Untuk menghasilkan pemetaan kebencanaan berbasis data spasial, tim melibatkan kontribusi dosen dan mahasiswa dalam berbagai tim pemetaan. Mahasiswa tidak hanya belajar SIG, penginderaan jauh, dan kartografi di kelas, tetapi menerapkannya langsung untuk menyelamatkan nyawa.
“Inilah kontribusi kami sesuai bidang keilmuan dalam membantu penanganan bencana di Sumatra,” imbuh Kamal.
Peran data geospasial dan inovasi kampus
Sementara Ketua Program Studi Magister & Doktor Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Irwan Gumilar menegaskan bahwa relevansi teknologi pemetaan kini telah meluas jauh melampaui fungsi tradisionalnya. Saat ini, data geospasial dan teknologi pemetaan tidak hanya penting untuk sistem peringatan dini, tetapi hampir di semua aspek yang berkaitan dengan pembangunan yang berkelanjutan.
Baca juga: Catatan Kritis Kebijakan Wisata di Balik Tren Micro Tourism
Teknologi seperti Global Navigation Satellite System (GNSS) dan Robotic Total Station (RTS) kini mampu memberikan informasi pergerakan tiga dimensi secara real-time. Data ini krusial untuk mendeteksi indikasi awal bencana seperti erupsi gunung api, pergerakan tanah, hingga kerusakan pada infrastruktur buatan manusia.
“Berdasarkan informasi tersebut, dapat diketahui potensi-potensi ancaman yang terjadi sehingga dapat dilakukan mitigasi untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa,” ujar Irwan saat menyampaikan persentasi bertajuk “Peningkatan Peran Teknologi dan Inovasi dalam Meminimalisir Risiko dan Dampak Bencana” dalam Forum Diskusi Inovasi Sesi 3 di gelaran Prima ITB x CEO Summit di ITB Innovation Park Bandung Technopolis, Senin, 15 Desember 2025. Ia memaparkan strategi integrasi data geospasial di tengah tantangan anggaran dan kesiapan daerah.
Menjawab tantangan peran institusi pendidikan, ia mengungkapkan terobosan yang tengah digarap Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika. Bahwa ITB sedang mengembangkan sistem monitoring bencana menggunakan teknologi GNSS berbiaya rendah.
Purwarupa alat ini telah sukses diuji coba untuk memantau penurunan muka tanah di Cekungan Bandung dan publikasinya telah terbit di jurnal internasional bereputasi, Applied Geomatics. Bahkan, FITB tengah menjajaki kerja sama dengan perusahaan asal China untuk pengembangan lebih lanjut.
Baca juga: Jelang Seabad Museum Geologi Bandung, Bangun Peta Jalan Akses Kebumian untuk Masyarakat
Meski teknologi terus berkembang canggih, ia mengingatkan aspek manusia dan sosial tidak boleh luput dari perhatian, terutama di daerah rawan bencana. Tantangan terbesar penerapan di daerah rawan bencana adalah kesiapan wilayah tersebut untuk menggunakan dan menjaga teknologi-teknologi yang saat ini dikembangkan.
“Setiap teknologi tentu perlu adaptasi dalam penggunaannya, termasuk sosialisasinya kepada masyarakat,” ujar dia.
Untuk mengatasinya, ia mendorong perluasan kolaborasi pemerintah dan swasta. Misalnya melalui pendanaan Corporate Social Responsibility (CSR) yang difokuskan pada penerapan teknologi di kawasan bencana.
Menanggapi isu penurunan pagu anggaran sektor kebencanaan pada tahun 2025,. Irwan melihatnya sebagai peluang bagi inovasi dalam negeri untuk tampil. Pengembangan inovasi yang ada di perguruan tinggi dan lembaga riset dapat digunakan untuk alternatif teknologi kebencanaan.
Strategi ini tidak hanya menawarkan solusi yang lebih murah, tetapi juga mendorong hilirisasi produk unggulan riset nasional. Konsep triple helix atau penta helix dapat dioptimalkan dalam mengelola risiko bencana dari sisi kesiapan teknologi. [WLC02]
Sumber: UGM, ITB







Discussion about this post