Baca juga: Aliansi Meratus Menduga Usulan Taman Nasional Kedok Perampasan Tanah Adat
Tentunya diiringi pengkajian holistik dengan sinergi program pemerintah lain, seperti transmigrasi, perhutanan sosial, dan pengelolaan hutan adat yang dikoneksikan secara kuat dengan upaya kemandirian ekonomi.
“Intinya, basis masyarakat digerakan sepenuhnya dengan nilai-nilai luhur dan bergotong royong. Sehingga masyarakat kuat dan kokoh pilar-pilar kehidupannya, biar tidak mudah digerakkan dengan iming-iming pendapatan yang instan dan merugikan jangka panjangnya,” papar dia.
OMC tahap tiga di Riau
Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan bersama BMKG, BNPB, BPBD Provinsi Riau, dan TNI AU resmi membuka
Baca juga: Indonesia Minta Perjanjian Plastik Global Tercapai Tanpa Penundaan
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tahap ketiga di Provinsi Riau menjadi langkah strategis dalam masa perpanjangan Tanggap Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) yang telah ditetapkan pemerintah di sana. Operasi ini dilaksanakan selama 10 hari ke depan dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Kehutanan.
Pemerintah Provinsi Riau sebelumnya telah menetapkan status tanggap darurat bencana karhutla sejak 22 Juli hingga 4 Agustus 2025 melalui Keputusan Gubernur Riau Nomor 682 Tahun 2025. Berdasarkan evaluasi Satgas Bencana, status tersebut diperpanjang untuk pertama kalinya selama dua minggu. Menyikapi hal ini, langkah penanggulangan diperkuat, baik melalui operasi pemadaman darat oleh Manggala Agni Kemenhut bersama Satgas Pengendalian Karhutla Provinsi Riau, serta operasi udara meliputi patroli udara, water bombing, dan OMC.
Dirjen Gakkum Kehutanan Kementerian kehutanan, Dwi Januanto Nugroho menyampaikan bahwa pelaksanaan OMC merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah dalam mengantisipasi dan menanggulangi karhutla.
Baca juga: SOP Diperketat, Pendakian Gunung Rinjani Hanya untuk Pendaki Berpengalaman
“Kegiatan ini terlaksana berkat kerja sama antara Kementerian Kehutanan dan BMKG, serta dukungan penuh dari BNPB, BPBD, dan TNI AU,” ujarnya dalam pembukaan kegiatan OMC di Pekanbaru, Riau, Senin, 11 Agustus 2025.
Kementerian Kehutanan mencatat, sepanjang Juli 2025 terjadi 142 kejadian karhutla di Riau dengan perkiraan luas 1.768,01 hektare. Sementara hingga 9 Agustus 2025, terdapat tambahan 93 kejadian dengan luas sekitar 1.150,60 hektare. Saat ini pasukan Manggala Agni Kemenhut dilaporkan masih melakukan operasi pemadaman dan pendinginan (mopping up) di kabupaten Indragiri Hilir dan Rokan Hilir.
Tahap pertama OMC telah dilaksanakan pada 2–12 Mei 2025, kemudian tahap kedua pada 21 Juli–9 Agustus 2025 dengan dukungan pendanaan dari BNPB. Berdasarkan pantauan curah hujan, pada periode tersebut Kabupaten Rokan Hilir mengalami hujan 5 hari, dan Kabupaten Rokan Hulu 8 hari. Kegiatan tahap ketiga OMC akan berlangsung selama 10 hari didukung pendanaan dari Kementerian Kehutanan, melalui Ditjen Penegakan Hukum Kehutanan.
Menurut Dwi Januanto Nugroho, OMC adalah bagian dari inovasi pencegahan permanen karhutla yang sudah dijalankan sejak 2015. Teknologi ini diyakini mampu menurunkan luas karhutla hingga 77 persen pada 2024 dibandingkan baseline 2019. OMC berperan penting membasahi lahan gambut yang kering agar tinggi muka air tanah tetap terjaga dan Kawasan Hidrologis Gambut tetap basah. [WLC02]







Discussion about this post