Baca juga: Jatam Desak Cabut Izin Tambang Nikel Ilegal di Maluku Utara, Denda Rp500 Miliar Bukan Solusi
Kepala PRTKMMN BRIN, Heru Prasetio menekankan variasi radiasi alam di berbagai belahan dunia merupakan fenomena geologis alami. Secara global, rata-rata paparan radiasi alam sekitar 3 mSv per tahun. Sebagian besar berasal dari radon yang terhirup melalui pernapasan beserta partikel hasil peluruhannya.
“Temuan ini memperlihatkan Indonesia berkontribusi dalam pemutakhiran basis data global mengenai paparan radiasi alam lewat studi di Mamuju, sekaligus memperkaya pemahaman internasional tentang variasi radiasi latar belakang di dunia,” tegas Heru.
Sebagai informasi, UNSCEAR adalah komite ilmiah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang sejak 1955. Komite ilmiah ini memiliki mandat menilai tingkat dan dampak paparan radiasi pengion terhadap kesehatan manusia dan lingkungan secara global.
PRTKMMN – Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN memiliki tugas dan fungsi melakukan riset terkait keselamatan dan kaji efek radiasi di Indonesia. Dengan diterbitkannya laporan ini, menunjukkan peran aktif dari para periset Indonesia pada umumnya dan khususnya di PRTKMMN-ORTN-BRIN yang hasil penelitiannya diakui dunia. Juga berkontribusi besar pada perkembangan ilmu pengetahuan, terutama bidang proteksi radiasi.
UNSCEAR 2024 Report Volume II memuat Scientific Annex B: Evaluation of Public Exposure to Ionizing Radiation, sebagai lampiran ilmiah kedua yang menjadi dasar laporan UNSCEAR kepada Majelis Umum PBB. Dalam Annex B tersebut, UNSCEAR menyajikan penilaian global paling komprehensif hingga saat ini mengenai dosis radiasi yang diterima masyarakat dari sumber alam maupun buatan.
Evaluasi ini disusun berdasarkan data survei global UNSCEAR serta tinjauan literatur ilmiah periode 2007–2022. Analisisnya mencakup paparan dari radon dan thoron beserta turunannya, radionuklida terestrial dalam tanah dan material bangunan, radiasi kosmik, hingga paparan dari industri berbasis Naturally Occurring Radioactive Material (NORM).
Selain itu, laporan ini juga mengkaji paparan yang berasal dari sumber buatan seperti lepasan radioaktif dari fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir dan siklus bahan bakarnya, penggunaan non-energi radionuklida, situs legasi militer maupun sipil, kecelakaan radiologi masa lalu, serta paparan selama transportasi bahan radioaktif.
Tim Riset Mamuju yang bertugas dalam survei paparan radiasi di Mamuju Adalah Eka Djatnika Nugraha sebagai Peneliti Ahli Madya PRTKMMN dan juga National Contact Point Indonesia untuk UNSCEAR tentang Public Exposure. Serta Untara, Dadong Iskandar, dan Wahyudi yang berkontribusi dalam pengumpulan data dan publikasi yang digunakan dalam laporan UNSCEAR tersebut.
Tim ini berperan dalam melakukan pemetaan dosis radiasi, pengukuran radon, serta pengambilan sampel tanah pada sejumlah titik HNBRA yang menjadi fokus evaluasi UNSCEAR.
Data riset dari Mamuju menjadi komponen penting dalam pemutakhiran basis data global paparan radiasi alam, sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam kajian internasional tentang variasi radiasi latar belakang di berbagai belahan dunia. [WLC02]
Sumber: BRIN






Discussion about this post