Wanaloka.com – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menggelar Rapat Tingkat Menteri (RTM) untuk koordinasi, sinkronisasi dan pengendalian persiapan Libur Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Libur Nataru). Dalam rapat yang dipimpin itu menyoroti isu-isu yang rawan terjadi, terutama potensi bencana hidrometeorologi.
“Antara lain kesiapsiagaan daerah rawan bencana dan waspada bencana hidrometeorologi serta pemulihan infrastruktur, ketersediaan logistik dan kebutuhan pokok daerah terdampak bencana,” kata Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno yang memimpin rapat di Jakarta, Jumat, 22 November 2024.
Selain itu juga membahas kesiapan pos pelayanan kesehatan dan fasilitas kesehatan di jalur mudik, kesiapan rest area yang ramah perempuan dan anak, keamanan dan kenyamanan jemaah selama pelaksanaan ibadah Natal. Juga ketercukupan dan keamanan transportasi udara, laut dan darat serta rekayasa lalu lintas serta penempatan aparat kemanan di titik-titik rawan kepadatan lalu lintas dan tempat wisata.
Baca Juga: Gempa Dangkal 5,4 Magnitudo Guncang Daruba Pulau Morotai Maluku Utara
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan potensi bencana hidrometeorologi diprakirakan terjadi bersamaan saat arus mudik Nataru 2024-2025. Potensi bencana ini dipicu terjadinya seruak udara dingin dari dataran tinggi Siberia ke wilayah Indonesia pada Desember 2024 hingga awal Januari 2025.
“Fenomena serupa pernah terjadi pada Januari 2020 yang mengakibatkan banjir besar di Jabodetabek. Itu disebabkan seruak udara dingin dari dataran tinggi Tibet,” kata Dwikorita.
Cek informasi dan kendaraan sebelum mudik
Fenomena seruak udara dingin diprediksi akan memberi dampak signifikan di wilayah barat Indonesia, termasuk Selat Sunda, Lampaung, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Cuaca buruk yang disertai hujan lebat berpotensi menyebabkan gangguan pada jalur mudik dan jalan tol, sebagaimana pernah diidentifikasi Kementerian PUPR.
Baca Juga: Pemerintah Percepat Relokasi Warga Terdampak Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki
BMKG menegaskan bahwa mitigasi bencana hidrometeorologi memerlukan dukungan lintas sektor. Upaya modifikasi cuaca yang telah dilakukan beberapa waktu sebelumnya tidak cukup untuk mengatasi dampak yang lebih luas.
Discussion about this post