Minggu, 29 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Salah Urus Tata Ruang Jadi Penyebab Utama Bencana Ekologis di Pulau Jawa

Pemerintah harus melakukan evaluasi perencanaan dan penataan tata ruang kawasan lingkungan yang kacau untuk memulihkan kawasan lindung.

Rabu, 25 Januari 2023
A A
Rob menyebabkan kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang di Kota Semarang, Jawa Tengah, dilanda banjir hingga ketinggian satu meter lebih pada Senin, 23 Mei 2022. Foto Dok BBPD Jawa Tengah

Rob menyebabkan kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang di Kota Semarang, Jawa Tengah, dilanda banjir hingga ketinggian satu meter lebih pada Senin, 23 Mei 2022. Foto Dok BBPD Jawa Tengah

Share on FacebookShare on Twitter

Sementara Walhi Yogyakarta melihat persoalan salah urus tata ruang tak hanya terjadi di dalam wilayah kota, tetapi menyebar ke wilayah pinggiran, seperti ambisi membangun perkotaan baru Aeropolis Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo. Mega proyek perkotaan baru telah meningkatkan kerentanan kawasan, mengingat proyek tersebut dibangun di wilayah rawan bencana seperti gempa dan tsunami.

“Ambisi Aeropolis memicu kemunculan Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Bener yang merampas ruang hidup warga di wilayah lain, seperti Wadas,” jelas Direktur Walhi Yogyakarta Halik Sandera.

Proyek tersebut dibangun untuk memenuhi sumber air di Aeropolis YIA. Kondisi ini kontradiktif dengan situasi krisis air di Kota Yogyakarta yang disebabkan ekstraksi air tanah oleh industri pariwisata, terutama perhotelan.

Baca Juga: Sudah Diperingatkan, Empat Kabupaten di Aceh Dilanda Banjir Ribuan Warga Mengungsi

Kemudian di Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gunung Sewu di Gunungkidul yang menjadi kawasan lindung air justru akan dikurangi demi kebutuhan pariwisata. Parahnya, sumber air terdekat dihilangkan, lalu mencari sumber air di wilayah lain, tetapi caranya eksploitatif sehingga merusaknya.

Terakhir, Walhi Jawa Timur mengungkapkan, persoalan salah urus tata ruang di Jawa Timur mengakibatkan kerentanan di wilayah hulu dan hilir.

“Penataan ruang benar-benar kacau di wilayah hulu DAS Brantas, yakni Kota Batu, Malang,” kata Direktur Walhi Jawa Timur Wahyu Eka.

Baca Juga: Konferta AJI Yogyakarta 2023, Ini Nakhoda Baru AJI Yogyakarta Periode 2023–2026

Kawasan lindung beralih fungsi menjadi hotel, wisata buatan dan peruntukkan lain. Pembangunan tersebut menyebabkan banjir, longsor serta menghilangkan sumber mata air. Kerusakan ekosistem di wilayah hulu mengancam wilayah hilir seperti Malang, Pasuruan hingga Surabaya.

Peningkatan kejadian bencana hidrometeorologi dipadu dengan penataan ruang yang kacau, seperti pembangunan di sempadan sungai, alih fungsi kawasan hingga minimnya ruang terbuka hijau, semakin memperentan kondisi Kota Malang. Sementara perluasan perumahan mewah ke kawasan pinggir di Surabaya, seperti di barat dan timur oleh korporasi besar menyebabkan area resapan air hilang seperti alih fungsi waduk dan mangrove. Peningkatan kejadian bencana dan peningkatan kerentanan kota mengakibatkan peningkatan dampak dan perluasan area terdampak bencana.

Walhi Nasional menyimpulkan, salah urus tata ruang menjadi problem utama yang mendorong bencana di lima wilayah tersebut. Sekaligus menjadi penyebab bencana ekologis karena kebijakan pemerintah mendukung investasi masif, seperti proyek mega infrastruktur, perluasan kawasan industri, hingga obral izin industri ekstraktif besar-besaran seperti pertambangan telah meningkatkan kerentanan Pulau Jawa.

Baca Juga: Joni Aswira dan Fira Abdurrahman Memimpin Jurnalis Lingkungan SIEJ 2022-2025

“Kebijakan tata ruang dan pembangunan pemerintah mengabaikan rekomendasi berbagai kajian saintifik tentang potensi krisis air, kerentanan bencana, ancaman dampak perubahan iklim hingga penurunan permukaan tanah di Pulau Jawa,” tegas Direktur Walhi Nasional Abdul Ghofar.

Walhi Nasional mendorong pemerintah pusat maupun daerah untuk melihat persoalan bencana ekologis di Jawa secara serius dengan melakukan evaluasi perencanaan dan penataan tata ruang berwawasan lingkungan dengan memastikan jaminan keselamatan rakyat. Pembangunan mega infrastruktur, seperti PSN harus ditinjau secara kritis melihat perubahan fungsi kawasan lindung, kawasan rawan bencana hingga situasi sosial masyarakat.

Pendekatan penanganan bencana dan solusi teknis bencana sangat tidak cukup menyelesaikan persoalan. Melainkan perlindungan kawasan penyangga, pemulihan lingkungan yang rusak hingga penghentian aktivitas ekstraktif menjadi salah satu jalan keselamatan dari ancaman bencana ekologis di masa mendatang. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: banjir robbencana ekologisBencana HidrometeorologiKawasan Bentang Alam Karstproyek strategis nasionalsalah urus tata ruangWalhi NasionalWalhi Region Jawa

Editor

Next Post
Rakor mitigasi bencana karhutla 2023 yang dihadiri Menteri Siti Nurbaya, Menkopolhukam Mahfud MD, dan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto di Kantor BNPB, Jakarta, Rabu, 25 Januari 2023. Foto BNPB.

Mitigasi Bencana Karhutla 2023, Pemerintah Warning Perusahaan Swasta

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media