Senin, 30 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Pemerintah akan Terapkan Biodiesel B40 Berbasis Kelapa Sawit Tahun 2025

Senin, 5 Agustus 2024
A A
Uji coba biodiesel B40 untuk mobil. Foto Dok. Kementerian ESDM.

Uji coba biodiesel B40 untuk mobil. Foto Dok. Kementerian ESDM.

Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga: Riset BRIN, Embung Jadi Solusi Atasi Defisit Air di Pulau Bintan

Metode Fermentasi Baru Bioetanol

Peneliti Pusat Riset Rekayasa Genetika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Farida Rahayu mengungkapkan salah satu permasalahan produksi bioethanol adalah kesulitan fermentasi etanol. Sebab proses biomassa dikonversi menjadi etanol melalui tahapan yang cukup panjang.

“Metode ini dianggap kurang efektif karena menyebabkan biaya produksi tinggi,” kata Farida dalam webinar Friday Scientific Sharing Seminar series 31 pada 15 Maret 2024.

Perkembangan generasi bioetanol berdasarkan jenis substratnya saat ini sudah sampai generasi ke-4, yaitu dengan memanfaatkan genetik dari suatu mikroorganisme. Dalam risetnya, Farida menawarkan metode fermentasi baru dengan menggunakan mikroorganisme thermophilic yang telah direkayasa genetiknya.

Baca Juga: Tradisi Brandu Diduga Memicu Penularan Wabah Antraks di Gunungkidul

“Dalam kegiatan riset ini, kami menggunakan bakteri acetogen,” ungkap Farida.

Untuk metode riset, ia menawarkan tahapan yang dipersingkat, di mana antara tahapan sakarifikasi, fermentasi, dan distilasi dijadikan satu dalam satu bioreaktor. Ia meyakini dengan menggunakan mikroorganisme thermophilic yang notabene memiliki suhu optimum pertumbuhan tinggi dan hampir berdekatan dengan destilasi, tidak perlu memindahkan mikroorganisme untuk melakukan destilasi.

Melalui metode fermentasi thermophilic ini, ia juga berharap hasil etanol yang didapatkan lebih optimal. Sebab selain proses destilasi, mikroba masih bisa melakukan produksi. Berbeda apabila menggunakan mikroorganisme mesofilik saat destilasi, sehingga kegiatan produksi akan berhenti.

Baca Juga: Cuaca Jadi Ancaman Perkembangan Ekonomi Dunia 10 Tahun Mendatang

“Kegiatan riset yang dilakukan di sini menggunakan recombinant DNA technology,” terang Farida.

Sejauh ini ada tiga generasi bioetanol sebelumnya. Bioetanol generasi pertama masih menggunakan substrat yang berdekatan dengan pangan, seperti gula atau pati. Lantaran ada kompetisi antara pangan dan energi, ilmu itu berkembang terus hingga generasi kedua.

Bioetanol generasi kedua menggunakan subtrat dari residu atau limbah lignoselulosa biomassa. Ada harapan renewable energy, karena apabila berasal dari lignoselulosa ke biomassa bisa diperbarui setiap saat.

Setelah itu, berkembang lagi bioethanol generasi ketiga dengan memanfaatkan biomassa alga atau mikroalga. Perkembangannya saat ini, generasi keempat memanfaatkan genetik dari suatu mikroorganisme. [WLC02]

Sumber: Kementerian ESDM, BRIN

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: biodiesel B40bioetanolBRINEBTKEkelapa sawitKementerian ESDMPenurunan emisi gas rumah kaca

Editor

Next Post
Patung robot Green Hercules dari material daur ulang di Kampus ITB. Foto Dok. ITB.

Green Hercules, Patung Robot dari Besi Tua untuk Kurangi Emisi CO2

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media