“Peta ini adalah warisan kolaborasi multipihak yang diharapkan mampu menjembatani jurang antara riset dan kebijakan,” papar Pramaditya.
Ada tiga tahapan proses pembuatan Peta Karang dan Padang Lamun Nasional. Fase pertama (2022-2023), tim memetakan sebaran dan variasi data lamun yang tersebar di berbagai pemangku kepentingan.
Fase kedua (2022 – 2025), fokus utamanya pada pengembangan dan implementasi kerangka pemetaan. Yakni mengembangkan kerangka pemetaan yang kuat dan menerapkannya untuk memetakan padang lamun dan karang secara nasional. Proses ini didukung pakar global seperti Assoc. Prof. Chris Roelfsema yang memiliki pengalaman panjang dalam pemetaan padang lamun dan karang global dan Mitch Lyons (UNSW) dalam pemrosesan data cloud.
Baca juga: Bambang Hero, 1-2 Pohon Tumbang Itu Alami, Kalau Akibatkan Longsor Itu Ulah Manusia
Salah satu hasil penting dari fase kedua adalah terbitnya Keputusan Dirjen Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut Nomor 45 Tahun 2024. Kepdirjen ini menjadi pedoman teknis nasional untuk penyusunan informasi geospasial habitat bentik laut dangkal, mencakup standar skala, skema klasifikasi, hingga kualitas data yang dapat dijadikan rujukan nasional untuk pembaruan peta di masa depan.
Fase ketiga (2025), tim ISMP didukung tim dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dalam proses validasi publik dan finalisasi peta dan dokumen penyerta peta karang dan padang lamun nasional.
Usai penyerahan, KKP secara resmi bertanggung jawab penuh untuk pembaruan dan pengintegrasian data geospasial. Integrasi ini sangat penting karena data tersebut akan menjadi landasan kebijakan konservasi, perencanaan ruang laut, Nationally Determined Contribution (NDC), dan pembangunan berkelanjutan wilayah pesisir dan laut di seluruh Indonesia.
Melalui KKP sebagai Walidata, data geospasial vital ini akan diintegrasikan secara penuh demi tercapainya target konservasi, pemanfaatan ruang laut yang bijaksana, dan keberlanjutan ekosistem pesisir bagi generasi mendatang. Kolaborasi dan pemanfaatan teknologi, mulai dari penginderaan jauh, pemetaan hingga citizen science melalui Seagrass Connect, menjadi kunci untuk merawat kekayaan laut Indonesia secara evidence-based dan science-based. [WLC02]
Sumber: UGM







Discussion about this post