selama 1-9 Desember 2023.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: aktivitas vulkanikgempa Sukabumigempa swarmGunung SalakKabupaten BogorKabupaten Sukabumi

Editor

Next Post
Debat pertama capres 2024. Foto kpu.go.id.

Walhi: 3 Capres Tak Singgung Ketidakadilan Penguasaan SDA dalam Debat HAM

Discussion about this post

TERKINI

  • Penggusuran PT BSMJ di wilayah adat Muara Tae, Kabupaten Kutai Barat untuk sawit. Foto Dok. Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Ekspansi Sawit di Wilayah Adat Muara Tae Dihentikan
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
  • Bentang alam Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Komunitas ini mempertahankan sistem zonasi tradisional sebagai dasar pengelolaan wilayah adat yang diwariskan. Foto Dok. WGII.Paradoks Penetapan Taman Nasional, Pengetahuan Hidup Masyarakat Adat Terancam Punah
    In Lingkungan
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media