Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Samsul Kamal: Kurangi Emisi CO2, PLTU Ganti Batu Bara dengan Biomassa

Kritik penggunaan batu bara menjadi bahan bakar PLTU terus menggema. Berbagai alternatif batu bara telah disampaikan para ahli, salah satunya biomassa. Apakah itu?

Kamis, 27 Oktober 2022
A A
Guru Besar Fakultas Teknik UGM, Prof. Samsul Kamal. Foto ugm.ac.id

Guru Besar Fakultas Teknik UGM, Prof. Samsul Kamal. Foto ugm.ac.id

Share on FacebookShare on Twitter

Teknologi co-firing dapat mengonsumsi 100 persen bahan baku biomassa dengan menggunakan boiler PLTU yang sesuai dengan teknologi co-firing. Perlu upaya peningkatan prosentase pembakaran dengan bahan baku biomassa untuk pembangkit listrik sehingga memerlukan dukungan penelitian lebih lanjut dari sisi material serta aspek pembakaran.

“Kolaborasi penelitian adalah langkah terbaik untuk melakukan itu,” kata Samsul.

Apabila seluruh PLTU sudah menggunakan biomassa, program pengembangan biomassa sebagai energi baru dan terbarukan akan tumbuh dan berkembang baik dari sisi bisnis dan teknologinya.

Baca Juga: Masyarakat Sipil: Perusahaan Karet di Jambi Diduga Lakukan Greenwashing

Lantas, dari manakah sumber daya biomassa itu?

Dari hasil penelitian yang dilakukan, berbagai lokasi sumber energi biomassa yang bisa dimanfaatkan berasal dari hasil hutan tanaman energi atau industri, hutan sosial, limbah penebangan, hasil kayu dari pembukaan lahan, limbah pengolahan kayu, limbah agroforestri, dan dari limbah padat kota.

Adapun jenis tanaman yang potensial dikembangkan sebagai biomassa adalah akasia, kaliandra, gamal, pilang, turi dan lamtoro gung.

“Jenis tanaman ini memiliki karakteristik cepat tumbuh, adaptasi baik, tahan hama dan penyakit. Siklus panen pendek serta memiliki nilai kalor yang tinggi,” papar Samsul. [WLC02]

Sumber: Universitas Gadjah Mada

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: batu barabiomassaemisi CO2Emisi gas rumah kacaenergi baru terbarukanenergi biomassaEnergi fosilPLTUProf. Samsul KamalUGM

Editor

Next Post
Prakicu hari ini, 28 Oktober 2022, sebagian wilayah DKI Jakarta dilanda hujan disertai petir. Foto Ilustrasi.

Prakicu Hari Ini Sebagian Wilayah DKI Jakarta Dilanda Hujan Disertai Petir

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media