Sabtu, 10 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Riset BRIN, Embung Jadi Solusi Atasi Defisit Air di Pulau Bintan

Pulau Bintan yang tidak memiliki air tanah dalam menyebabkan sumber daya airnya sangat tergantung variabilitas curah hujan.

Sabtu, 3 Agustus 2024
A A
Gambar rancangan proyek Embung Gumelem di Magelang. Foto Dok. PUPR.

Gambar rancangan proyek Embung Gumelem di Magelang. Foto Dok. PUPR.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Pulau Bintan, Kepulauan Riau merupakan zona perdagangan bebas dan jalur pelayaran internasional yang memiliki luas sekitar 1.300 km. Pulau yang berbatasan dengan Malaysia dan Singapura ini mengalami laju pertumbuhan penduduk sebesar 2,06 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional yang sebesar 1,34 persen. Sementara pertumbuhan ekonominya sendiri hampir sama dengan rata-rata nasional, sehingga kebutuhan akan sumber daya air semakin meningkat.

Fungsi Pulau Bintan yang tidak memiliki air tanah dalam menyebabkan sumber daya airnya sangat tergantung variabilitas curah hujan. Pada kegiatan Kolokium PRIMA bertema “Dampak Perubahan Iklim Terhadap Sumberdaya Air Pulau Kecil dan Opsi Adaptasinya” yang digelar pada 1 Agustus 2024, Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Albertus Sulaiman berharap rencana kerja sama dengan Cina dalam pengembangan climate change (perubahan iklim) untuk pulau kecil bisa segera terlaksana.

“Ada yang menyampaikan kekhawatiran bahwa pulau-pulau kecil di Indonesia akan tenggelam dan jumlah pulau berkurang. Melalui materi yang disampaikan (dalam kolokium), semoga bisa menjawab tantangan kebutuhan air di pulau kecil, termasuk di Pulau Bintam,” ucap Sulaiman.

Baca Juga: Tradisi Brandu Diduga Memicu Penularan Wabah Antraks di Gunungkidul

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Ida Narulita menyebutkan studi kasus di pulau tersebut menunjukkan fenomena iklim sangat mempengaruhi curah hujan. Pada tahun 2019 (tahun terjadinya IOD+) tampungan air baku di Pulau Bintan mengalami penurunan muka air yang cukup siknifikan.

“Curah hujan ekstrim yang dipicu kondisi dinamika cuaca pada skala sinoptik menyebabkan banjir besar di Pulau Bintan terjadi awal Januari 2021. Ini menunjukkan dinamika atmosfer sangat mempengaruhi variabilitas curah hujan dan berdampak pada sumberdaya air di wilayah ini,” tutur Ida.

Data yang digunakan adalah plot data hujan CHIRPS dan CORDEX-SEA. Ketersediaan data satelit mempunyai periode panjang dan resolusi spasial tinggi, tetapi data satelit memiliki error (kesalahan). Metodologi yang digunakan dalam penelitian meliputi koreksi bias dengan metode Quantile Mapping, pendugaan ketersediaan air dan metode optimasi AHP dan Keputusan Multi Kriteria.

Baca Juga: Cuaca Jadi Ancaman Perkembangan Ekonomi Dunia 10 Tahun Mendatang

Hasilnya, bahwa perubahan iklim menyebabkan perubahan curah hujan tahunan dan musiman. Pada curah hujan tahunan, ada penurunan kisaran 15 persen dan curah hujan musiman mengalami perubahan sekitar 8 persen – 22 persen. Akibat dari penurunan curah hujan ini mengakibatkan adanya penurunan suplai sumberdaya air.

Solusi Berupa Embung

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: BRINdefisit airperubahan iklimPulau Bintanpulau kecil

Editor

Next Post
Desain Istana Garuda di IKN. Foto Dok. Kemenparekraf.

Istana Garuda dari Tembaga, Tahan Korosi, Konduktor yang Baik

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media