Selasa, 10 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Peta Karang dan Padang Lamun Jadi Landasan Ilmiah Pengelolaan Laut Indonesia

Senin, 8 Desember 2025
A A
Padang lamun. Foto ugm.ac.id.

Padang lamun. Foto ugm.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

“Peta ini adalah warisan kolaborasi multipihak yang diharapkan mampu menjembatani jurang antara riset dan kebijakan,” papar Pramaditya.

Ada tiga tahapan proses pembuatan Peta Karang dan Padang Lamun Nasional. Fase pertama (2022-2023), tim memetakan sebaran dan variasi data lamun yang tersebar di berbagai pemangku kepentingan.

Fase kedua (2022 – 2025), fokus utamanya pada pengembangan dan implementasi kerangka pemetaan. Yakni mengembangkan kerangka pemetaan yang kuat dan menerapkannya untuk memetakan padang lamun dan karang secara nasional. Proses ini didukung pakar global seperti Assoc. Prof. Chris Roelfsema yang memiliki pengalaman panjang dalam pemetaan padang lamun dan karang global dan Mitch Lyons (UNSW) dalam pemrosesan data cloud.

Baca juga: Bambang Hero, 1-2 Pohon Tumbang Itu Alami, Kalau Akibatkan Longsor Itu Ulah Manusia

Salah satu hasil penting dari fase kedua adalah terbitnya Keputusan Dirjen Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut Nomor 45 Tahun 2024. Kepdirjen ini menjadi pedoman teknis nasional untuk penyusunan informasi geospasial habitat bentik laut dangkal, mencakup standar skala, skema klasifikasi, hingga kualitas data yang dapat dijadikan rujukan nasional untuk pembaruan peta di masa depan.

Fase ketiga (2025), tim ISMP didukung tim dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dalam proses validasi publik dan finalisasi peta dan dokumen penyerta peta karang dan padang lamun nasional.

Usai penyerahan, KKP secara resmi bertanggung jawab penuh untuk pembaruan dan pengintegrasian data geospasial. Integrasi ini sangat penting karena data tersebut akan menjadi landasan kebijakan konservasi, perencanaan ruang laut, Nationally Determined Contribution (NDC), dan pembangunan berkelanjutan wilayah pesisir dan laut di seluruh Indonesia.

Melalui KKP sebagai Walidata, data geospasial vital ini akan diintegrasikan secara penuh demi tercapainya target konservasi, pemanfaatan ruang laut yang bijaksana, dan keberlanjutan ekosistem pesisir bagi generasi mendatang. Kolaborasi dan pemanfaatan teknologi, mulai dari penginderaan jauh, pemetaan hingga citizen science melalui Seagrass Connect, menjadi kunci untuk merawat kekayaan laut Indonesia secara evidence-based dan science-based. [WLC02]

Sumber: UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Fakultas Geografi UGMKKPPeta Karang dan Padang Lamun NasionalProf. Pramaditya WicaksonoSeagrass Connect

Editor

Next Post
Tidak hanya menjual suatu produk makanan, namun tetap pada prinsip utama Nabati Nusantara terhadap lingkungan guna membangun kepedulian masyarakat mengenai apa yang dikonsumsi. Foto Nabati Nusantara.

Ada Sajian Pangan Nabati Tanpa Minyak Sawit di Festival Musik Rock di Yogyakarta

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi rumah adat Sumatra Barat. Foto IndrabinYusuf/pixabay.com.Program Gentengisasi, Pakar Ingatkan Rumah Tradisional di Indonesia Tak Seragam 
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi makanan daging. Foto johnstocker/freepik.com.Diet Karnivora Tidak Aman, Ini Risikonya
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi kelelawar di pepohonan. Foto ignartonosbg/pixabay.com.Pakar Ingatkan, Virus Nipah Berpotensi Menular Antarmanusia
    In Rehat
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, 6 Februari 2026. Foto BPBD Tegal.Bencana Tanah Bergerak di Tegal, Dua Ribu Lebih Warga Mengungsi
    In Bencana
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Ilustrasi manusia terdampak cuaca panas ekstrem. Foto Franz26/pixabay.com.Dampak Cuaca Ekstrem, Suhu, Banjir dan Longsor Meningkat 16 Tahun Terakhir
    In News
    Jumat, 6 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media