Minggu, 1 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Solusi Palsu Krisis Iklim Membuat Beban Perempuan Kian Berat

Perempuan menjadi yang paling banyak terdampak perubahan iklim. Terlebih pemerintah menerapkan solusi palsu.

Selasa, 14 Maret 2023
A A
Aksi aksi Pedal untuk Rakyat dan Planet 2023.Foto istimewa.

Aksi aksi Pedal untuk Rakyat dan Planet 2023.Foto istimewa.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Perempuan di Asia melakukan aksi Pedal untuk Rakyat dan Planet (Women Pedal for People and Planet) sebagai bentuk perlawanan terhadap krisis iklim yang berdampak pada kehidupan manusia dan ekologi. Aksi tersebut untuk menguatkan kesadaran publik terkait perubahan iklim, termasuk kaitan dengan pangan dan energi dengan melihat peran perempuan yang berjuang untuk keadilan iklim.

Aksi mengayuh itu digelar serentak di enam negara, yaitu Indonesia, India, Pakistan, Nepal, Vietnam dan Filipina pada 12 Maret 2023 dalam momentum Bulan Perempuan Sedunia (International Women’s Month).

“Climate change is causing a food crisis in many parts of the world, especially rural communities, because frequent and more intense climate change-induced droughts, heat waves or flooding are destroying crops and livelihoods. Women bear the brunt of these climate shocks because women provide food for the family and many women depend on natural resources for livelihood. We need urgent actions to strengthen food systems that address women’s social and economic needs,” papar Koordinator Asian Peoples’ Movement on Debt and Development (APMDD), Lidy Nacpil.

Baca Juga: Awan Panas Merapi Masih Fluktuatif, Tak Pengaruhi Kenaikan Suhu di DIY

Pernyataan tersebut dikuatkan berbagai penelitian mengungkapkan perempuan di dunia mengalami dampak lebih buruk akibat perubahan iklim. Beban perempuan kian berat karena peran domestik yang dilekatkan kepadanya yang turut menyebabkan perempuan lekat dengan alam serta memiliki pengetahuan dan pengalaman khas.

Dampak Solusi Palsu

Tak hanya terdampak krisis iklim, perempuan juga terdampak berbagai proyek yang mengatasnamakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Indonesia menjadi salah satu negara yang kerap memproduksi solusi palsu di berbagai sektor, tak terkecuali sektor energi.

Mereka menemukan berbagai masalah di Banten dimana pembangkit listrik bertenaga batu bara berpotensi menghilangkan pantai tempat para perempuan mencari nafkah sebagai pedagang. Penurunan kualitas udara dan gangguan kesehatan akibat pembangunan dan operasi di sekitar PLTU tersebut menyebabkan anak-anak yang tinggal di sekitar area tersebut menderita penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut).

Baca Juga: Korban Longsor Natuna 46 Orang, Longsor di Lampung 2 Orang Tewas

“Tentu berdampak terhadap ibu-ibu penderita. Proyek energi yang berjalan saat ini secara terang memberikan dampak negatif signifikan,” kata Maulida Rahma dari Trend Asia.

Alih-alih memperbaiki sistem energi di Indonesia, pemerintah justru memberikan solusi palsu. Seperti co-firing biomassa yang berdampak kemunculan hutan tanaman energi (HTE) yang merenggut tempat perempuan Mentawai berkebun dan mencari kayu bakar.

Perbaikan di sistem energi tidak cukup sekadar mengubah sumber energi. Sebut saja PLTA Poso yang diresmikan pada Februari 2022 lalu. Proyek ini digadang menjadi proyek energi bersih. Padahal PLTA Poso I dan II telah berdampak masif kepada kehidupan perempuan. Tidak hanya merendam lahan pertanian produktif warga yang menyebabkan gagal panen, pembangunan pembangkit listrik tersebut juga telah menghilangkan spesies ikan.

Baca Juga: Antisipasi Awan Panas Susulan, Wisata Alam Merapi Tutup Sementara

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Aksi Pedal untuk Rakyat dan Planetbeban perempuanInternational Women’s MonthKrisis Iklimperubahan iklimSolusi Palsu Krisis IklimWomen Pedal for People and Planet

Editor

Next Post
Gempa dangkal darat kembali guncang wilayah Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara pada Rabu, 15 Maret 2023 dengan magnitudo 3,1. Foto tangkap layar Google Earth pusat gempa berdasarkan koordinat episentrum gempa dari BMKG.

Gempa Dangkal Darat Kembali Guncang Tarutung

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi mekanisme terbentuknya bencana longsoran di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Ilustrasi Imam Achmad Sadisun/ITB.Begini Mekanisme Aliran Lumpur Saat Longsor Bandung Barat
    In IPTEK
    Jumat, 30 Januari 2026
  • Tiga petani di Pino Raya di Bengkulu Selatan dikriminalisasi. Foto Dok. Walhi.Petani Korban Penembakan di Pino Raya Dikriminalisasi
    In News
    Kamis, 29 Januari 2026
  • Kawasan Kabupaten Bandung Barat yang terdampak longsor. Foto KLH/BPLH.Longsor Bandung Barat, KLH Sebut Ada Kerapuhan pada Struktur Tutupan Lahan
    In Lingkungan
    Kamis, 29 Januari 2026
  • Pakar Gempa Bumi UGM, Gayatri Indah Marliyani. Foto researchgate.net.Gayatri Marliyani, Kemungkinan Aktivitas Sesar Opak Akibat Tekanan dari Gempa Pacitan
    In Sosok
    Rabu, 28 Januari 2026
  • Proses operasi modifikasi cuaca (OMC). Foto Dok. BMKG.BMKG Bantah Operasi Modifikasi Cuaca Jadi Pemicu Ketidakstabilan Cuaca
    In News
    Rabu, 28 Januari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media