Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Riset BRIN, Perubahan Iklim Picu Penyebaran Penyakit TB, Stroke hingga Infeksi Menular karena Air

Variabel yang memengaruhi penelitian ini meliputi curah hujan harian, kelembaban udara, kepadatan penduduk, proporsi rumah tangga yang memiliki akses terhadap air bersih dan sanitasi layak, tingkat kemiskinan, serta partisipasi masyarakat dalam angkatan kerja.

Jumat, 16 Mei 2025
A A
Ilustrasi manusia terdampak cuaca panas ekstrem. Foto Franz26/pixabay.com.

Ilustrasi manusia terdampak cuaca panas ekstrem. Foto Franz26/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Perubahan iklim yang ditandai dengan kenaikan suhu udara, peningkatan intensitas cuaca ekstrem, hingga penurunan kualitas air menjadi faktor pemicu meningkatnya penyakit menular sehingga memengaruhi kesehatan manusia secara signifikan. Salah satunya adalah tuberkulosis (TB), penyakit yang hingga kini masih menjadi perhatian nasional dan global.

“Perubahan iklim turut berkontribusi terhadap penyebaran penyakit TB di Jawa Barat,” ungkap Peneliti Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) BRIN, Dianadewi Riswantini dalam Webinar PRSDI #04 bertema “Digital Epidemiology: Transformasi Kajian Kesehatan dengan Sains Data”, Rabu, 14 Mei 2025.

Sejauh ini, timnya melakukan Studi Climate Epidemiology untuk memahami, merencanakan, dan mencegah berbagai dampak perubahan iklim. Hasilnya diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam mengantisipasi risiko kesehatan dan menyusun strategi adaptasi untuk melindungi kesejahteraan masyarakat.

Baca juga: Rekomendasi Pakar Sosioagraria, Kebijakan PSN Pulau Rempang Harus Dievaluasi Total

Dalam riset bertajuk Potential Risk of New Tuberculosis Cases in West Java, tim peneliti BRIN melakukan analisa risiko spasial dan temporal terhadap sebaran kasus TB baru di wilayah Jawa Barat. Penelitian ini memanfaatkan data 2019 hingga 2022 yang bersumber dari BPJS, BPS Jawa Barat, Open Data, serta data iklim dari Copernicus Climate.

Hasilnya menunjukkan, bahwa Kabupaten Karawang, Majalengka, dan Kuningan memiliki interaksi spasio-temporal yang kuat terhadap penyebaran TB. Artinya, kasus baru meningkat secara signifikan dalam dimensi ruang dan waktu.

Sementara wilayah Kabupaten Bogor, Sukabumi, Karawang, dan Bandung secara konsisten menunjukkan tingkat risiko relatif tinggi dengan nilai risiko berkisar antara 1 hingga 15.

Baca juga: Mempercantik Sudut-sudut Kota Bandung dengan Mural Warna Warni

“Kebijakan dan strategi pengendalian penyakit TB perlu mendapatkan perhatian lebih untuk wilayah di atas, terutama Karawang,” kata Dianadewi.

Penelitian ini juga dilanjutkan dengan pemetaan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap insidensi TB. Melalui metode analisis statistik yang digunakan untuk menganalisa data spasial dengan mempertimbangkan efek waktu dalam bentuk persamaan regresi, tim peneliti mengidentifikasi sejumlah variabel signifikan. Meliputi curah hujan harian, kelembaban udara, kepadatan penduduk, proporsi rumah tangga yang memiliki akses terhadap air bersih dan sanitasi layak, tingkat kemiskinan, serta partisipasi masyarakat dalam angkatan kerja.

“Dengan pendekatan ini, kami berharap dapat memberi masukan berbasis data kepada pemerintah daerah, khususnya dalam menetapkan prioritas wilayah intervensi kesehatan dan strategi adaptasi terhadap dampak perubahan iklim,” imbuh dia.

Baca juga: Bencana Hidrometeorologi Landa Pulau Jawa dan Sulawesi Menelan Korban Jiwa

Studi ini menjadi bagian dari upaya BRIN dalam mendukung kebijakan kesehatan publik yang lebih responsif terhadap dinamika lingkungan dan sosial. Selain tuberkulosis, pendekatan serupa juga relevan untuk mengkaji penyebaran penyakit lain yang dipengaruhi oleh perubahan iklim, seperti demam berdarah, malaria, dan gangguan pernapasan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: BRINCuaca Ekstrempenyebaran penyakitperubahan iklimtuberkolusis

Editor

Next Post
Dekan FEM IPB University, Irfan Syauqi Beik. Foto IPB University.

Irfan Syauqi Beik, Paradigma Green Zakat Menjadi Mitigasi Perubahan Iklim

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media