Wanaloka.com – Pemerintah didorong secara serius dan kolektif menangani dampak krisis iklim yang sedang terjadi. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan data suhu permukaan rata-rata Indonesia telah meningkat sebesar 1,04 derajat Celsius selama 45 tahun terakhir, dan tren curah hujan alami penurunan hingga tiga persen per dekade.
Krisis iklim ini membawa dampak ikutan, kekeringan, risiko gagal panen, rentan bencana hidrometeorologi, gangguan kesehatan masyarakat, dan kerusakan ekosistem.
Menyikapi krisis iklim, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menekankan pentingnya mitigasi dan adaptasi untuk menjaga ketahanan sumber daya air nasional.
Perubahan suhu, pola curah hujan, dan kenaikan muka air laut berpotensi mengganggu keseimbangan neraca air serta meningkatkan risiko kekeringan, bencana hidrometeorologi, dan gagal panen.
Faisal menjelaskan bahwa berdasarkan data BMKG, suhu permukaan rata-rata Indonesia telah meningkat sebesar 1,04 derajat Celsius selama 45 tahun terakhir. Sementara itu, curah hujan tahunan menunjukkan tren penurunan hingga 2–3 persen per dekade, khususnya di wilayah selatan khatulistiwa. Kenaikan muka air laut juga tercatat mencapai 4,4 ± 0,4 milimeter per tahun.
“Kondisi-kondisi tersebut sangat tidak sederhana bagi masyarakat kita. Perubahan siklus iklim ini menyebabkan terganggunya keseimbangan neraca air, yang memicu anomali cuaca yang semakin ekstrem,” kata Faisal dalam Rapat Koordinasi Swasembada Air Nasional di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko Infra), Jakarta, Kamis, 15 Oktober 2026.
Rapat yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono tersebut membahas koordinasi dan sinkronisasi kebijakan, program, serta aksi mitigasi dampak perubahan iklim terhadap sumber daya air.
Faisal menyebutkan, perubahan tersebut memengaruhi siklus air dan berpotensi meningkatkan berbagai risiko, mulai dari kekeringan berkepanjangan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga gangguan terhadap sektor pertanian dan kesehatan masyarakat.
Ketersediaan air menjadi isu krusial, terutama saat musim kemarau. Penurunan pasokan air tanah dan air permukaan akibat kemarau panjang dapat berdampak langsung terhadap berbagai sektor, termasuk pertanian dan pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat sehari-hari.
“Dampaknya akan langsung dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya sektor pertanian yang merugi, tetapi krisis air bersih ini akan sangat menyulitkan kehidupan sehari-hari, bahkan hingga berdampak langsung pada ibu-ibu di rumah tangga dalam mengurus kebutuhan dapur dan keluarga,” katanya.






Discussion about this post