Minggu, 29 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Pengetahuan Etnobotani Suku Rejang untuk Ketahanan Pangan Terancam Punah

Sumber pangan pokok tak hanya beras. Masyarakat adat punya kearifan lokal untuk memanfaatkan tanaman pangan lain.

Senin, 16 Oktober 2023
A A
Ilustrasi tanaman kentang. Foto Couleur/pixabay.com.

Ilustrasi tanaman kentang. Foto Couleur/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Dari hasil riset tersebut, pengetahuan etnobotani paling banyak dimiliki oleh kelompok usia dia 60 tahun dan kelompok usia 45-60 tahun.

“Terendah pada kelompok umur termuda 15-30 tahun sebesar 39,09 persen,”ujar Abdilla.

Hanieke menuturkan, pewarisan pengetahuan etnobotani pada Suku Rejang dilakukan melalui tiga cara, yakni pewarisan pengetahuan melalui tradisi lisan antara generasi tua ke muda dengan cara bertutur. Selanjutnya, pewarisan pengetahuan etnobotani secara alami melalui aktivitas sehari-hari.

Baca Juga: Walhi: KTT AIS 2023 Tak Selesaikan Masalah Krisis Iklim dan Kehancuran Ekologis Pesisir dan Pulau Kecil

“Ada juga pewarisan etnobotani secara non-formal tanpa ada hal-hal struktural yang ada pada masyarakat Rejang,” papar Hanieke.

Ia menyoroti soal masih absennya lembaga lokal dalam upaya pewarisan pengetahuan etnobotani, sehingga ikut berperan melemahkan proses pewarisan pengetahuan etnobotani suku Rejang. Ia merekomendasikan perlu sebuah kemitraan baru yang dibangun antara pegiat konservasi, akademisi, aktor pemerintah, dan masyarakat lokal sebagai pemilik pengetahuan.

“Kemitraan ini harus dijalankan dengan prinsip pemberdayaan masyarakat yang mengutamakan masyarakat lokal dalam pelaksanaannya. Harapannya, terjadi keadilan kultural bagi pelaku konservasi pewarisan pengetahuan etnobotani,” kata Hanieke. [WLC02]

Sumber: UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: etnobotanikeanekaragaman tanaman panganketahanan pangansuku RejangUGM

Editor

Next Post
Ilustrasi pembuangan limbah radioaktif ke laut. Foto ATDSPHOTO/pixabay.com.

Jepang Buang Limbah Radiokatif ke Laut, DPR Waspadai Impor Seafood

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media