Minggu, 29 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Penting, Pertolongan Pertama Psikologi Penyintas Pasca Bencana

Pasca bencana juga meninggalkan luka psikis bagi penyintas. Siapa saja yang bisa membantu memulihkannya?

Minggu, 13 November 2022
A A
Ilustrasi penyintas bencana. Foto hosny_salah/pixabay.com

Ilustrasi penyintas bencana. Foto hosny_salah/pixabay.com

Share on FacebookShare on Twitter

“PFA bukan hanya milik profesional karena sifatnya bukan konseling. Jadi keluarga, tetangga, tim respon cepat, dan relawan bisa memberikan dukungan,” lanjut Wakil Dekan III Fakultas Psikologi ini.

Ada dua hal penting yang mesti diperhatikan dalam memberikan dukungan PFA. Pertama, PFA sebaiknya diberikan sesegera mungkin ketika krisis terjadi, baik pada masa tanggap darurat maupun kontak pertama. Kedua, pilih lokasi yang jauh dari lokasi kejadian. Bahkan apabila tidak memungkinkan tatap muka dapat melalui Tele-PFA.

Para penyintas bencana yang memerlukan dukungan PFA ditandai dengan menunjukkan gejala emosi atau stres yang umum dialami penyintas bencana. Reaksi tersebut terlihat secara fisik, seperti gemetar, sakit kepala, gangguan tidur. Kemudian secara emosi seperti cemas, takut, marah. Dan gangguan pikiran seperti bingung, sulit konsentrasi, mudah lupa. Sedangkan gejala pada perilaku adalah menarik diri, tidak bisa membuat keputusan.

Baca Juga: Mengenal Sejarah Juragan Kebun Kopi Vorstenlanden Lewat Film

Ada empat prinsip bantuan psikologis awal. Pertama, prepare yakni mempelajari peristiwa bencana dengan memperhatikan standar keselamatan dan keamanan. Kedua, look yaitu memetakan siapa yang paling darurat berdasarkan reaksi stres. Ketiga, listen yaitu mendengarkan kebutuhan atau keluhan penyintas. Keempat, link adalah mengarahkan pada sistem bantuan sosial.

“Kita menyediakan diri untuk mendengarkan mereka. Kalau mereka tidak bercerita ya tidak apa. Kita ada di situ saja memberi rasa nyaman dan membantu menenangkan,” papar dosen psikologi klinis itu. [WLC02]

Sumber: Universitas Airlangga

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: bencanaBencana Hidrometeorologipenyintas bencanapertolongan pertama psikologiPFArisiko bencanaUnair

Editor

Next Post
Desain baju dari kain lurik karya Dosen UNY, Afif Ghurub Bestari. Foto uny.ac.id

Mengenal Kain Lurik, Tak Sekadar Kain Bergaris

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media