Senin, 14 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Gayatri Marliyani, Kemungkinan Aktivitas Sesar Opak Akibat Tekanan dari Gempa Pacitan

Kejadian gempa beruntun pada 27 Januari 2026 dapat dijadikan pengingat bahwa kita berada di area tektonik aktif.

Rabu, 28 Januari 2026
A A
Pakar Gempa Bumi UGM, Gayatri Indah Marliyani. Foto researchgate.net.

Pakar Gempa Bumi UGM, Gayatri Indah Marliyani. Foto researchgate.net.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Kejadian gempa bumi mengguncang sejumlah wilayah di selatan Pulau Jawa, Selasa, 27 Januari 2026. Gempa bermagnitudo 5,7 terjadi pukul 08.20 WIB dengan pusat gempa sekitar 24 kilometer arah tenggara Pacitan, Jawa Timur dengan kedalaman 122 kilometer. Beberapa jam setelahnya, tepatnya sekitar pukul 13.15 WIB, gempa bumi kembali terjadi dengan magnitudo 4,4 dengan pusat gempa berada di timur laut Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Pusat gempa tersebut tergolong dangkal, sehingga getarannya dapat dirasakan jelas oleh masyarakat,” kata Pakar Gempa Bumi dari Teknik Geologi UGM, Gayatri Indah Marliyani, Rabu, 28 Januari 2026.

Gempa bumi yang terjadi di Pacitan dapat dikategorikan gempa intraslab. Sebab sumber gempa berasal dari dalam lempeng samudra yang tersubduksi atau dikenal sebagai slab.

Deformasi terjadi apabila lempeng terus didorong ke dalam, sehingga lempeng dapat terus berubah bentuk dan bergeser. Perubahan dan pergeseran lempeng tersebut menyebabkan terjadinya gempa bumi.

Baca juga: BMKG Bantah Operasi Modifikasi Cuaca Jadi Pemicu Ketidakstabilan Cuaca

Soal kekuatan magnitudo dan karakter pada sumber gempa yang berbeda dari kedua kejadian tersebut menimbulkan ada perbedaan efek yang dapat jelas dirasakan masyarakat. Gempa yang terjadi pada pagi hari cenderung terasa seperti gerakan mengayun, sedangkan gempa berikutnya terasa seperti sentakan.

Perbedaan efek yang dirasakan masyarakat dipengaruhi lokasi terjadinya gempa. Kekuatan magnitude yang besar dan pergerakannya yang vertikal membuat gelombangnya naik ke atas, sehingga dampaknya meluas.

Sementara kejadian gempa kedua di DIY terjadi di zona sesar aktif, Sesar Opak. Meski sumber pusat gempa berbeda, ada kemungkinan gempa kedua terjadi akibat ada pasokan tekanan yang diberikan gempa pertama.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Gayatri Indah MarliyaniGempa PacitanJurusan Teknik Geologi UGMPakar Gempa BumiSesar Opak

Editor

Next Post
Kawasan Kabupaten Bandung Barat yang terdampak longsor. Foto KLH/BPLH.

Longsor Bandung Barat, KLH Sebut Ada Kerapuhan pada Struktur Tutupan Lahan

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media