Sabtu, 10 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Riset BRIN, Perubahan Iklim Picu Penyebaran Penyakit TB, Stroke hingga Infeksi Menular karena Air

Variabel yang memengaruhi penelitian ini meliputi curah hujan harian, kelembaban udara, kepadatan penduduk, proporsi rumah tangga yang memiliki akses terhadap air bersih dan sanitasi layak, tingkat kemiskinan, serta partisipasi masyarakat dalam angkatan kerja.

Jumat, 16 Mei 2025
A A
Ilustrasi manusia terdampak cuaca panas ekstrem. Foto Franz26/pixabay.com.

Ilustrasi manusia terdampak cuaca panas ekstrem. Foto Franz26/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Perubahan iklim yang ditandai dengan kenaikan suhu udara, peningkatan intensitas cuaca ekstrem, hingga penurunan kualitas air menjadi faktor pemicu meningkatnya penyakit menular sehingga memengaruhi kesehatan manusia secara signifikan. Salah satunya adalah tuberkulosis (TB), penyakit yang hingga kini masih menjadi perhatian nasional dan global.

“Perubahan iklim turut berkontribusi terhadap penyebaran penyakit TB di Jawa Barat,” ungkap Peneliti Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) BRIN, Dianadewi Riswantini dalam Webinar PRSDI #04 bertema “Digital Epidemiology: Transformasi Kajian Kesehatan dengan Sains Data”, Rabu, 14 Mei 2025.

Sejauh ini, timnya melakukan Studi Climate Epidemiology untuk memahami, merencanakan, dan mencegah berbagai dampak perubahan iklim. Hasilnya diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam mengantisipasi risiko kesehatan dan menyusun strategi adaptasi untuk melindungi kesejahteraan masyarakat.

Baca juga: Rekomendasi Pakar Sosioagraria, Kebijakan PSN Pulau Rempang Harus Dievaluasi Total

Dalam riset bertajuk Potential Risk of New Tuberculosis Cases in West Java, tim peneliti BRIN melakukan analisa risiko spasial dan temporal terhadap sebaran kasus TB baru di wilayah Jawa Barat. Penelitian ini memanfaatkan data 2019 hingga 2022 yang bersumber dari BPJS, BPS Jawa Barat, Open Data, serta data iklim dari Copernicus Climate.

Hasilnya menunjukkan, bahwa Kabupaten Karawang, Majalengka, dan Kuningan memiliki interaksi spasio-temporal yang kuat terhadap penyebaran TB. Artinya, kasus baru meningkat secara signifikan dalam dimensi ruang dan waktu.

Sementara wilayah Kabupaten Bogor, Sukabumi, Karawang, dan Bandung secara konsisten menunjukkan tingkat risiko relatif tinggi dengan nilai risiko berkisar antara 1 hingga 15.

Baca juga: Mempercantik Sudut-sudut Kota Bandung dengan Mural Warna Warni

“Kebijakan dan strategi pengendalian penyakit TB perlu mendapatkan perhatian lebih untuk wilayah di atas, terutama Karawang,” kata Dianadewi.

Penelitian ini juga dilanjutkan dengan pemetaan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap insidensi TB. Melalui metode analisis statistik yang digunakan untuk menganalisa data spasial dengan mempertimbangkan efek waktu dalam bentuk persamaan regresi, tim peneliti mengidentifikasi sejumlah variabel signifikan. Meliputi curah hujan harian, kelembaban udara, kepadatan penduduk, proporsi rumah tangga yang memiliki akses terhadap air bersih dan sanitasi layak, tingkat kemiskinan, serta partisipasi masyarakat dalam angkatan kerja.

“Dengan pendekatan ini, kami berharap dapat memberi masukan berbasis data kepada pemerintah daerah, khususnya dalam menetapkan prioritas wilayah intervensi kesehatan dan strategi adaptasi terhadap dampak perubahan iklim,” imbuh dia.

Baca juga: Bencana Hidrometeorologi Landa Pulau Jawa dan Sulawesi Menelan Korban Jiwa

Studi ini menjadi bagian dari upaya BRIN dalam mendukung kebijakan kesehatan publik yang lebih responsif terhadap dinamika lingkungan dan sosial. Selain tuberkulosis, pendekatan serupa juga relevan untuk mengkaji penyebaran penyakit lain yang dipengaruhi oleh perubahan iklim, seperti demam berdarah, malaria, dan gangguan pernapasan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: BRINCuaca Ekstrempenyebaran penyakitperubahan iklimtuberkolusis

Editor

Next Post
Dekan FEM IPB University, Irfan Syauqi Beik. Foto IPB University.

Irfan Syauqi Beik, Paradigma Green Zakat Menjadi Mitigasi Perubahan Iklim

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media