Jumat, 16 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Industri Pariwisata Potensial Merusak 34 Hektare Lebih Ekosistem Karst Gunungsewu

Senin, 5 Januari 2026
A A
Salah satu lokasi karst di KBAK Gunung Sewu, Gunungkidul, DIY yang rusak karena ditambang. Foto jogja.walhi.or.id

Salah satu lokasi karst di KBAK Gunung Sewu, Gunungkidul, DIY yang rusak karena ditambang. Foto jogja.walhi.or.id

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Ekosistem esensial Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gunungsewu yang membentang di wilayah Kabupaten Gunungkidul, Wonogiri dan Pacitan merupakan warisan dunia yang terancam rusak. Potensi kerusakan bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan kembali akibat pembangunan destinasi wisata berbasis korporasi bermodal besar yang masif.

Berdasarkan investigasi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yogyakarta ada 13 industri pariwisata berbasis korporasi yang beroperasi di dalam KBAK Gunungsewu. Belasan industri pariwisata itu diduga telah mengubah bentang alam seluas lebih dari 34,46 hektare.

Industri pariwisata yang dimaksud meliputi Heha Ocean View, Obelix Sea View, Drini Hills, Drini Park Resourt, D’Girijati Hotel & Beach Club, Queen of The Sout Beach Resort & Hotel, Inessya Resort, Casa Coco Resort Villa & Cottage, Stone Valley, Jungwok Blue Ocean, Edge Resort, dan On The Rock.

Baca juga: Peran Teknologi Data Spasial dan Geospasial dalam Mitigasi Bencana

“Kerusakan ini berpotensi terus meluas,” kata Ketua Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Yogyakarta, Rizki Abiyoga dalam siaran pers yang diterima Wanaloka.com, Senin, 5 Januari 2026.

Terbaru, Obelix diduga tengah merencanakan ekspansi ke Pantai Sanglen dengan mengubah bentang alam karst seluas sekitar 3 hektare. Rencana itu mendapat penolakan dari warga. Sebab perubahan bentang alam karst secara integral menghilangkan fungsi ekologis karst sebagai penyimpan air tanah dan penangkap karbon, serta merusak sistem hidrologi alami.

Tidak hanya mengubah bentang alam, korporasi industri pariwisata tersebut juga megekstrak air yang ada di bawah karst secara massif. Walhi Yogyakarta telah melakukan perhitungan ekstraksi air dengan menggunakan tiga kategori, yakni hunian, fasilitas penunjang, dan operasional.

Baca juga: Warga Aceh Utara Dilatih Bangun Huntara dengan Desain Sederhana

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Industri PariwisataKBAK GunungsewuWalhi Yogyakartawarisan dunia

Editor

Next Post
Salah satu lumbung air hujan di Kota Palu. Foto Dok. Sekolah Air Hujan.

Instalasi Lumbung Air Hujan Dipasang di Tiga Titik di Kota Palu

Discussion about this post

TERKINI

  • Gedung KPK | kpk.go.id.OTT KPK di BNPB, Kepala BNPB Langsung Diganti
    In News
    Kamis, 15 Oktober 2026
  • Dampak karhutla, wilayah Kota Palembang, Provinsi Sumatra Selatan, diselimuti kabut asap pada Kamis, 8 Oktober 2026. Foto BNPB.Respons Protes Negara Jiran Dampak Karhutla, Prabowo Perintahkan Penanganan Optimal
    In Bencana
    Selasa, 13 Oktober 2026
  • Bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, yang terjadi pada Jumat, 9 Oktober 2026. Foto BPBD Kabupaten Gayo Lues.Bencana Banjir dan Longsor Landa Aceh dan Sumatra Barat Ratusan Penduduk Mengungsi
    In Bencana
    Senin, 12 Oktober 2026
  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media