Rabu, 18 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

MoU Indonesia-Norwegia untuk Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca di Sektor Kehutanan

Upaya mengurangi deforestasi dan degradasi hutan tak hanya bermanfaat bagi Indonesia, melainkan negara lain. Tak heran, perlu dukungan antar negara untuk melindungi hutan.

Selasa, 13 September 2022
A A
Ilustrasi hutan. Foto GregMontani/pixabay.com.

Ilustraasi hutan. Foto GregMontani/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Indonesia dan Norwegia bergandengan tangan dalam nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) tentang Partnership in Support of Indonesia’s Efforts to Reduce Greenhouse Gas Emissions from Forestry and Other Land Use (FoLU). Penandantanganan dilakukan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar dan Menteri Iklim dan Lingkungan Norwegia, Espen Barth Eide pada 12 September 2022 di Jakarta.

Ada tujuh poin bentuk kerja sama tersebut. Pertama, pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan dengan melindungi dan mengelola hutan melalui partisipasi masyarakat, termasuk masyarakat adat. Kedua, peningkatan kapasitas untuk memperkuat penyerapan karbon hutan alam melalui pengelolaan hutan lestari, rehabilitasi hutan dan perhutanan sosial, termasuk mangrove.

Baca Juga: Mengenal Hutan Mangrove ‘Sotek’ yang Dikunjungi Dua Menteri Lingkungan Hidup

Ketiga, konservasi keanekaragaman hayati. Keempat, pengurangan emisi gas rumah kaca dari kebakaran dan kerusakan lahan gambut. Kelima, penguatan penegakan hukum.

Keenam, komunikasi, konsultasi dan pertukaran pengetahuan pada lingkup internasional tentang kebijakan dan agenda iklim, kehutanan dan tata guna lahan. Ketujuh, pertukaran informasi dan pengetahuan pada tingkat teknis.

“MoU ini akan memperkuat upaya Indonesia dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan,” kata Siti.

MoU tersebut tidak hanya mencerminkan kemitraan dan kesepakatan kedua negara. Juga mencakup keterlibatan lebih luas terkait isu-isu iklim dan pengelolaan hutan di Indonesia.

Baca Juga: Ekosistem Pesisir Lebih Potensial Atasi Emisi Karbon

Bahkan MoU tersebut menekankan pentingnya manfaat yang dapat diberikan secara nyata dan langsung pada masyarakat. Juga bagi kemajuan Indonesia sesuai dengan tata kelola yang mengedepankan prinsip transparansi, akuntabel, inklusif, serta partisipatif.

“Seperti yang tercermin dalam upaya Indonesia untuk memperkuat partisipasi masyarakat adat dalam pengelolaan hutan lestari. Antara lain melalui penetapan UU Cipta Kerja sebagai dasar hukum,” ujar Siti.

Sementara Barth Eide mengaku terkesan dengan perjuangan Indonesia dalam mengendalikan perubahan iklim khususnya melalui pengurangan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya (Forestry and Other Land Use /FoLU).

“Indonesia adalah pemimpin global dalam mengurangi deforestasi, yang memberikan mitigasi iklim yang signifikan secara global serta perlindungan keanekaragaman hayati,” ujar Barth Eide.

Baca Juga: Generasi Muda Mitigasi Perubahan Iklim, Apa dan Bagaimana

Dia juga mengklaim keberhasilan tersebut adalah hasil dari peraturan pemerintah yang kuat.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Deforestasi dan Degradasi HutanEmisi gas rumah kacaEspen Barth EideFoLUFOLU Net Sink 2030keanekaragaman hayatiMasyarakat Adatmitigasi iklimMoUnota kesepahamanperubahan iklimsektor kehutananSiti Nurbaya Bakar

Editor

Next Post
Sampah plastik dapat dimanfaatkan menjadi material berguna dengan penerapan teknologi. Foto ilustrasi Wanaloka.com.

Kolaborasi EDGc dan GSTC Mengolah Sampah Plastik Menjadi Material Struktur

Discussion about this post

TERKINI

  • KLH/BPLH meninjau proses pencarian korban longsoran sampah di TPA Bantar Gebang, Bekasi, 8 maret 2026. Foto KLH/BPLH.TPST Bantargebang Longsor Lagi, Alarm Keras Pengelolaan Sampah Open Dumping
    In Bencana
    Senin, 9 Maret 2026
  • Ilustrasi sakit campak. Foto Kemenkes.Vaksinasi Penting karena Campak Cepat Menular dan Ada Risiko Jangka Panjang
    In Rehat
    Senin, 9 Maret 2026
  • Titik transfer batu bara melalui ship to ship di Kalimantan Timur. Foto Walhi Kaltim.Peninjauan Kembali RTRW Kalimantan Timur Harus Berpihak pada Nelayan dan Lingkungan
    In Lingkungan
    Minggu, 8 Maret 2026
  • Ilustrasi roti berjamur. Foto jackmac34/pixabay.com.Temuan Roti MBG Berjamur, Pakar Ingatkan Sebaiknya Tak Dikonsumsi
    In Rehat
    Minggu, 8 Maret 2026
  • Presiden RI Prabwo Subianto dan Presiden AS Donald Trumph. Foto White House/Setpres.Walhi: Perjanjian Dagang Resiprokal Indonesia-AS Melanggengkan Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 7 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media