Jumat, 25 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Riset CfDS UGM, 18 Persen Penyangkal Krisis Iklim dari Indonesia

Jumat, 2 Februari 2024
A A
XR Bunga Terung desak Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berani menyatakan sudah mengalami krisis iklim. Foto XR Bunga Terung Kalimantan Timur.

XR Bunga Terung desak Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berani menyatakan sudah mengalami krisis iklim. Foto XR Bunga Terung Kalimantan Timur.

Share on FacebookShare on Twitter

Isu krisis iklim yang paling banyak ditemukan responden di media sosial, meliouti Instagram (39,3 persen), YouTube (20,6 persen) dan X/Twitter (19,2 persen). Setelah media sosial, berita di televisi lumayan mendapat porsi isu ini dibanding media cetak. Sebagian besar responden pun mengaku sering terpapar informasi tentang krisis iklim, tetapi hanya sebagian kecil yang mencari informasi atau ingin mengetahui lebih lanjut isu krisis iklim.

Keberadaan penyangkal krisis iklim dalam platform tersebut mengalami perubahan perilaku. Sepaham dengan Novi, ⁠Septiaji Eko Nugroho selaku Chairman Mafindo (Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia) menerangkan, kelompok penyangkal krisis iklim semakin pintar memaparkan opininya.

Baca Juga: BMKG Ingatkan Antisipasi Cuaca Ekstrem Hari Pencoblosan Pemilu 2024

“Ada paradigma menarik dari the climate change denier itu mulai bergeser. Kalau dulu mereka benar-benar tidak sepakat dengan krisis iklim. Sekarang, dia lebih licin lagi bisa jadi menerima krisis iklim, tapi dia menganggap solusi scientist ini tidak bekerja,” ucap dia.

Menurut Direktur Eksekutif Nasional Walhi, Zenzi Suhadi, misinformasi perubahan iklim terjadi bukan hanya karena paparan informasi yang salah pada publik. Melainkan juga akibat banyak kepentingan politik global.

“Substansi informasi dan pemahaman itu dirancang untuk memahami sesuatu yang salah agar mendapat dukungan politik dalam pembicaraan iklim secara global,” kata Zenzi.

Contohnya, negara-negara industri mengalami perdebatan yang tajam dengan negara selatan, termasuk Indonesia. Bahwa perubahan iklim diakibatkan dua emisi terbesar, satu emisi industri dan emisi deforestasi. Negara industri mengakui kegiatan industri mereka melepas banyak emisi karbon. Namun mereka menyangkal solusi dari krisis iklim ini adalah menurunkan emisi dari industrinya. [WLC02]

Sumber: UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Center for Digital SocietyKrisis IklimmisinformasiPenyangkal Krisis Iklim

Editor

Next Post
Konsolidasi masyarakat adat region Kalimantan, 17 Januari 2024. Foto Dok. AMAN.

Isu Masyarakat Adat Terabaikan Capres Cawapres Pemilu 2024

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media