Kamis, 24 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Porang, Pangan Lokal Alternatif untuk Kemandirian Desa

Porang juga bisa memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor.

Selasa, 30 September 2025
A A
Porang (Amorphophallus muelleri Bl). Foto petaniporang.id.

Porang (Amorphophallus muelleri Bl). Foto petaniporang.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Tim Universitas Gadjah Mada mendampingi petani di Ponorogo, Jawa Timur untuk  mendorong pemanfaatan sumber pangan lokal dengan mengembangkan olahan kuliner berbahan porang (Amorphophallus muelleri Bl). Upaya ini berangkat dari keresahan petani yang sempat mengalami kerugian besar akibat anjloknya harga porang di pasar ekspor. Padahal porang memiliki nilai ekonomi sekaligus potensi besar untuk ketahanan pangan nasional.

“Kalau masyarakat menguasai sistem pengolahan porang, maka porang bisa menjadi makanan sehat, murah, dan bergizi bagi keluarga,” ujar Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM, Prof. Bambang Hudayana, Minggu, 28 September 2025.

Program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan tim UGM ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari ibu rumah tangga hingga kelompok petani lokal. Melalui pelatihan, masyarakat diajak mempraktikkan langsung pengolahan porang menjadi aneka makanan seperti bakso, dawet, dodol, dan pecel.

Baca juga: Makanan Aman Konsumsi, Perhatikan Suhu Penyimpanan dan Berapa Kali Dihangatkan

Awalnya banyak warga masih ragu karena stigma porang yang dianggap gatal dan beracun. Namun setelah mengetahui cara pengolahan yang tepat, mereka antusias mencoba, bahkan mencicipi hasilnya.

“Setelah dicoba ternyata enak dan menyehatkan,” tutur Bambang.

Pendampingan ini tidak berhenti pada tahap pelatihan saja, tetapi juga mendorong terbentuknya inisiatif masyarakat untuk mengembangkan kuliner porang sebagai usaha kecil. Di beberapa desa, warga bahkan berencana memperluas pelatihan secara mandiri menggunakan dana lokal.

Kondisi ini menunjukkan masyarakat mulai melihat porang bukan sekadar komoditas ekspor, melainkan bahan pangan yang bisa meningkatkan kesejahteraan rumah tangga. Menurut Bambang, transformasi ini sangat penting untuk kemandirian desa.

Baca juga: Komisi XIII DPR Tolak Relokasi Paksa Warga di Taman Nasional Tesso Nilo

“Kami senang karena program ini murah meriah, tetapi dampaknya besar bagi masyarakat,” kata dia.

Selain mudah dibudidayakan, porang juga memiliki keunggulan dari segi gizi. Kandungan glukomanan dalam umbinya dikenal baik untuk kesehatan, seperti menurunkan kadar kolesterol dan membantu diet.

Porang dapat tumbuh di lahan kering maupun kritis, sehingga cocok sebagai tanaman alternatif di tengah keterbatasan lahan. Dengan potensi produksi hingga 60–80 ton per hektar, porang menjanjikan keuntungan tinggi bagi petani.

“Bayangkan satu hektar bisa menghasilkan puluhan ton, jauh lebih besar dibanding padi. Itu bisa mendongkrak pendapatan petani,” jelas dia.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Fakultas Ilmu Budaya UGMkemandirian desaPangan Lokalumbi porang

Editor

Next Post
Ilustrasi lansia sehat. Foto Melody_ART/pixabay.com.

Penderita Pikun Bertambah, Belum Ada Obatnya Tapi Ada Pencegahannya

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media