Senin, 11 Mei 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Riset BRIN, Perubahan Iklim Picu Penyebaran Penyakit TB, Stroke hingga Infeksi Menular karena Air

Variabel yang memengaruhi penelitian ini meliputi curah hujan harian, kelembaban udara, kepadatan penduduk, proporsi rumah tangga yang memiliki akses terhadap air bersih dan sanitasi layak, tingkat kemiskinan, serta partisipasi masyarakat dalam angkatan kerja.

Jumat, 16 Mei 2025
A A
Ilustrasi manusia terdampak cuaca panas ekstrem. Foto Franz26/pixabay.com.

Ilustrasi manusia terdampak cuaca panas ekstrem. Foto Franz26/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Perubahan iklim yang ditandai dengan kenaikan suhu udara, peningkatan intensitas cuaca ekstrem, hingga penurunan kualitas air menjadi faktor pemicu meningkatnya penyakit menular sehingga memengaruhi kesehatan manusia secara signifikan. Salah satunya adalah tuberkulosis (TB), penyakit yang hingga kini masih menjadi perhatian nasional dan global.

“Perubahan iklim turut berkontribusi terhadap penyebaran penyakit TB di Jawa Barat,” ungkap Peneliti Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) BRIN, Dianadewi Riswantini dalam Webinar PRSDI #04 bertema “Digital Epidemiology: Transformasi Kajian Kesehatan dengan Sains Data”, Rabu, 14 Mei 2025.

Sejauh ini, timnya melakukan Studi Climate Epidemiology untuk memahami, merencanakan, dan mencegah berbagai dampak perubahan iklim. Hasilnya diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam mengantisipasi risiko kesehatan dan menyusun strategi adaptasi untuk melindungi kesejahteraan masyarakat.

Baca juga: Rekomendasi Pakar Sosioagraria, Kebijakan PSN Pulau Rempang Harus Dievaluasi Total

Dalam riset bertajuk Potential Risk of New Tuberculosis Cases in West Java, tim peneliti BRIN melakukan analisa risiko spasial dan temporal terhadap sebaran kasus TB baru di wilayah Jawa Barat. Penelitian ini memanfaatkan data 2019 hingga 2022 yang bersumber dari BPJS, BPS Jawa Barat, Open Data, serta data iklim dari Copernicus Climate.

Hasilnya menunjukkan, bahwa Kabupaten Karawang, Majalengka, dan Kuningan memiliki interaksi spasio-temporal yang kuat terhadap penyebaran TB. Artinya, kasus baru meningkat secara signifikan dalam dimensi ruang dan waktu.

Sementara wilayah Kabupaten Bogor, Sukabumi, Karawang, dan Bandung secara konsisten menunjukkan tingkat risiko relatif tinggi dengan nilai risiko berkisar antara 1 hingga 15.

Baca juga: Mempercantik Sudut-sudut Kota Bandung dengan Mural Warna Warni

“Kebijakan dan strategi pengendalian penyakit TB perlu mendapatkan perhatian lebih untuk wilayah di atas, terutama Karawang,” kata Dianadewi.

Penelitian ini juga dilanjutkan dengan pemetaan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap insidensi TB. Melalui metode analisis statistik yang digunakan untuk menganalisa data spasial dengan mempertimbangkan efek waktu dalam bentuk persamaan regresi, tim peneliti mengidentifikasi sejumlah variabel signifikan. Meliputi curah hujan harian, kelembaban udara, kepadatan penduduk, proporsi rumah tangga yang memiliki akses terhadap air bersih dan sanitasi layak, tingkat kemiskinan, serta partisipasi masyarakat dalam angkatan kerja.

“Dengan pendekatan ini, kami berharap dapat memberi masukan berbasis data kepada pemerintah daerah, khususnya dalam menetapkan prioritas wilayah intervensi kesehatan dan strategi adaptasi terhadap dampak perubahan iklim,” imbuh dia.

Baca juga: Bencana Hidrometeorologi Landa Pulau Jawa dan Sulawesi Menelan Korban Jiwa

Studi ini menjadi bagian dari upaya BRIN dalam mendukung kebijakan kesehatan publik yang lebih responsif terhadap dinamika lingkungan dan sosial. Selain tuberkulosis, pendekatan serupa juga relevan untuk mengkaji penyebaran penyakit lain yang dipengaruhi oleh perubahan iklim, seperti demam berdarah, malaria, dan gangguan pernapasan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: BRINCuaca Ekstrempenyebaran penyakitperubahan iklimtuberkolusis

Editor

Next Post
Dekan FEM IPB University, Irfan Syauqi Beik. Foto IPB University.

Irfan Syauqi Beik, Paradigma Green Zakat Menjadi Mitigasi Perubahan Iklim

Discussion about this post

TERKINI

  • Tim SAR gabungan membawa kantong jenazah korban erupsi gunung api Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, 10 Mei 2026. Foto Basarnas.Pendakian Gunung Dukono Ditutup April 2026, Tiga Pendaki Tewas Mei 2026
    In Traveling
    Minggu, 10 Mei 2026
  • Suasana salah satu tempat pembuangan sampah sementara di Kota Yogyakarta. Foto Dok. Forpi Kota YogyakartaKritik Walhi Yogyakarta, PSEL Menyeret Daerah Tergantung pada Pasokan Sampah
    In Lingkungan
    Sabtu, 9 Mei 2026
  • Official trailer film Pesta Babi. Foto Indonesia Baru/YouTube.SIEJ: Larangan Nobar Pesta Babi Sensor Pengungkapan Peminggiran Hak Masyarakat Adat
    In News
    Sabtu, 9 Mei 2026
  • Grand Final Net Zero Steel Pathways Cohort 2026 bertema “Bridging the Landscape: Readiness & Viability in Indonesia’s Net Zero Steel Ecosystem”, 7 Mei 2026. Foto ITB.Teknologi Hidrogen Menuju Ekosistem Baja Rendah Karbon di Indonesia
    In IPTEK
    Jumat, 8 Mei 2026
  • Industri wisata On The Rock di bangun di atas karst Gunungsewu, Gunungkidul, Selasa, 6 Mei 2026. Foto Pito Agustin/wanaloka.com.Walhi Yogya Ingatkan, Sanksi Denda Industri Wisata di KBAK Gunungsewu Tak Membuat Jera
    In News
    Kamis, 7 Mei 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media