Jumat, 26 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Pemerintah Andalkan OMC Atasi Karhutla, Habiskan Rp300 Juta Per Jam

Selasa, 12 Agustus 2025
A A
Persiapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untukmencegah karhutla di Riau, 14 Juni 2024. Foto Dok. BMKG.

Persiapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untukmencegah karhutla di Riau, 14 Juni 2024. Foto Dok. BMKG.

Share on FacebookShare on Twitter

OMC menjadi kunci

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengklaim penerapan sains dan teknologi dalam OMC merupakan kunci menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta penyebaran asap lintas batas. Peristiwa masa lalu menjadi pembelajaran dalam mengambil setiap keputusan dan pelaksanaan operasi.

Baca juga: Akhmad Arifin, Solusi Permukiman di Daerah Banjir Ekstrem Harus Kembali Menjadi Hutan

Ia mencontohkan, pada tahun 2023, BMKG telah memprediksi ada potensi karhutla di sejumlah wilayah Indonesia akibat fenomena El Nino sejak enam bulan sebelumnya. BMKG melakukan monitoring dan update prediksi terus menerus hingga dilakukan OMC menjelang musim kemarau bersama BNPB, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), dan Kementerian PUPR.

“OMC dilakukan sejak musim hujan untuk meningkatkan muka air tanah (TMAT) gambut sehingga ketika musim kering tiba, lahan gambut tidak begitu kering dan mudah terbakar,” papar Dwikorita pada rapat koordinasi dengan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dan BNPB di Gedung Command Center BMKG, Jakarta, Selasa, 12 Agustus 2025.

Sejak 2015, pembasahan lahan gambut sebelum puncak musim kering melalui OMC berhasil menurunkan karhutla rata-rata sebesar 23 persen (2016-2019). Bahkan, OMC mampu mengurangi sekitar 30-50 hari puncak periode kering pada 2019, meski terjadi El Nino.

Baca juga: Ekspedisi Geosains, Pelajari Zona Tumbukan Dua Lempeng di Selatan Pulau Sumba

Pada Agustus 2025, BMKG memprediksi karhutla masih berpotensi terjadi di sebagian Riau dan Sumatra Utara (kategori menengah), serta Jawa dan Sulawesi (kategori menengah–tinggi), bertepatan puncak musim kemarau di wilayah tersebut. Sedangkan pada September hingga Oktober, luas wilayah kategori tinggi-menengah berangsur berkurang.

Pantauan dinamika TMAT di enam provinsi rawan karhutla (Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan) cenderung kategori aman. Keberadaan titik dengan kedalaman TMAT sangat rendah di semua provinsi rawan karhutla tetap menjadi perhatian mitigasi.

Sementara sebagian wilayah Riau terpantau masih relatif lembab, tetapi terdapat area signifikan yang berisiko kering. Jambi dan Sumsel menunjukkan kategori rawan dan normal, meski beberapa titik kedalaman sangat kering dan berbahaya. Kalbar, Kalteng, dan Kalsel cenderung lembap dan kering, serta relatif sedikit ditemukan titik ekstrem kering.

Baca juga: Peternakan Sapi Perah di Pegunungan Arfak akan Dihidupkan Lagi

Saat ini, OMC berlangsung di Riau (10-19 Agustus) dengan pendanaan dari Kemenhut, Jambi dan sebagian Sumsel (10-19 Agustus) dengan pendanaan PT Wirakarya Sakti, dan Kalsel (13-33 Agustus) dengan pendanaaan KemenLH. BMKG terus memperbarui rekomendasi pelaksanaan OMC berdasarkan urgensi serta kebutuhan teraktual wilayah terdampak.

OMC juga masih memungkinkan untuk dilaksanakan selama Dasarian II Agustus 2025 di beberapa provinsi yang diprediksi mudah terbakar. Juga secara historis memiliki pola jumlah hotspot tinggi selama Agustus hingga September. [WLC02]

Sumber: BMKG

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: BMKGBNPBkarhutlaKementerian KehutananOMC

Editor

Next Post
Kucing merah (Catopuma badia)endemik Kalimantan, salah satu spesies kucing hutan Indonesia yang dilindungi. Foto Jim Sanderson/Dok. IPB University.

Kucing Hutan, Kucing Lokal Indonesia Sebagai Pengendali Hama Alami

Discussion about this post

TERKINI

  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Para pejabat menunjukkan peta calon lokasi bandar antariksa di Distrik Biak Utara yang mengancam wilayah adat Warbon. Foto Istimewa.LBH Papua Nilai Rencana Pembangunan Bandar Antariksa di Wilayah Adat Warbon Cacat Hukum
    In Lingkungan
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Ilustrasi tawon yang berkoloni. Foto jcbeni.Pixabay.com.Tawon yang Berkoloni Mengenali Wajah Manusia yang Mengganggunya
    In IPTEK
    Jumat, 19 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media